Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Serba Salahnya Melakoni Pekerjaan Tidak Mantu-able

Chandra Wulan oleh Chandra Wulan
13 Oktober 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Awalnya saya bangga dengan pekerjaan saya yang bikin tulisan untuk menjulidi orang lain. Tapi kalau ibu pacar nggak suka dan ternyata saya menjalani pekerjaan tidak mantu-able, gimana dong?

Selama kurang lebih satu setengah tahun melakoni pekerjaan dalam bidang yang sama di dua perusahaan berbeda, saya merasa baik-baik saja. Namun, semua ini berubah beberapa hari yang lalu, saat saya kencan dengan pacar saya.

Waktu itu nama Sutopo sedang mengemuka, dari televisi sampai media digital. Saya dan kekasih sedang duduk di ruang tunggu stasiun yang ada di dalam lagu milik Didi Kempot. Menunggu matahari sedikit tergelincir agar kami bisa jalan-jalan tanpa kesumukan berlebihan. Iya, kami LDR Jogja-Solo dan kencan seminggu sekali bergantian. Seminggu sekali dia ke Solo Balapan, minggu berikutnya saya pulang… ke kotanya.

Suasana sumuk gara-gara musim hujan yang terlambat datang semakin terasa tidak nyaman ketika kekasih saya tiba-tiba menyeletuk, “Topik-topik yang lagi ramai dibahas kayak gini, kamu tulis juga nggak?”

Ia menirukan pertanyaan ibunya. Sebenarnya pertanyaan itu sekilas terdengar normal dan wajar diutarakan. Tapi enggak buat saya!!!1!1!1! Seketika saya pengin beli tiket kereta api tujuan Hogwarts aja biar jadi penyihir daripada daripada.

Sebagai seorang penulis di salah satu portal media digital, sudah jadi kewajiban bagi kami saya untuk menulis apa saja yang sedang ramai dibahas, termasuk soal Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho itu. Masalahnya cuma dari sudut pandangnya. Dari sisi mana, sih, kita melihat sebuah peristiwa?

Sebab saya bekerja di media yang lebih cenderung bersifat hiburan atau non-news, yang dibahas tentu saja mencari sisi lain dari sebuah peristiwa.

Contoh nih:

Jokowi-Iriana datang ke perhelatan Asian Para Games 2018. Media news akan membahas kedatangannya dan dukungan Jokowi untuk para atlet. Sementara yang non-news? Bahas penampilan Iriana, kegemasan Jan Ethes yang mukanya sepolos muka bapaknya, sampai momen uwuwuwu Iriana yang benerin kancing Jokowi~

Intinya, sih, dibikin lebih receh gitu… dan bisa menghibur. Ya, namanya juga entertainment. Kalau serius dan bikin mumet sih, cukup soal matematika bab Dimensi Tiga zaman kelas 11 SMA aja.

Nah, begitu pula tentang Sutopo. Ibu dari pacar saya menonton pertemuan Sutopo dan Presiden Jokowi di televisi. Sebelumnya, saya sudah menulis tentang kekaguman Sutopo pada Raisa yang lalu membangkitkan inisiatif warganet untuk membuat tagar #RaisaMeetSutopo. Kira-kira timeline-nya gini:

Sutopo ngefans sama Raisa – netizen bikin #RaisaMeetSutopo – Raisa telepon Sutopo – netizen sadar Sutopo juga kepingin ketemu Jokowi – Jokowi bertemu Sutopo.

Kebetulan, hari ketika Jokowi bertemu Sutopo, saya libur. Karena berita online itu cepet banget basi, jadi besoknya pas masuk, saya udah nggak perlu nulis tentang itu. Udah kelewat momennya dan pasti udah ditulis oleh temen yang lain. Pokoknya yang terpenting, ending–nya bahagia karena Sutopo sudah bertemu Jokowi dan teleponan sama Raisa.

Kembali ke pertanyaan Ibu–yang semoga akan jadi mertua saya kelak–saya lalu balik bertanya,

Iklan

“Kamu jawabnya gimana, Mas?”

“Aku bilang kayaknya nulis, tapi sudut pandangnya aja Bu yang beda.”

Saat itulah saya menyadari yang saya lakukan ini kurang benar-benar pekerjaan tidak mantu-able. Apalagi, hampir enam bulan terakhir ini saya menulis di portal berita selebritis. Berdasarkan pengamatan saya selama bekerja di sini, pembaca cenderung lebih suka berita yang arahnya menuju kejulidan.

Sebut saja perbandingan riasan Ashanty dan KD, penampilan Ayu Ting Ting & Nagita Slavina, perbandingan gaya pacaran Al & El, serta segala berita pernikahan, perceraian dan perselingkuhan.

Jangan salah, selama ini saya sudah mencoba menulis berita yang nadanya positif. Contohnya ya Sutopo dan Raisa itu tadi. Tapi pasti akan kalah pageviews-nya dengan topik-topik yang sudah saya sebutkan di atas. Akhirnya pada beberapa kesempatan, saya pun mencoba menyesuaikan diri dengan menulis yang agak julid. Hasilnya rata-rata bakal lebih baik dari segi pageviews.

Untung saja pacar saya itu pengertian. Nggak pernah sekalipun dia terdengar atau terlihat meremehkan pekerjaan saya, atau tulisan saya. Emang pernah ada yang ngremehin? Ya jelas ada. Pacar sebelumnya, misalnya.

Eh, kenapa jadi curhat nih? Maapin. Ya ampun baru inget kalau saya lupa menanyakan kelanjutan respon ibunya setelah mendapat jawaban, “Beda sudut pandang aja.” YA AMPUN GIMANA NIH.

Padahal, keluarga pacar kalau dari cerita-ceritanya sih ya gitu, alim, religius. Pernah suatu hari saya kesal karena menunggu dijemput agak lama di Stasiun Lempuyangan. Sebelumnya saya sudah ngabari akan sampai jam sekian. Kok ndadak kudu ngenteni 20 menit kan sayang ya waktunya yang bisa buat saling menggenggam tangan bertukar cerita apa yang terjadi selama seminggu terakhir. Saya udah kesel manyun gitu waktu dia sampai. Tapi setelah tahu alasannya, nggak jadi marah. Mau tahu apa alasannya?

“Tadi aku Isya dulu, jamaah sama Ibuk,” Saya langsung merasa berdosa banget dong waktu itu.

Pernah juga saya dan kekasih berencana menyimak acara diskusi sastra di Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Iya, nyimak aja daripada sok-sok aktif tapi ra mutu. Hehe. Acara dimulai pukul setengah delapan malam, kalau nggak salah. Tapi kami sudah sampai di sana setengah jam sebelumnya.

Daripada gabut, kami memutuskan untuk jalan-jalan lewat pinggir Pasar Beringharjo dan memutar tembus ke Jalan Malioboro dst. Kami melewati masjid di sebelah pasar. Saya menangkap gerakan bahwa kekasih ini sebenarnya mau berhenti dulu tapi mungkin rikuh mau bilang. Akhirnya saya inisiatif bertanya, “Mau mampir salat dulu?”

Wajahnya langsung terlihat lega dan ia menjawab, “Iya nggak ya? Iya aja sekalian deh biar nggak kepikiran. Tadi lagi mikir, kamu kira-kira termasuk orang yang kayak gitu bukan, ya?”

Kayak gitu = yang kalau udah masuk waktu salat, segera melakukannya ketika menemukan masjid. Saya kayak gitu? Padahal aslinya mah ya…  gitu.

Sementara itu, pekerjaan saya hanya menjulidi kehidupan orang setiap hari. Pantesan ibu saya pernah bilang, “Nggak ada salahnya daftar CPNS. Kita nggak tahu, orangtuanya ‘Mamas’ preferensinya gimana soal pekerjaan calon mantu, kalau kamu beneran bakal nikah sama dia.”

Huft, padahal nih, waktu itu saya menjawab ucapan Ibu dengan, “Ah, nggak deh kayaknya. Mereka aja wirausaha semua kok.”

Kini justru saya jadi khawatir. Ibu pacar bakal googling lalu menemukan tulisan saya yang ternyata, kalau nggak julid, ya receh. Kalau itu berpengaruh negatif terhadap prospek saya dimantu, gimana dong? Padahal selama ini saya cukup bangga dengan pekerjaan tidak mantu-able ini. Apa saya pindah ke Mojok aja ya, yang biar pun receh tapi setidaknya ada faedahnya?

Terakhir diperbarui pada 13 Oktober 2018 oleh

Tags: Jogjapekerjaanpenulis perempuansolo
Chandra Wulan

Chandra Wulan

Alumni UGM. Bekerja sebagai pekerja teks komersial.

Artikel Terkait

Anak rantau di Jogja pilih jadi marbot. MOJOK.CO
Sehari-hari

Derita Anak Rantau di Jogja: Sulit Cari Kos Murah, Nyaris Terjebak Dunia Gelap, hingga Temukan “Berkah” di Masjid

6 Maret 2026
Modernitas dan Tradisi Menyatu dalam Perayaan Dua Dekade Plaza Ambarrukmo.MOJOK.CO
Seni

Modernitas dan Tradisi Menyatu dalam Perayaan Dua Dekade Plaza Ambarrukmo

6 Maret 2026
Ilustrasi Honda Vario Sumber Derita dan Bikin Gila di Jalanan Surabaya (Wikimedia Commons)
Pojokan

Honda Vario Adalah Motor yang Paling Menderita di Surabaya: Mesin Loyo Itu Sengsara Dihajar Jalan Rusak

6 Maret 2026
Pantai Drini, Gunungkidul kehilangan keasrian dan identitas. Korban wisata Jogja yang dimirip-miripkan dengan Bali MOJOK.CO
Catatan

Pantai Drini Gunungkidul Kehilangan Identitas dan Keasrian Alami, Korban Wisata Jogja yang Dimirip-miripkan Bali

5 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kuliner mainstream Lebaran buat kumpul keluarga

Di Balik Camilan “Mainstream” saat Lebaran, Ada Nilai Sentimental yang Mencairkan Suasana Kumpul Keluarga

6 Maret 2026
Hilangnya kumpul keluarga saat Lebaran setelah nenek tiada

Lebaran Jadi Momen Menyedihkan usai Nenek Tiada, Keluarga Sudah Nggak Mau Kumpul apalagi “Sungkeman”

5 Maret 2026
Hijau miskin, warna yang tidak disukai gen Z

Warna “Hijau Miskin” Dianggap Norak, Tidak Disukai Gen Z padahal Dipakai Banyak Orang dan Harganya Murah

2 Maret 2026
Yang paling berat dari mudik lebaran ke kampung halaman bukan pertanyaan kapan nikah atau dibandingkan di momen halal bihalal reuni keluarga, tapi menyadari orang tua makin renta dan apa yang terjadi setelahnya MOJOK.CO

Hal Paling Berat dari Mudik Bukan Pertanyaan atau Dibandingkan di Reuni Keluarga, Tapi Ortu Makin Renta dan Pamitan ke Perantauan

6 Maret 2026
Perjalanan Memaafkan: Dendam ke Orang Tua karena Tak Diizinkan Kuliah di UGM, Jadi Luruh karena Bekal “Ndeso” Bikinan Ibu MOJOK.CO

Perjalanan Memaafkan: Dendam ke Orang Tua karena Tak Diizinkan Kuliah di UGM, Jadi Luruh karena Bekal “Ndeso” Bikinan Ibu

4 Maret 2026
Bimbel untuk lolos UTBK SNBT agar diterima di PTN

Bimbel UTBK SNBT adalah “Penipuan”: Rela Bayar Mahal demi Rasa Aman dan Jaminan Semu, padahal Tak Pasti Lolos dan Kuliah di PTN

3 Maret 2026

Video Terbaru

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026
Zen RS: Tan Malaka Tokoh Pemikir Bebas dan Pejuang yang Tidak Terikat Struktur Politik

Zen RS: Tan Malaka Tokoh Pemikir Bebas dan Pejuang yang Tidak Terikat Struktur Politik

3 Maret 2026
Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

28 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.