MOJOK.COPercaya poligami itu sunah nabi yang setara seperti anjuran, Kang Ahsan pun ngotot ingin nambah istri.

“Bukankah istri yang salehah itu yang mengikuti perintah dan keputusan suaminya, Gus? Apapun perintah itu, termasuk sunah nabi poligami. Balasannya kan surga,” kata Kang Ahsan ke Gus Mut.

Gus Mut terdiam sejenak. Seminar poligami yang pernah diikuti Kang Ahsan sedikit banyak telah mengubah banyak pandangannya.

Dulu Kang Ahsan memang pernah mengutarakan tertarik dengan poligami, namun hanya rasan-rasan dan sekadar pembahasan di antara para tetangga. Tak disangka, Kang Ahsan betulan berniat poligami, sampai rela daftar ikut seminar poligami dan sudah tinggal selangkah lagi.

“Kang, sampeyan kok udah mutusi surga ke istri sampeyan sendiri?” tanya Gus Mut.

“Bukan mutusi saya ini, Gus. Tapi kan emang kewajiban istri itu nurut sama suami,” kata Kang Ahsan.

“Emang kalau kewajiban nurut suami diikuti—bahkan misalnya setuju poligami yang sampeyan klaim sunah nabi itu—tapi nggak salat wajib gitu, apa ya sampeyan berani klaim balasannya surga?” tanya Gus Mut.

Kang Ahsan terkejut dengan pertanyaan Gus Mut.

“Bukan begitu, Gus. Saya cuma mau bilang, kalau poligami itu pahalanya banyak. Karena melatih istri sabar, dan bisa menghindarkan suami dari zina,” kata Kang Ahsan.

“Zina?” tanya Gus Mut.

“Iya,” jawab Kang Ahsan.

“Selingkuh kali maksudnya,” kata Gus Mut.

“Lah, kan juga sama-sama zina?” tanya Kang Ahsan.

“Sekalipun sama, tapi hukumnya beda, Kang. Zina kalau belum nikah itu beda dengan zina ketika udah punya istri. Jauh lebih berat berlipat-lipat kalau udah punya istri. Lagipula kok poligami ujug-ujug disimpulkan bisa menghindarkan seorang muslim dari zina?” tanya Gus Mut.

“Lah, ya iya dong, Gus. Kan poligami bikin kita halal, jadi nggak zina dong. Biar bisa menahan hawa nafsu,” kata Kang Ahsan.

“Salah satu cara terbaik menahan hawa nafsu itu puasa, Kang. Cara menghindari zina itu juga dengan puasa, lah kok ujug-ujug langsung poligami,” kata Gus Mut.

“Ya intinya poligami itu bagus lah, Gus. Udah sunah nabi, manfaatnya banyak lagi,” kata Kang Ahsan.

Baca juga:  Mungkin Benar Kata Netizen, Seminar Poligami Itu Industri Kreatif

Gus Mut sempat menahan tawa mendengar klaim-klaim Kang Ahsan.

“Sebentar, sampeyan itu beneran pengen poligami?” tanya Gus Mut.

“Iya, Gus. Mantep saya,” kata Kang Ahsan.

“Apa yang bikin mantep?” tanya Gus Mut lagi.

“Yaaah, ekonomi saya kuat. Saya juga mampu secara jasmani dan rohani, dan saya ingin lebih banyak menyebarkan kebaikan dengan menjaga kehormatan wanita,” kata Kang Ahsan.

“Menjaga kehormatan wanita dengan poligami gitu?” tanya Gus Mut.

“Iya dong. Kan itu sama saja membagi kekayaan saya ke wanita muslim lainnya,” kata Kang Ahsan.

“Kalau memang niat sampeyan begitu, lebih baik sampeyan berikan sebagian harta itu untuk sedekah ke seorang ayah miskin agar bisa lebih menghidupi keluarganya. Kan dari kayak gitu sampeyan udah bisa dapat pahala dua keluarga. Ngapain sampai harus poligami?” kata Gus Mut.

“Kok Gus Mut kayak nggak suka sama orang yang berencana mau ibadah. Poligami itu kan sunah Nabi, Gus.” kata Kang Ahsan mulai jengkel.

“Siapa yang nggak suka sama orang mau ibadah?” tanya Gus Mut.

“Ya Gus Mut itu, seolah-olah poligami itu hina banget gitu. Kayak berdosa. Ingat, Gus. Poligami itu benar-benar Sunah Nabi, jadi pada dasarnya dianjurkan,” kata Kang Ahsan.

Gus Mut kali ini terkekeh mendengarnya.

“Mas, dalam dalil-universe, poligami itu bukan anjuran penambahan. Sifatnya justru pengurangan. Dari dalil di Al-Quran, sampai pendapat ulama, semua adalah soal pengurangan jumlah istri dari 4, ke 3, ke 2, lalu ke satu. Seorang sahabat Nabi, ketika sebelum masuk Islam istrinya 8, begitu masuk Islam, Nabi bersabda, ‘pilih 4 di antara mereka dan ceraikan yang lain’. Poinnya jelas, pengurangan. Lah, sampeyan ini kok malah dibalik. Dari satu, kalau bisa dua, tiga, dan seterusnya tanpa sebab yang mendesak,” kata Gus Mut.

“Tapi kan poligami itu halal, Gus,” tanya Kang Ahsan.

“Nah, itu tepat. Setuju aku, kalau poligami itu dibilang halal. Tapi kalau dibilang sebagai kesunatan yang setara dengan hukum sunah pada umumnya, kayak lebih afdol dilakukan daripada tidak, itu yang keliru,” kata Gus Mut.

Baca juga:  Beragama yang Dikit-Dikit Nanya “Dalilnya Mana?”

“Gus, ente jangan ngawur,” kata Kang Ahsan.

“Lho saya ini serius. Hukum asalnya poligami itu hukum munakahat atau hukum nikah, hukum asalnya nikah itu mubah. Selesai. Jadi karena mubah, poligami itu bisa jadi sunah, wajib, tapi juga bisa jadi haram atau makruh. Tergantung situasi dan kondisi. Misalnya, poligami malah bikin sampeyan cerai, padahal anak sampeyan masih kecil-kecil. Itu bisa makruh namanya,” kata Gus Mut.

“Gus, ente ini gimana, Nabi aja melakukan poligami. Kalau sampeyan bilang poligami makruh, sampeyan sama saja menghujat Nabi, nggak terima saya, Gus,” kata Kang Ahsan.

“Saya nggak bilang hukum poligami itu makruh, tapi saya bilang kalau fikih poligami itu juga melihat faktor kondisi hukum syariat diterapkan. Nggak yang straight banget gitu,” kata Gus Mut.

“Halah, mau muter-muter kayak gimana, faktanya poligami itu sunah Nabi, Gus,” kata Kang Ahsan.

“Iya, memang. Tapi sampeyan kalau mau menjalankan Sunah Nabi poligami, sampeyan juga nggak boleh setengah-setengah,” kata Gus Mut.

“Wah, maksudnya gimana, Gus? Nggak boleh cuma dua gitu?” tanya Kang Ahsan.

“Bukan, tapi benar-benar menjalankan Sunah Nabi yang lain,” kata Gus Mut.

“Loh, insya Allah udah, Gus. Saya kadang tahajud, belakangan juga rutin jamaah di masjid, puasa sunah juga kadang-kadang,” kata Kang Ahsan.

Gus Mut terkekeh.

“Bukan, bukan sunah nabi itu. Tapi beneran sunah nabi soal pernikahan,” kata Gus Mut.

“Memang apa, Gus? Sunah nabi soal pernikahan? Poligami yang banyak?” tanya Kang Ahsan antusias.

“Setia seumur hidup dengan istri pertama,” kata Gus Mut.

“Ma, maksudnya?” Kang Ahsan bingung.

“Lah iya dong. Istri pertama Kanjeng Nabi siapa?” tanya Gus Mut.

“Sayyidah Khadijah?”

“Dipoligami nggak?” tanya Gus Mut.

“Nggak. Ta, ta, tapi kan setelah Sayyidah Khadijah meninggal, Nabi poligami, Gus?” tanya Kang Ahsan.

“Iya, betul. Lah, emang istri pertama sampeyan udah meninggal?” tanya balik Gus Mut.

“Eee, ta, tapi, Gus. Bu, bukan gitu… eee, gimana ya… eee,” jawab Kang Ahsan gelagepan.

BACA JUGA Kalau Poligami Itu Sunah, Memang Sunahnya yang Mana? atau kisah GUS MUT lainnya.