MOJOK.CO – Menabung bukan soal numpuk cuan dan menjadi kaya, tapi mengunci rasa tenang di tengah kehidupan yang penuh ketidakpastian.
Dalam sebuah tulisan saya pernah menyebutkan kalau slogan “menabung pangkal kaya” itu sudah nggak lagi relevan. Apalagi kalau menabungnya di bank.
Alasan saya adalah kenaikan inflasi sudah nggak terkejar lagi oleh bunga tabungan. Tapi, apakah tujuan menabung hanya perkara untuk menumpuk cuan dan kelak menjadi kaya? Kan tidak. Seiring waktu, rasa-rasanya, orang terlalu menyederhanakan bahwa value menabung hanya soal tentang menumpuk harta biar jadi kaya.
Orang zaman dulu menabung dengan cara mengumpulkan bahan makanan di satu wadah atau tempat. Tujuannya supaya ketika datang cuaca ekstrem atau musim paceklik, mereka mampu bertahan. Inilah value utama dari tabungan, yaitu melahirkan rasa aman karena mereka dapat memastikan ketahan hidup dalam situasi yang sulit.
Di zaman sekarang, orang mencari rasa aman soal masa depan dengan berbagai instrumen keuangan yang begitu jelimet. Bahkan berisiko tinggi seperti trading saham, forex, dan crypto.
Konten-konten soai itu berseliweran dan menarik banyak pihak. Tanpa sadar, mereka masuk ke dunia tersebut tidak dengan mental keuangan yang kuat. Motivasi awal ingin menciptakan rasa aman, tapi berubah secara instan menjadi ingin numpuk cuan dan cepat kaya.
Padahal, seperti yang saya bilang sebelumnya, kita bisa menciptakan rasa aman dengan cara paling sederhana, yaitu menabung. Tabungan ini memang ritual kecil, tapi pelan-pelan membuat seorang belajar mengatur emosi dan menciptakan situasi yang bebas dari rasa panik.
Menabung, cara sederhana menciptakan mental keuangan yang kuat
Banyak studi yang menyebutkan kalau tabungan adalah cara paling sederhana untuk menciptakan mental keuangan yang kuat bagi seseorang. Misalnya dengan menjadikan seseorang mampu menunda kepuasan. Menabung itu seakan “memaksa” otak manusia untuk belajar bahwa tidak mengikuti semua keinginan. Di sini terciptalah kemampuan meregulasi emosi.
Individu jadi lebih bijaksana dalam mengambil keputusan ekonomi. Hasilnya, kita bisa menghindari berbagai keputusan yang merugikan diri sendiri dan keluarga. Misalnya, tindakan gegabah, sikap impulsif, dan budaya fomo demi dapat cuan secara instan.
Kemudian, menabung juga melahirkan sikap yang tenang karena sudah punya pegangan ketika terjadi kondisi krisis. Apa yang ditabung menjadi semacam “oksigen tambahan” ketika polusi udara makin buruk.
Dalam kondisi tenang dan regulasi emosi yang baik, efek setelahnya membuat seseorang tidak mudah reaktif, tidak mudah panik, dan tidak parno dengan menafsirkan semua masalah yang datang sebagai ancaman antara hidup dan mati. Dan apabila menabung secara konsisten, seseorang bisa lebih siap menghadapi ketidakpastian. Itu akan menjadi fondasi utama dalam membentuk mental keuangan yang kuat.
Kampanye menjadi bapak yang bertanggung jawab dari Bapak2ID
Saya bersyukur, beberapa tahun terakhir ada salah satu akun Instagram bernama Bapak2ID. Sebuah akun yang rajin menularkan semangat menabung. Namanya memang tidak ada bau-bau finansial. Semata karena memang ini bukan akun finansial dapat cuan secara instan dengan bahasa rumus dan grafik yang rumit.
Seperti namanya, Bapak2ID ini menjadikan bapak-bapak sebagai identitas yang punya makna sosial. Yaitu sebagai bapak, suami, dan pria yang punya tanggung jawab.
Kalau kita mengaitkannya dengan konteks bertahan hidup, kewajiban para bapak untuk tahu soal menabung itu penting. Sebab, di sini, menabung bukan hanya soal strategi ekonomi, tapi juga tanda kedewasaan maskulinitas.
Ini tanda kalau seorang pria, apalagi bapak-bapak, bukan lagi manusia impulsif. Misalnya yang hidup dari gaji ke gaji.
Bapak2ID membantu bapak-bapak menjadi manusia yang punya tanggung jawab personal untuk menciptakan rasa aman di masa depan bagi keluarganya. Artinya, menabung menjadi semacam tupoksi baru yang tidak hanya sekadar “sederhana”, tapi punya nilai tanggung jawab lewat saldo yang sengaja disisihkan.
Menabung ala Bapak2ID, bukan soal numpuk cuan di bank saja
Sejak 2020, akun Bapak2ID mengampanyekan kebiasaan menabung yang rendah hambatan. Ajakan mereka adalah menabung harian dengan nominal recehan. Mulai dari seribu, dua ribu, lima ribu hingga puluhan dan ratusan ribu.
View this post on Instagram
Kita boleh menyesuaikan dengan dengan kemampuan dan keadaan masing-masing. Ajakan ini mereka lakukan karena melihat dua masalah penyebab sulitnya orang menabung, yaitu tidak disiplin dan memang uangnya terbatas. Kalau tertarik, kamu bisa menabung dulu selama satu minggu hingga sebulan, kemudian menyetorkan uang tersebut ke bank.
Setiap harinya, melalui unggahan Story IG, mereka terus mengingatkan kepada siapa saja agar terus konsisten menabung. Tidak hanya mengingatkan, mereka juga beneran ikut menabung. Mereka mencantumkan nominal tabungan harian dan total keseluruhan tabungan.
Pelan dan mendewasakan
Kalau melihat nominal recehannya, tentu tujuannya bukan supaya seseorang mendadak kaya. Bapak2ID ingin siapa saja yang ikut supaya terbiasa berlatih untuk disiplin dengan nominal sekecil apapun. Sebab yang coba saya pahami dari kampanye ini adalah, uang receh itu memang nggak terasa bila dibelanjakan, tapi akan sangat terasa ketika konsisten dikumpulkan.
Di sini mereka menarasikan menabung harian sebagai disiplin kecil layaknya olahraga ringan, bagun pagi, lari-lari atau sebatas jalan keliling kompleks. Sebab, perubahan besar selalu dimulai dari tindakan kecil, bukan? Di tengah kondisi yang sulit seperti saat ini, membuat tabungan harian memberi satu hal yang sangat manusiawi, yaitu bahwa kita masih punya kendali.
Menabung harian secara perlahan membuat kita beneran sadar kalau ini adalah langkah yang mendewasakan. Seperti yang saya bilang, kita jadi punya mental keuangan yang kuat. Ketika sudah tercipta mental keuangan yang kuat, maka kita sudah siap memasuki tahap selanjutnya, yaitu berinvestasi.
Opsi investasi, cuan pelan tapi konsisten
Di awal saya sudah menyinggung kalau menabung di bank saja nggak akan cukup. Ingat, naiknya inflasi tahunan selalu di atas bunga tabungan.
Maka, kalau hanya menaruh uang di celengan, daya belinya bisa berkurang. Inflasi itu seperti rayap yang pelan tapi pasti menggerogoti nilai kekayaan. Di sinilah investasi berperan sebagai pelindung dan pengaman nilai.
Sekali lagi, keberanian untuk investasi bukan soal ambisi untuk cepat dapat cuan, melainkan balik lagi soal perlindungan dan rasa aman. Dan keberanian ini muncul ketika seseorang sudah punya tabungan.
Sebab, seseorang yang tidak mengelola kehidupan keuangannya dengan baik atau model hidupnya hanya dari hari ke hari, tentu akan sangat sulit berinvestasi. Mereka akan selalu mengartikan setiap fluktuasi sebagai ancaman atas kehilangan harta.
Kalau ngomongin soal opsi investasi, tentu banyak pilihan. Tapi kalau saya pribadi adalah reksadana, spesifik pada reksadana pasar uang dan reksadana pendapatan tetap.
Investasi reksa dana
Sederhananya, di Reksa Dana Pasar Uang (RDPU), adalah manajer investasi yang akan mengelola uang kita ke instrumen jangka pendek (di bawah 1 tahun). Contohnya adalah deposito bank dan surat utang jangka pendek. Imbal hasil per tahunnya bisa 5 sampai 7 persen. Nilai tersebut tentu sudah di atas inflasi tahunan yaitu 3 sampai 4 persen.
Sementara itu, di Reksa Dana Pendapatan Tetap (RDPT), manajer investasi akan mengelola uang kita ke instrumen seperti sukuk atau obligasi. Jangkanya lebih panjang (di atas 1 tahun). Imbal hasil untuk RDPT di kisaran 6 sampai 9 persen per tahun.
Simulasinya begini. Saya memulai reksa dana setelah menabung sampai dua digit. Nah, dari uang tabungan itu, saya mengalokasikan Rp5 juta ke reksadana RDPT dengan imbal hasil rata-rata 6 persen per tahun.
Setiap bulannya, saya tetap rutin menambah investasi reksadana tersebut sebesar Rp100 ribu. Sederhananya, total uang yang saya setorkan selama 2 tahun adalah Rp5 juta + (Rp100 ribu x 24 bulan) = Rp7,4 juta. Tapi ingat, ada imbal hasil 6 persen per tahun nih.
Jika 6 persen per tahun dibagi 12 bulan, kira-kira 0,5 persen per bulan. Artinya, saldo reksa dana naik sebesar angka tersebut. Lalu, setelah itu, saya menambah Rp100 ribu lagi.
Uang Rp5 juta yang saya taruh di awal akan mengalami pertumbuhan 0,5% selama 24 kali. Sehingga, nilai Rp5 juta modal awal saya setelah dua tahun kira-kira menjadi Rp5,64 juta. Penambahan Rp100 ribu yang saya lakukan tiap bulan juga akan menciptakan efek yang namanya bunga majemuk.
Jadi, setiap bulan, yang naik 0,5% itu bukan hanya Rp5 juta modal awal, tapi seluruh saldo yang sudah ada. Termasuk tambahan Rp100 ribu yang saya setor dan kenaikan kecil dari bulan-bulan sebelumnya. Kasarannya ketika bunganya 6 persen per tahun, dalam dua tahun, hasilnya akhirnya kira-kira Rp8,18 juta (untung sekitar Rp779 ribu).
Deposito juga menarik
Meski begitu, kita harus memahami bahwa reksadana tetap bisa mengalami penurunan nilai. Karena sifatnya investasi, pasti ada kalanya naik dan turun. Nggak selalu cuan itu hal yang normal.
Tapi, setidaknya, penurunannya nggak terjun bebas seperti saham, forex, atau crypto. Paling hanya 0 koma sekian persen. Itu saja nggak setiap saat. Hal itu karena dananya memang dialokasikan ke instrumen yang aman secara nilai sehingga membuatnya lebih stabil dan trennya cenderung selalu naik.
Kalau merasa reksa dana terlalu ribet, kamu juga bisa memulai dengan deposito. Ini simpanan berjangka dengan bunga yang memang sedikit lebih baik daripada sekadar menabung. Bagi yang memang ingin belajar mengelola uang, deposito jadi terasa lebih aman karena tidak ada naik turun. Imbal hasilnya pasti per periode.
Menabung sebagai gerbang awal
Balik lagi soal menabung. Bahwa langkah ini memang terlihat sederhana tapi jadi gerbang awal yang membuka pintu rasa aman dan ketenangan. Keduanya memberikan kedewasaan emosi.
Kedewasaan emosi melahirkan kesiapan dalam mengambil risiko yang terukur. Dan pada akhirnya, ketika sudah siap dengan risiko, investasi jadi langkah yang rasional. Bukan untuk berjudi, apalagi pelarian, tapi sebagai keputusan untuk melindungi nilai dari inflasi.
Terlepas dari semua itu, jangan melupakan satu hal, yaitu tujuan. Menabung memang punya nilai utama soal rasa aman, tapi tetap harus ada tujuan yang membersamainya.
Tujuan menabung untuk dana darurat, sekolah anak, atau hari tua, kalian yang memutuskan. Karena kalau tanpa tujuan, komitmen menabung akhirnya hanya jadi dengungan yang tak akan konsisten dilakukan.
Sekali lagi, menabung bukan soal menyimpan cuan dan berharap menjadi kaya, tapi mengunci rasa tenang di tengah kehidupan yang penuh ketidakpastian. Rasa tenang yang diawali dari satu perilaku kecil yang sering diabaikan, yaitu menyisihkan uang, dengan tujuan, lalu konsisten menjalaninya.
Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA 5 Cara yang Bisa Diterapkan Mahasiswa yang Kesulitan Menabung, Agak Aneh tapi Berhasil dan tips keuangan lainnya di rubrik CUAN.














