Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Jomblo dan Mamah-Mamah, Harapan Terakhir Indonesia

Cepi Sabre oleh Cepi Sabre
29 Mei 2015
A A
Jomblo dan Mamah-Mamah, Harapan Terakhir Indonesia

Jomblo dan Mamah-Mamah, Harapan Terakhir Indonesia

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

The electronics store is a dream killer.” ~ You Don’t Mess With The Zohan (2008).

Mahasiswa akhirnya bergerak. Mahasiswa seluruh Indonesia, yang diwakili oleh badan eksekutifnya –setelah satu hari menunggu hidangan istana “turun” sampai ke perut– akhirnya betul-betul merangsek turun ke jalan. Mereka berdemo mengepung istana dan menyelamatkan kekenesan kakak-kakaknya, angkatan ’98, yang ingin mengenang kejayaan masa mudanya dengan melihat pergerakan mahasiswa sekali lagi.

Yang paling bahagia dengan demonstrasi H+1 mahasiswa ini tentu saja adalah Kak Jonru beserta segenap jamaahnya. Setidaknya ada sedikit harapan bahwa pemerintahan yang baru ini akan tumbang sekaligus mendudukkan idola Kak Jonru dan jamaahnya tadi, siapapun itu, di kursi presiden. Kak Jonru tentu tidak salah untuk menaruh harapan besarnya di pundak para mahasiswa, tidak ada harapan yang pernah salah.

Pertama, karena aplikasi e-demo—demo dari balik monitor komputer jinjing—yang diunduh Kak Jonru ternyata tidak berjalan sesuai keinginan Kak Jonru, terlalu banyak bug-nya, dan kedua, dari masa ke masa, pergerakan mahasiswa sendiri nyaris selalu menjadi pemantik perubahan di negara kita.

Saya sebenarnya tidak terlalu khawatir dengan adek-adek mahasiswa yang masih menggemaskan itu, adek-adek mahasiswa yang rata-rata masih jomblo itu (sebagian jomblo karena memang belum punya pacar, sebagian lagi hanya belum sadar kalau pacar mereka hanya titipan dan akan diambil kembali oleh… jodohnya). Daripada mencemaskan mahasiswa-mahasiswa itu, saya justru sedang bingung memikirkan kakak-kakaknya, angkatan ’98 tadi. Lagipula, kalau kita mau sebentar saja berempati pada anak-anak sekolah kita, saya yakin kita akan membicarakannya dengan tangan di dada, mata terpejam, dan suara yang lebih syahdu.

Bayangkanlah mereka yang ketika berseragam putih-merah harus berjibaku menyeberangi jembatan Indiana Jones—sialnya, mereka bukan Harrison Ford sehingga bisa naik dan mencak-mencak di meja pejabat setingkat menteri—, lalu mereka yang putih-biru dijejali Ganteng-Ganteng Serigala dan Tujuh Manusia Harimau, lalu yang putih-abu-abu dibuat cemas dengan ujian nasional, dan setelah mendapat gelar maha, mereka malah dihadapkan pada satu pilihan: demo atau jadi pelacur. Kalau satu traktiran makan presiden dengan mudahnya bisa membuat seseorang jadi pelacur, Kak AA dan RA pasti sudah lama gulung tikar.

Delapan puluh… delapan puluh juta dan orang tidak habis pikir bagaimana ada orang rela menghabiskan uang sebanyak itu untuk layanan berdurasi tiga jam. Kalau kita fokus pada uangnya, tentu tidak habis keheranan kita, tapi dari kacamata jomblo, hal itu sederhana saja: itu masalah orang jelek, orang tampan tidak akan mengerti. Di situlah seharusnya kita bersyukur karena tidak mengerti.

Kembali kepada kakak-kakak angkatan ’98, tujuh belas tahun tentu bukan waktu yang pendek. Sebagian dari kakak-kakak itu tentu sudah jadi “orang” sekarang, jadi pejabat, berkeluarga, punya istri, gak jomblo lagi, bahkan mungkin punya anak, satu atau dua, atau mungkin tiga. Tapi tepat di sinilah masalahnya. Menjadi pejabat, masuk ke dalam sistem—ditambah “gak jomblo lagi”—adalah kuburan bagi mimpi-mimpi besar kakak-kakak tadi. Inilah toko elektronik Zohan, toko elektronik sang pembasmi mimpi.

Kakak-kakak tadi mungkin ada yang sudah jadi arsitek partikelir, lalu dengan semringah menerima job desain gedung baru DPR, lalu membela diri bahwa arsitek tidak ada urusan dengan politik. Atau ada juga yang jadi pegawai pajak, memanipulasi pajak, tertangkap, dipenjara, lalu menyamar jadi Gayus supaya bisa nonton pertandingan tenis di Bali. Atau jadi juru bicara presiden, lalu ketika semua orang prihatin karena pak presiden terlalu sering melamun bikin lagu, dia malah sibuk bertapa di Gunung Salak. Atau jadi juru bicara menteri tenaga kerja. Atau yang lain.

Intinya, kakak-kakak tadi sebagian besar sudah ada di dalam sistem, tapi alih-alih mengubah dari dalam, mereka justru menyerahkan tugas mulia itu kepada adek-adeknya, mahasiswa, yang sebagian besar masih jomblo tadi. Kakak-kakak angkatan ’98 tadi, sadar atau tidak, telah masuk ke dalam perangkap toko elektronik—untuk kasus Kak Jonru, mungkin itu adalah toko cat atau toko sprei.

Di titik inilah saya berani mengambil kesimpulan bahwa harapan terakhir Indonesia memang berada di pundak para jomblo. Jomblo bukan satu-satunya harapan, negara ini masih punya elemen lain yang juga bisa diandalkan: mamah-mamah.

Sadar atau tidak, selepas perdebatan yang terus didaur ulang setiap tanggal 21 April, tentang siapakah perempuan yang lebih berhak dirayakan hari lahirnya oleh negara, beberapa bulan ini berita-berita di media diisi oleh mamah-mamah atau setidaknya kaum hawa. Kita bisa mulai dari mamahnya Mbak Puan, Mamah Mega, yang menggelar kongres di Bali untuk memilih (lagi) dirinya sebagai komandan kawanan banteng.

Setelahnya ada Mamah Mary Jane Fiesta Veloso, mamah dua orang anak dari Filipina, korban jaringan peredaran narkoba, yang membelah negara kita jadi empat: Jokower pro hukuman mati, Jokower anti hukuman mati, Prabower pro hukuman mati, dan Prabower anti hukuman mati. Lalu ada mamah muda Pembayun yang diangkat jadi putri mahkota oleh Sri Sultan Hamengku Bawana Kaping Sepuluh.

Atau Kak Pam—untuk menyebut kaum hawa non-mamah-mamah—yang memamerkan sebagian tubuhnya di media sosial. Atau Kak AA yang malah pasang tarif selangit untuk tubuhnya. Atau Kak Tata Chubby yang tidak seberuntung Kak AA, dibunuh ketika berbisnis cuma gara-gara menyinggung masalah bau badan. Atau yang dilakukan laki-laki tapi targetnya tetap kaum hawa, tes keperawanan di korps ketentaraan misalnya (pak kumendan tentara pasti terinspirasi oleh Thio Bu Ki dari serial Golok Pembunuh Naga yang berhasil menguasai ilmu Matahari dengan sempurna karena masih perjaka lalu berpikir untuk menciptakan super-kowad atau super-wara).

Puncak dari kehebohan mamah-mamah dan kaum hawa ini adalah ditunjuknya sembilan anggota panitia seleksi komisioner komisi pemberantasan korupsi yang semuanya adalah mamah-mamah. Sembilan-sembilannya. Sontak para laki-laki di negeri ini tekejut. Yang tidak terkejut mungkin cuma dua orang, saya dan Pak Joko. Saya karena sudah meramalkan kalau harapan terakhir Indonesia ada di tangan jomblo dan mamah-mamah, Pak Joko karena dia yang milih (ya iyalah).

Iklan

Seorang guru dari Perancis, Frederic Durant-Baissas, baru-baru ini menuntut facebook karena sudah memblokir akunnya karena memosting lukisan karya Gustave Courbet yang berjudul The Origin of The World di dinding fesbuknya. Lukisan perempuan telanjang dengan close-up di bagian vital itu tentu saja akan berhadapan dengan kebijakan fesbuk perkara pornografi. Tapi kalau kita renungkan maksud Courbet yang memberi judul lukisannya sebagai “asal-mula dunia”, mungkin Courbet ada benarnya.

Maksud saya dengan menceritakan kasus Durant-Baissas versus fesbuk itu adalah bahwa mamah-mamah harus diakui adalah sumber dari segala sumber. Pepatah Cina mengatakan, selama ada manusia, maka akan ada dunia persilatan; selama ada dunia persilatan, maka akan ada keributan. Mamah-mamah adalah asal-muasal semua manusia. Bukan saya mau bilang kalau mamah-mamah adalah biang keributan, tapi kalau dunia ini sudah terlalu hiruk-pikuk, maka tidak ada yang lain yang bisa memadamkannya selain mamah-mamah.

Komisi pemberantasan korupsi yang sudah diacak-acak oleh trio 3B (dua Budi dan satu Badrodin) dari kepolisian, meninggalkan dua hal: pesimisme terhadap agenda pemberantasan korupsi dan keributan yang tidak ada habisnya di antara dua institusi penegak hukum itu. Popularitas Pak Joko yang jadi andalannya tidak bisa dikais-kais sisanya hanya dengan membagi-bagikan sepeda kepada tetangga-tetangga saya, eh, maksud saya, dengan membagi-bagikan Kartu Indonesia Sehat dan Kartu Indonesia Pintar di Batu.

Pak Joko hanya bisa ditolong kalau dia mau kembali ke jalan yang benar. Memadamkan keributan antara KPK dan polisi, mungkin inilah spesialisasi sembilan mamah-mamah tadi. Membangkitkan optimisme pemberantasan korupsi, tentu harus dilihat hasil pilihan mamah-mamah tersebut. Tapi tidak kurang mantan penasihat KPK, Opa Hehamahua, meragukan sembilan mamah-mamah itu dan mengatakan bahwa kiamat sudah dekat. Opa Heha percaya bahwa “barangsiapa yang menyerahkan urusan pemerintahan kepada perempuan, maka tunggulah kehancurannya.”

Saya tidak akan mendebat pendapat Opa Heha karena itu keyakinannya, saya cuma bisa menyarankan Opa Heha untuk sekali-sekali mencoba tidur bareng Pak Sultan karena Pak Sultan juga merasa mendapat dawuh dari Tuhan ketika mengangkat mamah muda Pembayun jadi putri mahkota. Siapa tahu dengan tidur bersama mereka berdua bisa memperoleh mimpi yang sama, bertemu Tuhan lalu bisa bertanya yang mana yang sebenarnya perintah-Nya.

Jadi inilah keadaannya sekarang, Indonesia sedang galau menyerahkan nasibnya ke tangan mahasiswa—yang sebagian besar masih jomblo—dan sembilan orang mamah-mamah. Yang satu mengingatkan dari luar, satu lagi bekerja dari dalam, dua hal yang tidak dilakukan oleh kakak-kakak angkatan ’98 yang sudah terperangkap di dalam toko elektronik. Atau toko cat. Atau toko sprei.

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2021 oleh

Tags: jombloMahasiswaMamah-mamah Muda
Cepi Sabre

Cepi Sabre

Artikel Terkait

Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital: Harga RAM Makin Nggak Ngotak MOJOK.CO
Esai

Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital karena Harga RAM Makin Nggak Masuk Akal

16 Januari 2026
Bapak-ibu dihina saudara sendiri karena ingin kuliahkan anak di PTN, tapi beri pembuktian. Meski anak jadi mahasiswa di PTN ecek-ecek tapi jadi sarjana pekerja kantoran MOJOK.CO
Kampus

Ortu Miskin Dihina Saudara Kaya saat Ingin Kuliahkan Anak, Meski Kuliah di PTN Ecek-ecek Malah Punya Karier Terhormat ketimbang Anak Saudara

8 Januari 2026
Lulusan IPB kerja sepabrik dengan teman-teman lulusan SMA, saat mahasiswa sombong kinin merasa terhina MOJOK.CO
Kampus

Lulusan IPB Sombong bakal Sukses, Berujung Terhina karena Kerja di Pabrik bareng Teman SMA yang Tak Kuliah

17 Desember 2025
Warung makan gratis buat Mahasiswa Asal Sumatra yang Kuliah di Jogja. MOJOK.CO
Liputan

5 Warung Makan di Jogja yang Gratiskan Makanan untuk Mahasiswa Rantau Asal Sumatra Akibat Bencana

4 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital: Harga RAM Makin Nggak Ngotak MOJOK.CO

Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital karena Harga RAM Makin Nggak Masuk Akal

16 Januari 2026
Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026
Gotong royong atasi tumpukan sampah Kota Semarang MOJOK.CO

Gotong Royong, Jalan Atasi Sampah Menumpuk di Banyak Titik Kota Semarang

16 Januari 2026
Mie ayam di Jakarta jadi saksi para pekerja berusaha tetap waras meski penuh beban hidup MOJOK.CO

Mie Ayam di Jakarta, Saksi Pekerja Berusaha Waras setelah Berkali-kali Nyaris Gila karena Kerja dan Beban dari Orang Tua

14 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Sisi Gelap Bisnis Es Teh Jumbo, Tak Cuan Bisnis Melayang MOJOK.CO

Dua Kisah Bisnis Cuan, Sisi Gelap Bisnis Es Teh Jumbo yang Membuat Penjualnya Menderita dan Tips Memulai Sebuah Bisnis

15 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.