Sebagai warga Amerika Serikat, yang sudah menjadi tersesat banget karena sudah satu tahun tinggal di Indonesia, aku mesti berterimakasih kepada seluruh politikus Indonesia. Aku berterimakasih atas kesempatan mengamati tontonan politik Indonesia yang kacau—tak kalah kacau dengan politik AS.

Perlu kamu ketahui sebelumnya, Amerika punya reputasi sebagai salah satu penduduk dengan tingkat nasionalisme yang paling tinggi. Saking patriotiknya kami, bahkan kami sangat yakin bahwa demokrasi Amerika telah memberi spektakel yang paling kacau dan paling menghibur di dunia. Tak akan ada negara lain yang dapat mengalahkan kekacauan politik dalam negeri kami. Hingga kemudian aku melihat Indonesia. Haha. Ternyata kami salah.

Sejak aku datang ke Indonesia, aku menyadari Indonesia benar-benar adalah kawan untuk AS. Memang, di antara seluruh demokrasi besar di dunia, itu AS dan Indonesia yang paling menghibur. Kalau kamu mau bukti, aku akan kasih skandal Donald Trump—yang lahir di salah satu negara demokrasi terhormat, AS, dan baru-baru ini melebarkan sayapnya sejauh ke satu negara demokrasi terhormat yang lain: Indonesia.

Siapa bisa bersaing dengan demokrasi-demokrasi kita?

Memang masih ada nama India sebagai negara demokratis terbesar. Bahkan jauh lebih besar dari AS dan Indonesia. Dan proses pemilihan umum di India memakan waktu hingga enam minggu lamanya. Karena panjangnya durasi tersebut, tontonan politiknya juga menghibur. Kamu mau demokrasi yang disesaki korupsi dan jual-beli suara? Pemilu India jelas tak akan mengecewakanmu. Atau kamu ingin partai politik yang menjalin kerja sama dengan kelompok ekstrimis beragama? Oh, itu juga ada.

Tapi politik India hanya menarik di sekitar pemilu saja. Politik sehari-harinya membosankan. Kalah jauh dibanding AS dan Indonesia. Kalau kamu mau bukti bahwa demokrasi Indonesia dan AS punya situasi politik yang sangat kacau dan menghibur, sekali lagi tolong periksa skandal Donald Trump. Lihat bagaimana dua negara demoktratik paling besar di dunia tertelan oleh satu orang gila.

Siapa sih Donald Trump, yang menurut Fadli Zon adalah tokoh yang sangat disukai orang Indonesia?

Pertama-tama, aku harus menjelaskan satu hal tentang politik Amerika. Ada banyak orang Indonesia (bahkan mungkin di antara pembaca-pembaca artikel ini) yang berpikir semua hal berjalan dengan baik di Amerika—berdasarkan pendapat bahwa Amerika adalah negara maju. Nggak! Kalau kamu mau mengerti fenomena pencalonan Donald Trump, kamu harus tahu bahwa AS, negara yang benar-benar aku cintai, punya banyak masalah besar.

BACA JUGA:  Jangan Leyeh-Leyeh saat Militer Bicara, Nanti Bisa Digampar

Kami bukan bangsa yang seratus persen progresif, atau 70 persen, atau bahkan 60. Kami hanya 55 persen saja yang progresif. 55 persen penduduk ini (kira-kira) yang memilih Barrack Obama sebagai Presiden. Kira-kira 55 persen itu yang mengerti masih ada masalah rasisme di Amerika, yang mengerti agama dan pemerintahan tidak seharusnya bercampur. Ada 45 persen yang konservatif, dan dari populasi itu ada sekitar 25 persen yang sangat marah tentang situasi Amerika saat ini. Mereka marah karena AS hari ini adalah negara dengan suku bermacam-macam. Marah karena ada banyak pendatang baru dari Amerika Selatan, Timur Tengah, dan Asia Timur yang berkulit cokelat yang nggak bisa bicara bahasa Inggris.

Keadaan ini, dan pandangan bahwa pemerintah AS terlalu peduli minoritas dan mengaibakan kulit putih, membuat kelompok konserfatif marah banget. Kemarahan mereka itu membuat mereka dukung Donald Trump—yang baru bertemu dengan anggota DPR yang terhormat.

Donald Trump adalah salah seorang biliuner yang membenci banget kaum imigran. Menurut pikirannya, kombinasi masyarakat kulit hitam dan kulit “berwarna” lain hanya akan membawa kehancuran bagi warga kulit putih—yang dianggap Trump sebagai penduduk asli Amerika. Dia enteng saja mengatakan bahwa para pendatang itu “Membawa narkoba ke Amerika. Mereka pemerkosa.”  Dia berjanji akan mengusir 11 juta orang yang tinggal di Amerika tanpa izin jika terpilih jadi presiden. Walapun semua ahli sepakat itu kebijakan mustahil, dan mewujudkan itu akan menciptakan tragedi HAM.

Trump juga dikenal sebagai seorang yang seksis. Beberapa waktu lalu, misalnya, ketika ada seorang jurnalis perempuan yang mengkritik dia, Trump dengan santai ngomong, “perempuan itu pasti sedang menstruasi”. Ajaibnya, Trump menolak meminta maaf setelah membuat pernyataan seperti itu.

Trump tahu dia terlalu kontroversial untuk menjadi presiden. Tapi dia narsis banget, jadi dia bilang hal-hal jahat terhadap minoritas untuk menarik perhatian media, dan menarik lebih banyak lagi penduduk yang marah tentang situasi Amerika.

Tapi percayalah, dia tetap tidak mungkin jadi presiden Amerika, meski dicalonkan oleh Partai Republik sekalipun (itu lho, partai sayap kanan yang dulu diwakili George Bush—yang punya kebijakan satu juta perang, tapi kalah melulu). Karena tidak ada satupun yang bukan sayap kanan yang akan dukung Trump. Padahal untuk menang Pemilu AS, kamu harus bisa meraih suara swing voters dan kalau bisa pemilih dari kelompok seberang.

BACA JUGA:  Lupakan Jokowi, Inilah Lima Capres Masa Depan Indonesia

Ringkasnya, Donald Trump adalah kemaluan besar yang memalukan kebanyakan warga AS. (Maaf kalau bahasa Indonesia aku belum sempurna. Kemaluan berarti seseorang atau sesuatu yang membuat orang malu, kan?)

Ok, jadi itulah alasan Trump menghebohkan penduduk Amerika. Perkembangan terbarunya, kegiatan Trump juga menghebohkan penduduk Indonesia. Dan penduduk total dari dua negara hebat kita adalah 600 juta orang! Selamat, Pak Trump.

Tapi Trump menghebohkan orang Indonesia tidak terkait reputasi dia sebagai rasis yang sangat diskriminatif, melainkan terkait pimpinan DPR yang ditemuinya, Setya Novanto dan Fadli Zon. Dan sepertinya, alasan orang Indonesia marah terhadap duo-DPR itu adalah: 1) biaya petualangan mereka ke Amerika sangat mahal, 2) Karena Setya dan Fadli pimpinan DPR, dan Trump adalah bakal calon presiden, kesannya seperti pemerintah Indonesia mengendorse Trump sebagai calon presiden. 3) Ketika Donald Trump (yang mewakili aspek paling jelek, sombong, dan chauvisnis tentang AS) bertanya kepada Setya, “Apakah mereka cinta saya di Indonesia?” Seakan-akan semua orang Indonesia punya pendapat sama, Setya menjawab, “Ya. Sangat.” Parah banget, seolah-seolah semua orang Indonesia menyembah Pak Trump yang hebat.

Ya, aku mengerti kenapa orang Indonesia dihebohkan persekutuan Setya-Fadli dan Trump. Dan menurut aku, orang Indonesia benar sekaligus salah. Untuk poin 1, kamu benar ketika mempertanyakan kenapa uang rakyat yang membiayai kunjungan Setya dan Fadli ke AS dipakai untuk bertemu Trump. Untuk poin 2, kamu salah, karena Trump cuma selebriti, bukan calon serius, dan tidak ada orang Amerika yang menginterpretasi peristiwa Setya-Trump sebagai endorsement. (Soal ini belum ada disebutkan di pers Amerika.)

Dan akhirnya, untuk poin ke-3, ketika Setya bilang orang Indonesia menyukai Trump, orang Indonesia seharusnya lebih marah lagi. Karena orang Indonesia yang toleran tidak akan suka Pak Trump. Pak Trump yang bilang bahwa dunia kita punya “masalah muslim”, dan dalam Islam terdapat “kebencian yang sangat kuat”. Orang Indonesia suka yang begitu? Pasti nggak.

Kebanyakan orang Amerika juga tidak suka dengan kebencian Pak Trump terhadap minoritas di Amerika, termasuk terhadap muslim. Jadi, Pak Setya Novanto dan Pak Fadli Zon seharusnya minta maaf kepada warga Indonesia. Karena orang Indonesia tidak mungkin menyukai Trump—setidaknya orang Indonesia yang aku sudah kenal.

No more articles