MOJOK.COSurat terbuka untuk Puan Maharani yang lagi jaga jarak dengan kader PDIP paling moncer dalam 2-3 tahun ke belakang; Ganjar Pranowo.

Halo Mbak Puan Maharani. Gimana kabarnya? Sehat kan? Ibu gimana? Semoga seluruh keluarga tetep bahagia ya Mbak ya. Amin.

Seru sekali ya Mbak Puan, PDIP belakangan ini lagi jadi trending di mana-mana gara-gara Pak Ganjar Pranowo sengaja nggak diundang di acara pengarahan kader PDIP di Jawa Tengah.

Bahkan Ketua DPD PDIP Jateng, Bambang Wuryanto, sampai negur galak banget.

“Tidak diundang! (Ganjar) wis kemajon (kelewatan). Yen kowe pinter, aja keminter (kalau kamu pintar, jangan bersikap sok pintar),” kata Pak Bambang Wuryanto. Hiii, serem yak.

Iya, Mbak Puan Maharani, iya, dalam kacamata politik, kader yang kelewat populer ketimbang petinggi partai itu emang rada ngeselin sih.

Ya kayak Pak Ganjar itu. Cuma petugas partai kok elektabilitasnya ngidap-idapi tanpa ada rekomendasi petinggi partai. Kalau masih keluarganya Pak Jokowi sih nggak apa-apa, lah kalau bukan ya jangan. Enak aja.

Masalahnya, Mbak Puan jangan lupa, kalau mekanisme jadi RI-1 itu nggak cuma soal popularitas dan elektabilitas, tapi perasaan dikasihani. Atau bahasa kerennya “playing victim”. Di Indonesia, yang begitu-begituan manjur sekali.

Dalam lingkup politik Indonesia dalam dua dekade ini, semua mengarah ke situ kok Mbak Puan. Siapa yang paling terzalimi, justru ia yang moncer.

Nggak percaya? Ayo deh, saya ajak ke kasus-kasus terdahulu.

Mbak Puan Maharani ingat dong dengan kasus Pak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 2003 silam, saat itu Pak SBY menjabat sebagai Menko Polkam.

Pada periode tersebut, Pak SBY digadang-gadang akan maju capres.

Dalam buku Dari Soekarno sampai SBY Intrik & Lobi Politik Para Penguasa (2013) karya Prof. Tjipta Lesmana, disebutkan kalau Pak SBY udah sering nongol di tipi pada 2003 untuk sosialisasi Pemilu 2004.

Karena banyak yang protes, akhirnya KPU menurunkan iklan layanan masyarakat itu, PDIP waktu itu merasa ada ambisi terselubung dari Pak SBY buat nyapres untuk 2004.

Sejak saat itu, SBY pun jadi dikucilkan dari pergaulan Pejabat Tinggi Negara. Bahkan almarhum Taufik Kiemas sempat menyebut, “Jenderal kok kayak anak kecil.”

Sejak saat itu hubungan SBY dengan Mega memburuk. Sampai akhirnya SBY memilih mengundurkan diri dari Menko Polkam pada 11 Maret 2004.

Wacana “dizalimi” Presiden Megawati ini harus diakui jadi salah satu bahan kampanye SBY di akar rumput. Apalagi Pak SBY ini emang kharismanya teduh dan melas.

Akhirnya Mbak Puan tahu ceritanya, Pak SBY jadi presiden sampai dua periode. Ngalah-ngalahi Bu Megawati lho, Mbak.

Lanjut ke 2012, Mbak Puan Maharani juga tahu bagaimana duet Jokowi-Ahok di Pilgub DKI Jakarta sempat jadi wacana bulian nasional.

Pak Jokowi dianggap sebagai pemimpin “ndeso”, Ahok sebagai minoritas. Sudah begitu, tone negatif sudah muncul di Jakarta akan keduanya pada 2012 itu.

Lagi dan lagi. Wacana melas malah jadi salah satu senjata keduanya menang mutlak mengalahkan Pak Fauzi Bowo, sang petahana.

Cerita ini berlanjut lagi sampai Jokowi maju ketika Pilpres 2014. Wacana sebagai pihak yang terzalimi, terutama oleh gelombang ormas-ormas Islam yang galak pada era itu, justru jadi “senjata” sampai bikin Jokowi naik satu tingkat ke RI-1.

Kalau toh ada anomali, itu pun hanya terjadi pada Ahok pada Pilgub DKI Jakarta 2017. Itu pun jelas karena “syarat dan ketentuan berlaku”-nya Ahok emang nggak punya, yakni: agamanya nggak Islam.

Nah, lanjut ke situasi sekarang. Satu-satunya sosok yang elektabilitasnya lebih baik dari Pak Ganjar Pranowo itu cuma Pak Anies Baswedan lho, Mbak Puan.

Pak Anies ini harus diakui jadi langganan dibuli di mana-mana. Di medsos, di media-media nasional, sampai di gosip-gosip akar rumput. Semua kayak suka curiga, galak, dan ketus sama Pak Anies.

Anehnya, justru karena keadaannya diejek sana-sini, kesannya beliau itu jadi melas, belakangan ini malah banyak orang yang bersimpati pada Pak Anies.

Nyatanya, elektabilitas Pak Anies lebih tinggi dari Pak Prabowo Subianto, sosok yang sudah pengalaman nyapres berkali-kali dan bahkan sudah merapat ke pemerintah.

Oleh sebab itu, Mbak Puan. Ketika sampean menegur Pak Ganjar Pranowo secara terbuka begitu, dengan bilang, “Pemimpin menurut saya, itu adalah pemimpin yang memang ada di lapangan dan bukan di sosmed,” sebenarnya itu rada ndak mashoook sih.

Bukan karena sampean nggak lebih baik dari Pak Ganjar Pranowo lho, Mbak, tapi ini lebih karena sampean membuat posisi Pak Ganjar jadi lebih gampang mendapat simpati dari masyarakat. Orang jadi lihat Pak Ganjar kasihan gitu, Mbak.

Dan itu malah bisa jadi blunder buat sampean kalau sampean beneran mau nyapres buat 2024 nanti. Tapi kalau nggak niat nyapres sih nggak apa-apa.

Soalnya gini, Mbak Puan Maharani, orang-orang kayak sampean itu agak sulit jadi presiden bukan karena pernah matiin mic ketika rapat atau terkesan nggak ngapa-ngapain ketika jadi Menteri Sosial, tapi karena nggak ada masyarakat yang simpati sama sampean.

Lah gimana, masyarakat itu kan butuh punya rasa keterwakilan dari pemimpinnya. Nah kebetulan, sebagian masyarakat yang merasa dizalimi oleh pemerintahan sendiri itu punya kecenderungan untuk memilih orang yang sama-sama terzalimi. Anu, rasanya jadi kayak satu frekuensi gitu lho, Mbak. Senasib, sepenanggungan.

Wajar kalau akhirnya rakyat kita suka milih pemimpin yang dikesankan sedang “dizalimi”, bukan malah pemimpin yang kesannya “menzalimi”.

Oleh karena itu, Mbak, kalau Mbak Puan memang berambisi jadi RI-1 atau RI-2 ke depannya, pesan saya cuma satu. Tolong segera playing victim sejak sekarang. Buatlah skenario seolah-olah sampean dizalimi.

Insya Allah itu lebih gampang menarik simpati, ketimbang mengupayakan bikin-bikin track record yang menarik. Rakyat nggak butuh rasionalisasi, rakyat itu butuhnya yang cocok dikasih simpati. Hambok yaqin.

Cuma masalahnya satu aja sih, Mbak: emang siapa di negeri ini yang berani menzalimi seorang putri Megawati?

BACA JUGA Tamatkah Karier Politik Ganjar? dan tulisan rubrik POJOKAN lainnya.