Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Khotbah

Dia Murtad karena Kamu Kira Ibadah Hanya Ada di dalam Masjid

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
19 Juli 2019
A A
Dia Murtad karena Kamu Kira Ibadah Hanya Ada di dalam Masjid
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kiai Kholil marah ketika tahu ada masjid megah tapi tidak menghidupi masyarakat sekitarnya. Apalagi sampai ada yang murtad pula.

Usai Kiai Kholil selesai mengisi pengajian peresmian masjid baru yang cukup megah, ada jamaah yang ingin mengajak ngobrol. Kiai Kholil sebenarnya sudah cukup lelah. Ingin rasanya segera pulang, tapi mengingat tempat pengajian begitu jauh dari kota tempat tinggal Kiai Kholil, sekitar 3 jam kalau naik mobil, Kiai Kholi berpikir, tak apalah meladeni beberapa jamaah yang kepingin ketemu. Toh, nanti bisa tidur di mobil.

Tak disangka, yang mendatangi Kiai Kholil pertama adalah Ketua RT. Setelah basa-basi memperkenalkan diri, Pak RT ini menyampaikan uneg-uneg di kampungnya.

“Begini, Pak Kiai, di kampung kami ada orang yang murtad. Pindah agama. Keluar dari Islam. Padahal dulu orangnya kadang salat ke masjid juga. Eh nggak disangka murtad dia,” kata Ketua RT.

Kiai Kholil agak terkejut sebenarnya. Bukan apa-apa, sebelum mau pulang Kiai Kholil ingin ngobrol santai-santai saja. Tapi siapa sangka, topik yang dibicarakan malah berat sekali. Perkara pindah agama. Perkara murtad. Wah, jadi makin nggak bisa istirahat ini.

Demi menjaga perasaan jamaahnya yang sowan, Kiai Kholil basa-basi. “Sudah lama pindah agamanya, Pak RT?”

“Ya udah tiga empat bulan ini. Alasannya pun sebenarnya nggak masuk akal, Pak Kiai,” kata Pak RT.

Kiai Kholil tiba-tiba terkekeh. Pak RT yang melihat Kiai Kholil terkekeh bingung.

“Kok tertawa Pak Kiai?”

“Maaf, Pak RT. Urusan iman itu justru malah seringnya nggak masuk akal kan ya?” tanya Kiai Kholil santai.

“Nah, itu maksud saya Pak Kiai. Murtadnya warga saya ini justru sangat masuk akal makanya jadi tidak masuk akal,” kata Pak RT.

Kiai Kholil bingung.

“Begini, Pak Kiai. Warga saya ini awalnya seorang muslim. Ya bukan muslim yang rajin-rajin amat lah. Lalu suatu ketika anaknya masuk rumah sakit. Habis berapa puluh juta gitu. Pokoknya mahal. Nggak bisa nebus. Tetangga-tetangganya nggak ada yang tahu awalnya, sampai kemudian tiba-tiba si anak yang sakit ini bisa ditebus. Tapi kemudian di rumahnya jadi sering kedatangan orang dari kampung lain. Lama-lama orang ini jadi nggak pernah ke masjid. Nggak pernah lagi ikut kepanitian-kepanitian Idul Fitri atau Idul Adha,” kata Pak RT.

“Terus dari mana kesimpulan Pak RT kalau orang itu pindah agama?” tanya Kiai Kholil.

Iklan

“Ya waktu orang ini mau ngurus KTP. Ya otomatis kan lewat saya dulu, Pak Kiai. Lalu saya tanya, ada urusan apa kok sampai mau urus KTP lagi. Ternyata kolom agamanya mau diganti. Ya jelas kaget dong saya, Pak Kiai,” kata Pak RT.

“Jadi Pak RT menduga, orang ini pindah agama karena ada faktor ekonomi mendesak begitu? Lalu karena tak ada pilihan lain jadi murtad gitu?” tebak Kiai Kholil.

“Nah, tepat Pak Kiai. Itu yang menurut saya tak masuk akal. Saya cuma heran aja, di zaman begini kenapa ada orang mau menggadaikan keimanannya demi segepok harta?” tanya Pak RT.

Kiai Kholil terdiam. Samar-samar terdengar istigfar dari mulutnya berulang kali. Pak RT agak lega, Kiai Kholil sepertinya memahami kegelisahannya.

“Pak RT, gara-gara cerita sampeyan itu, saya jadi menyesal mengiyakan ngisi pengajian peresmian masjid megah di kampung ini,” kata Kiai Kholil.

Mendengar itu, Pak RT terkejut.

“Ma, maksudnya Pak Kiai?” tanya Pak RT.

“Sampeyan itu bagaimana? Sudah tahu ada warga sampeyan sedang susah bukannya dibantu malah bangun masjid bagus-bagus,” tanya Kiai Kholil agak marah.

Pak RT agak kikuk.

“Ya, anu, Pak Kiai. Maaf, maaf, kami kan juga nggak tahu kalau orangnya sedang susah begitu. Kami tahunya ketika udah pindah agama. Kami kan nggak tahu Pak Kiai kalau dari perkara itu orangnya terus jadi pindah agama,” kata Pak RT.

“Saya itu marah bukan karena warga sampeyan ada yang pindah agama. Bukan, bukan itu. Itu biar urusan dia sama Tuhannya, yang jadi masalah itu sampeyan bangun masjid megah-megah sampai melupakan orang yang tinggal tak jauh dari masjid. Sampai nggak bisa nebus anaknya keluar dari rumah sakit segala,” kata Kiai Kholil.

“Tapi kas kampung kami juga nggak cukup Pak Kiai kalau buat nalangi biayanya waktu itu,” kata Pak RT.

“Kenapa nggak diambil dari uang masjid dulu?” kata Kiai Kholil.

“Lha emang boleh Pak Kiai duit masjid buat nyumbang begitu?” kata Pak RT.

“Aduh, Pak RT. Ya malah harusnya dipakai untuk kebutuhan mendesak seperti itu ketimbang merenovasi masjid jadi megah kayak gini. Masjid itu bukan yang tembok-temboknya, bukan ornamen-ornamennya, bukan marmernya, bukan mimbarnya, bukan bangunannya. Masjid itu masyarakatnya, Pak RT. Percuma kalau masjid bagus, megah, tapi justru berjarak dengan masyarakatnya. Buat apa?” kata Kiai Kholil.

“Tapi, tapi, Pak Kiai. Ini kan amanah dari penyumbang dana proposalnya,” kata Pak RT.

“Nah, itulah kalau pengurus masjid mentalnya pengemis. Jadinya meminta-minta. Padahal masjid itu harusnya memberi. Memberi perlindungan masyarakatnya. Membuat aman sekitarnya. Lha masjid kok dibangun bikin masyarakat semakin terancam, semakin berjarak, berarti ada sesuatu yang salah, Pak RT,” kata Kiai Kholil.

Kali ini Pak RT cuma bergeming.

“Saya itu cuma khawatir, Pak RT, khawatir sekali,” kata Kiai Kholil.

“Khawatir gimana Pak Kiai?”

“Khawatir kalau orang yang sampeyan ceritakan itu, murtad gara-gara kita semua menyangka bahwa surga hanya bisa didapatkan dari megahnya bangunan masjid yang kita punya.”


*) Disarikan dari kisah nyata.

Terakhir diperbarui pada 19 Juli 2019 oleh

Tags: Masjidmurtadpindah agama
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Anak rantau di Jogja pilih jadi marbot. MOJOK.CO
Sehari-hari

Derita Anak Rantau di Jogja: Sulit Cari Kos Murah, Nyaris Terjebak Dunia Gelap, hingga Temukan “Berkah” di Masjid

6 Maret 2026
Menemukan kedamaian batin dari rebahan karpet masjid MOJOK.CO
Catatan

Rebahan di Karpet Masjid: Sepele tapi Beri Kedamaian Batin dari Dunia yang Penuh Standar, Tuntutan, dan Mengasingkan

12 November 2025
Bukan Cuma Masjid, Jogokariyan Jogja Ternyata Punya ATM Beras & Wakaf Produktif
Video

Bukan Cuma Masjid, Jogokariyan Jogja Ternyata Punya ATM Beras dan Wakaf Produktif

19 April 2025
Menjemput Rezeki Subuh di Masjid Al Aqsha Klaten.MOJOK.CO
Ragam

Menjemput Rezeki Subuh di Masjid Al Aqsha Klaten

23 Desember 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ilustrasi Honda Vario Sumber Derita dan Bikin Gila di Jalanan Surabaya (Wikimedia Commons)

Honda Vario Adalah Motor yang Paling Menderita di Surabaya: Mesin Loyo Itu Sengsara Dihajar Jalan Rusak

6 Maret 2026
Ilustrasi - Anak pertama dicap gagal.MOJOK.CO

Rela Hidup Miskin di Desa demi “Kebahagiaan” Adik-Adiknya di Kota, tapi Malah Dicap Pemalas dan Beban Keluarga

11 Maret 2026
Makanan Khas Sunda dan Jogja Bikin Muak- Bau Busuk dan Manis (Wikimedia Commons)

Makanan Khas Sunda Bikin Menderita Orang Jogja, Sama Seperti Perantau Sunda Muak dengan Makanan Jogja yang Serba Manis

11 Maret 2026
Lepas status WNI dan paspor Indonesia, hidup lebih mudah usai pindah kerja di Jerman MOJOK.CO

Lepas WNI karena Hidup Serba Susah dan Nelangsa di Indonesia, Hidup Jadi Lebih Mudah usai Pindah ke Jerman

10 Maret 2026
Sate Klatak Kasta Tertinggi Makanan Khas Jogja, Jauh Mengungguli Gudeg dan Bakmi Jawa yang Sering Dikeluhkan Manis Itu Mojok.co

Sate Klatak Kasta Tertinggi Makanan Khas Jogja, Jauh Mengungguli Gudeg dan Bakmi Jawa yang Sering Dikeluhkan Manis

12 Maret 2026
Anak pulang ke rumah dari perantauan ditunggu, tapi justru sakiti dan beri duka karena sepelekan masakan ibu MOJOK.CO

Anak Pulang Justru Lukai Hati Ibu: Pilih Makan di Luar dan Sepelekan Masakan Ibu karena Lidah Sok Kota-Banyak Gaya

11 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.