MOJOK.COMenkopolhukam, Mahfud MD, sudah menerima salinan surat pencekalan Habib Rizieq oleh otoritas Pemerintah Arab Saudi. Ternyata hasilnya…

Kisruh soal kepulangan Habib Rizieq Shihab pelan-pelan mulai terbongkar. Setelah sebelumnya mengaku dicekal di Saudi karena ada permintaan dari Pemerintah Indonesia, Mahfud MD, selaku Menkopolhukam, mengemukakan bahwa tudingan itu tidak tepat.

Habib Rizieq sempat menunjukkan dua salinan surat yang membuatnya dilarang keluar dari negara Arab Saudi melalui sebuah video. Dalam keterangannya pula disebutkan bahwa dirinya tidak mungkin dicekal oleh Pemerintah Arab Saudi kalau tidak ada permintaan dari Pemerintah Indonesia.

“Jadi kedua surat ini merupakan bukti nyata, riil otentik, kalau saya memang dicekal oleh Pemerintah Saudi atas permintaan Pemerintah Indonesia,” kata Habib Rizieq saat itu.

Mahfud MD langsung meminta salinan surat tersebut. Sugito Atmo Pawiro, pengacara Habib Rizieq pun akhirnya memberi salinan surat pencekalan yang dituding berasal dari permintaan Pemerintah Indonesia itu.

“Itu yang dikirim ke saya itu bukan surat pencekalan (dari Pemerintah RI). Bukan alasan pencekalan, tapi surat dari imigrasi Arab Saudi bahwa Habib Rizieq nomor paspor sekian dilarang keluar Arab Saudi karena alasan keamanan,” kata Mahfud MD.

Artinya, masih menurut Mahfud MD, persoalannya jelas-jelas bukan persoalan antara Pemerintah Indonesia dengan Imam Besar FPI ini, melainkan murni persoalan yang bersangkutan dengan Pemerintah Arab Saudi.

Bahkan Mahfud MD menilai hal begitu sebaiknya diselesaikan secara personal saja.

“Yang gitu-gitu ndak bisa dijadikan alat untuk nego bagi pemerintah kita. Yang harus nego dia sendiri kalau surat seperti itu,” katanya.

Perlu diketahui, Habib Rizieq sebenarnya sudah akan pulang ke Indonesia dari tanggal 8 Juli 2018, 12 Juli 2018, sampai 19 Juli 2018. Masalahnya kemudian ketiga upaya itu dilarang oleh Arab Saudi. Sampai kemudian visa habis pada tanggal 20 Juli 2018. Status overstay pun akhirnya berlaku sampai sekarang.

Denda overstay ini pun dihitung-hitung sudah mencapai Rp110 juta per orang. Denda itu seharusnya bukan masalah besar. Soalnya, kesannya kayak meremehkan kemampuan finansial Habib Rizieq kalau pencekalan ini urusannya cuma soal denda overstay.

Bahkan Mahfud MD menyatakan siap membantu jika memang urusan pencekalan ini benar-benar soal denda semata.

Baca juga:  Front Pembela Islam itu Umat Nabi Muhammad atau Bukan, sih?

“Kalau perlu uang, saya pribadi bantu kalau cuma Rp110 juta,” kata Mahfud MD.

Tentu saja menarik membaca kemungkinan kenapa Habib Rizieq tak juga boleh keluar dari Saudi. Ucapan Mahfud MD pun sejatinya seperti sarkas saja, bahwa tidak mungkin beliau tak bisa pulang karena persoalan denda overstay semata.

Di sisi lain, kalau melihat kasus beliau di Indonesia yang sudah di-“putih”-kan, tentu jadi pertanyaan, kenapa Arab Saudi mencekal seseorang kalau orang itu tidak bersalah? Nah, berikut ini kami mencoba memaparkan tiga kemungkinan lain kenapa Saudi merasa perlu melakukan pencekalan ini.

Terlalu disayang Pemerintah Arab Saudi

Sebagai salah satu tokoh agama yang mampu mengumpulkan massa sampai berjuta-juta, tentu kemampuan Habib Rizieq tak bisa dipandang remeh. Terutama oleh negara Islam seperti Arab Saudi.

Lha gimana? kalau menghitung dari aksi 212 (7 juta orang) sampai Reuni 212 (8 juta orang), ini jelas jumlah jamaah yang luar biasa besar. Dan patut disorot oleh negeri seperti Arab Saudi.

Sebab, pada saat yang sama jumlah total jamaah haji yang wukuf di Arafah (total) pada 2019 ini saja cuma ada 2,5 juta doang. Artinya, dibandingkan jumlah jamaah haji, jumlah massa yang pernah dikumpulkan pada 212 dan Reuni 212 hampir tiga kali lipat lebih banyak.

Punya reputasi dan kemampuan hebat seperti itu, tentu Pemerintah Arab Saudi tidak mau begitu saja kehilangan sosok yang punya kemampuan mengumpulkan massa. Bayangkan, memanajemen berjuta-juta manusia saja bisa, apalagi cuma mengkoordinir jamaah haji yang “cuma” 2,5 juta itu?

Makanya wajar kalau Arab Saudi begitu sayang dengan beliau, karena Habib Rizieq adalah investasi berharga bagi mereka.

Pemerintah Arab Saudi khawatir Imam Besar FPI diapa-apain di Indonesia

Alasan Habib Rizieq dicekal keluar dari Saudi adalah karena “alasan keamanan”. Bagi Pemerintah Indonesia, diksi ini berarti kalau Habib Rizieq punya masalah keamanan dengan Arab Saudi. Padahal, bukan tidak mungkin maksud dari “alasan keamanan” adalah wujud kekhawatiran Pemerintahan Saudi.

Baca juga:  “Pencekalan” Menjadi Sebab Habib Rizieq Shihab Tidak Bisa Pulang ke Indonesia

Jadi gini.

Arab Saudi sebenarnya merasa khawatir dengan keamanan Habib Rizieq kalau dibiarkan balik ke negaranya. Meskipun sudah ada SP3 dari Kepolisian soal kasus-kasus terduhulu, bukan tidak mungkin Habib Rizieq kembali dikriminalisasi oleh Pemerintah Indonesia kalau balik ke negaranya.

Ketimbang jadi pesakitan di negara sendiri, makanya Pemerintah Arab Saudi memilih mencekal Habib Rizieq. Jadi pencekalan ini sebenarnya hanya upaya melindungi saja. Hm, benar-benar mulia sekali.

Arab Saudi Sedang Perlu FPI Cabang Jeddah

Pada Juni 2019, untuk kali pertama kelab malam “halal” di Arab Saudi dibuka. Berada di lokasi tepi pantai Jeddah, pembukaan kelab malam ini jelas memicu kontroversi. Hal ini merupakan salah satu wujud revolusi yang dilakukan putra mahkota, Mohammed bin Salman dalam memodernisasi Arab Saudi.

Meski begitu, tak semua pejabat Pemerintah Arab Saudi setuju dengan revolusi Mohammed bin Salman ini.  Setidaknya kelab malam “halal” ini akhirnya dibubarkan oleh pejabat terkait setelah sempat dibuka beberapa hari. Bahkan otoritas hiburan umum di Saudi pun membantah telah memberi izin kelab malam “halal” tersebut.

Dibukanya peluang kemaksiatan oleh Pangeran Mohammed bin Salman di tanah suci Arab Saudi tentu jadi persoalan serius. Bagi pihak yang tak sepakat dengan upaya modernisasi Saudi, mereka tentu membutuhkan sosok seperti Habib Rizieq.

Maklum, Habib Rizieq punya reputasi mentereng soal memerangi kemaksiatan di Indonesia bersama dengan ormas FPI. Bisa jadi kemampuan membentuk ormas ini sedang dibutuhkan Arab Saudi.

Maka tak perlu terkejut jika beberapa waktu ke depan tiba-tiba ada FPI cabang Jeddah atau Riyadh. NU aja punya cabang di Amerika sampai Australia, masa FPI nggak boleh punya cabang di Arab?

BACA JUGA HABIB RIZIEQ DICEKAL SAUDI, KOK PEMERINTAH INDONESIA YANG KUDU TANGGUNG JAWAB? atau tulisan Ahmad Khadafi lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles