Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Apa Harus Jadi Pejabat Kayak Fadli Zon Dulu, Biar Kritik ke Pemerintah Bisa Diakui?

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
14 Agustus 2020
A A
Apa Harus Jadi Pejabat Kayak Fadli Zon Dulu, Biar Kritik ke Pemerintah Bisa Diakui?

Apa Harus Jadi Pejabat Kayak Fadli Zon Dulu, Biar Kritik ke Pemerintah Bisa Diakui?

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Pemerintah seolah pilih-pilih dalam mengakui kritik. Untuk Fadli Zon dan Fahri Hamzah oke, karena politisi berpengaruh. Untuk rakyat jelata?

Bersama Fahri Hamzah, Fadli Zon barangkali sempat tak menyangka bahwa kritik pedasnya selama ini justru diganjar tanda kehormatan Bintang Mahaputera Naraya dari Presiden Jokowi. Yah, meski banyak yang sungujon kalau penghargaan ini diberikan semata-mata agar kritik Fadli Zon sedikit lebih kalem.

“Berarti kritik itu diakui Pemerintah, makanya kalau mau banyak penghargaan banyak-banyaklah kritik,” kata Fadli Zon santai.

(((banyak-banyaklah kritik)))

…

…

Hm, oke.

Bahkan Fadli Zon menganggap penghargaan ini merupakan bukti bahwa pemerintah mengakui kritik dari rakyat.

“Ini pengakuan dari suara rakyat, jadi penghargaan ini untuk rakyat, tidak bisa dilepaskan hanya untuk pribadi,” kata Fadli yang tampak lebih normatif bijak dari biasanya.

Melihat hal itu, tentu muncul perasaan aneh karena pemerintah seolah pilih-pilih dalam mengakui kritik. Untuk kritik dari Fadli Zon dan Fahri Hamzah oke-oke aja. Karena mereka politisi. Tapi untuk rakyat biasa? Adakah pengakuan kritik itu? Nggak usah melulu ngomong direspons deh, diakui keberadaannya aja dulu deh.

Kita bisa menghamparkan beberapa keputusan pemerintah yang bikin sakit hati rakyat, tapi tak pernah ditanggapi—bahkan cenderung diremehkan. Syedih memang kalau jadi rakyat jelata begini, nggak kayak kritik Fadli Zon yang meski nggak diturutin juga—tapi paling tidak diakui keberadaannya.

Iri bilang, Bos.

Ya emang, kita emang iri.

Gini deh, kita ambil contoh kritik soal RUU KPK yang bikin KPK jadi macan ompong kayak sekarang. Hampir seluruh kota besar di Indonesia dipenuhi lautan demonstrasi. Tapi apakah pemerintah mengakui kritik yang datang bergelombang dengan genuine itu?

Iklan

Oh, tidak.

Direspons sih iya, dalam bentuk counter argumentasi, tapi diakui kayak kritik Fadli Zon? Pfft. Ngimpi.

Belum dengan gelombang protes soal Omnibus Law yang cenderung menguntungkan pengusaha-pengusaha dan merugikan para pekerja. Hak-hak pekerja dikurangi bersamaan dengan kewajiban-kewajiban perusahaan yang dipangkas.

Apakah protes para buruh didengar? Nggak, Bwos. Karena RUU Cipta Kerja ini melunakkan investasi, tapi mengebiri buruh di negeri sendiri. Negara Kesatuan Republik Investasi sih, mau bagaimana lagi?

Kritik-kritik ini benar-benar mental di telinga pemerintah. Bukan masuk telinga kiri keluar telinga kanan, tapi bener-bener nggak kedengaran. Karena yang ngritik, tidak punya value politik yang besar. Ibarat diturutin atau nggak diturutin, pemerintah toh bisa jalan terus. Kalau ada yang ngeyel ya tangkapi aja beres. Ada UU ITE ini kok.

Nggak usah terlalu jauh-jauh deh, kita bisa melihat bagaimana sentilan soal corona di awal tahun yang terbukti pemerintah kelabakan karena terlalu meremehkan ketika sebagian rakyat sudah koar-koar soal bahayanya. Ketika itu terjadi, malah sempat dituduh sebar fitnah sampai disebut “binatang” lagi.

Kayak twit di bawah ini misalnya.

Banyak daerah wisata di Indo, sepi turis kena dampak Corona. Ekonomi anjlok, ribuan orang hilang pendapatan.@jokowi kucurkan ratusan M rupiah utk diskon tiket & byr influencer luar spy terus promo wisata.

Eh, ada org dgn teganya sibuk sebarkan isu Corona. Itu jelas2 binatang.

— Denny siregar (@Dennysiregar7) March 2, 2020

Lantas ketika pandemi kejadian betulan, tak ada satupun pengakuan dari pemerintah bahwa mereka salah. Jangankan minta maaf secara terbuka, mengakui kritik masyarakat soal kelengahan pemerintah aja kagak lho. Malah dibercandain lagi kritiknya. Ealah.

Sama seperti gelombang protes soal RUU KPK tadi, yang pada kenyataannya bikin KPK lemah syahwat kayak sekarang. Mana itu klaim Arteria Dahlan, anggota DPR RI dari fraksi PDIP, yang ngotot UU KPK yang baru memperkuat? Memperkuat ndasmu, nangkep selevel Harun Masiku aja rumitnya kayak mau nangkap Edi Tansil.

Udah terbukti UU ini melemahkan, masih aja tak ada pengakuan dari pemerintah bahwa gelombang protes dari mahasiswa dan elemen masyarakat soal UU KPK itu benar adanya.

Yang ada justru orang-orang macam ini ditangkapi, kadang dipersekusi, atau minimal disebut sebagai kadrun. Beda jauh dengan nasib kritik Fadli Zon yang diundang ke istana dan dihargai begitu besarnya.

Dandhy Dwi Laksono ditahan karena mengabarkan rusuh di Papua, Ananda Badudu ditahan karena berpartisipasi dalam aksi menentang UU KPK yang baru, belum dengan nama kurang terkenal macam Faisol Abod Batis yang ditangkap karena memaparkan data konflik agraria sepanjang pemerintahan Jokowi.

Hm, ngeri, Bung. Ngeri.

Meski begitu, tentu saja kita masih harus mengapresiasi langkah dari pemerintahan Presiden Jokowi yang terlihat sangat welcome dengan pihak yang sering mengkritik. Soal kenapa yang dapat penghargaan kok Fadli Zon, ya kan karena blio adalah “wakil rakyat”.

Jadi apapun yang baik-baik, sebaiknya memang diwakilkan saja. Baru deh kalau yang buruk-buruk nggak usah.

Biar rakyat sendiri yang merasakan. Bukankah begitu Pak Jokowi?

Apa jangan-jangan ini sentilan dari Pak Jokowi agar semua rakyat harus jadi pejabat kayak Fadli Zon dulu, baru kritiknya bisa diakui?

BACA JUGA Yang Hobi Nyinyir Jangan Khawatir, Fahri Hamzah dan Fadli Zon Aja Dapat Penghargaan atau tulisan POJOKAN lainnya.

Terakhir diperbarui pada 14 Agustus 2020 oleh

Tags: Fadli ZonFahri HamzahjokowiKPK
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan Wali Kota Agustina Wilujeng ajak anak muda mengenal sejarah Kota Semarang lewat kartu pos MOJOK.CO
Kilas

Kartu Pos Sejak 1890-an Jadi Saksi Sejarah Perjalanan Kota Semarang

20 Desember 2025
Gedung Sarekat Islam, saksi sejarah dan merwah Semarang sebagai Kota Pergerakan MOJOK.CO
Kilas

Upaya Merawat Gedung Sarekat Islam Semarang: Saksi Sejarah & Simbol Marwah yang bakal Jadi Ruang Publik

20 Desember 2025
Kereta Cepat Whoosh DOSA Jokowi Paling Besar Tak Termaafkan MOJOK.CO
Esai

Whoosh Adalah Proyek Kereta Cepat yang Sudah Busuk Sebelum Mulai, Jadi Dosa Besar Jokowi yang Tidak Bisa Saya Maafkan

17 Oktober 2025
Pacu Jalur Direcoki Pemerintah Jadi Cringe dan Nggak Seru Lagi MOJOK.CO
Esai

Saat Negara Turut Campur Aura Farming Pacu Jalur, Semua Jadi Terasa Cringe dan Nggak Seru Lagi

14 Juli 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sewakan kos bebas ke teman sesama mahasiswa Malang yang ingin enak-enak tapi tak punya modal MOJOK.CO

Mahasiswa Malang Sewakan Kos ke Teman buat Mesum Tanpa Modal, Dibayar Sebungkus Rokok dan Jaga Citra Alim

14 Januari 2026
franz kafka, pekerja urban, serangga.MOJOK.CO

Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya

15 Januari 2026
Mitsubishi L300: Simbol Maskulinitas, Pemutar Ekonomi Bangsa MOJOK.CO

Mitsubishi L300: Simbol Maskulinitas Abadi yang Menolak Fitur Keselamatan demi Memutar Ekonomi Bangsa

13 Januari 2026
Luka perempuan pekerja Surabaya, jadi tulang punggung keluarga gara-gara punya kakak laki-laki tak guna MOJOK.CO

Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna

17 Januari 2026
Film Semi Jepang Bantu Mahasiswa Culun Lulus dan Kerja di LN (Unsplash)

Berkat Film Semi Jepang, Mahasiswa Culun nan Pemalas Bisa Lulus Kuliah dan Nggak Jadi Beban Keluarga

14 Januari 2026
Momen haru saat pengukuhan Zainal Arifin Mochtar (Uceng) sebagai Guru Besar di Balai Senat UGM MOJOK.CO

Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri

16 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.