Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Persetankan Pizza Kedaluwarsa, Mie Ayam dan Saos Abal-Abal adalah Harga Mati!

Benny SR oleh Benny SR
7 September 2016
A A
Persetankan Pizza Kedaluwarsa, Mie Ayam dan Saos Abal-Abal adalah Harga Mati!

Persetankan Pizza Kedaluwarsa, Mie Ayam dan Saos Abal-Abal adalah Harga Mati!

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Saya sedikit senewen, ketika berita soal pizza waralaba wira-wiri di linimasa dengan judul: Pizza Berbahan Kedaluwarsa.

Merinding dikit sih, tapi tak berpengaruh besar juga pada kehidupan saya selanjutnya. Lha wong saya meyakini, bahwa sesulit apapun masalah hidup yang dihadapi, musik Dream Theater jauh lebih sulit kok. Camkan itu! Selain itu, karena saya juga juarang buanget beli dan makan pizza.

Boro-boro makan pizza, kalau disuruh memilih, saya lebih sering menyambangi warung tetangga untuk borong roti-roti seribu lima ratusan dengan macam-macam isi selai. Daripada makan roti tipis bentuk melingkar dengan taburan sosis, jamur, dan kemudian dicocol dengan saus itu. Agak-agak gimana gitu kalau cangkem saya ini disuruh memamahnya.

Jadi, ketika ada berita kalau pizza yang selama ini iklannya di televisi terlihat maknyus itu dibuat dari bahan yang sudah melewati tanggal layak konsumsi, ya saya cuma senewen. Tapi dikit, sih.

Lantas, makanan apakah yang sesungguhnya tepat dianggap paling nikmat dan menjadi numero uno? Ya betul, mie ayam!

Adakah selain itu? Mungkin kamu akan menjawab bakso. Tapi, setuju atau tidak, mie ayam adalah makanan yang begitu cepat beradaptasi dengan mulut kebanyakan orang Indonesia. Mungkin ini karena bahan utama campurannya adalah mie: makanan yang dipercaya berasal dari surga dan begitu disyukuri akan kehadirannya di muka bumi.

Jangankan dimasak sampai matang dengan tambahan irisan cabe dan telur mata sapi, menyantap mie sambil digado pun ayo aja!

Tentu kamu bisa memilih makan mie berkuah di restoran kelas wahid, semisal restoran Jepang atau Korea untuk menunjukan bahwa kamu berhasil melanjutkan budaya urban dan demi meningkatkan strata kelas sosial.

Meski setelahnya kamu melanjutkan hidup dengan menggado mie instan sekardus atau memasaknya dengan kuah yang membanjir, supaya terlihat lebih mengenyangkan. Padahal kamu sadar betul: bukan mienya yang membuat perutmu membuncah, melainkan ya kuahnya yang kamu sruput hingga sendokan terakhir itu.

Lantas, tambahan apa yang pas untuk memakan mie ayam? Gorengan? Kerupuk? Atau rempeyek udang? Tidak. Yang kamu butuhkan sebagai pelengkap untuk seporsi mie ayammu bukan ketiga kudapan tadi. Kamu mungkin mendebat bahwa mie ayam butuh sambal, wabilkhusus sambal terasi. Kamu gila namanya. Makan mie kok pake sambel terasi. Nggak sekalian pake cingur?

Bagaimanapun, rumus memakan seporsi mie ayam agar menjadi kepalang bedebah enaknya adalah menambahnya dengan saus. Ah, penyebutan saus (dengan huruf U) rasanya kurang sedap. Kita ganti saja biar lebih tegas: Saos!

Sadar atau tidak, berkelit atau mengakui, selama ini saos yang kamu gunakan untuk menambah kelezatan mie ayam bukanlah saos seharga puluhan ribu yang hanya dijual di supermarket “persimpangan” (baca: Carefour), melainkan saos abal-abal berwarna orange cerah yang dikemas dalam botol-botol tanpa merk yang jelas.

Saos yang konon dibuat dari olahan tomat, ketela, pepaya, dan cabai busuk dan dijual per botol tak sampai dua ribu rupiah. Jenis saos yang akan membuat bawel seorang ahli gizi atau si caper penggila hidup sehat. Salah satu acara berita di stasiun televisi bahkan pernah meliput khusus tentang saos tanpa nama ini.

Tapi adakah ritual makan mie ayam dengan campuran saos abal-abal itu lenyap? Tidak. Di setiap bakul mie ayam di manapun, saos macam itu mesti tetap digunakan dan konsumen pun mempersetankan apa kata berita dan petuah medis. Mungkin mereka bergidik jika tahu bagaimana saos itu dibuat. Tapi lidah juga butuh orgasme sesekali, bukan?

Iklan

Para konsumen saos abal-abal ini, tak peduli apakah ia seorang pemuda desa yang dirampas haknya atau bunda yang merelakan darah juang anaknya, pun juga punya teknik pemakaiannya sendiri.

Bagi mereka yang masuk ke dalam golongan tak sabaran, biasanya dengan cekatan akan memukul-mukul pantat botol agar saos cepat muncrat. Sementara mereka yang lebih sederhana punya koridor estetikanya sendiri: menuangkan sedikit kuah mie ayam ke dalam botol. Tujuannya apalagi selain agar saos bisa mengalir dengan jernih?

Tentu saja jika saos abal-abal semacam ini kita bawa uji laboratorium akan mendapatkan hasil yang mencengangkan. Tapi apa boleh bikin, saos abal-abal ini seolah telah menjadi salah satu menu wajib para pemburu mie ayam.

Sama seperti mecin yang ditolak sana-sini karena dianggap racun dan membodohkan, tetapi jika bakso atau mie ayammu sudah ditaburi zat itu, rasanya kamu hanya akan meludah di atas piring yang penuh dengan swedish meatball.

Tak perlu malu untuk mengakui bahwa kamu memang menggilai saos abal-abal itu. Entah kamu makan mie ayam di pinggir jalan atau di sekitar terminal, di dalam mal atau dari gerobak yang suka lewat kompleks rumah, saos abal-abal tersebutlah yang sesungguhnya kamu cari.

Asyiknya, minuman apapun cocok untuk menemani santap mie ayam dengan saos abal-abal itu. Es teh manis, es teh tawar, es jeruk, atau air putih dingin saja juga tetap nikmat. Dan ketika hidangan itu telah tandas, kita pun mengucap syukur seperti habis menang perang: “Duh, Gusti… mie ayam karo saos rasane mancal!”

Maka jelas sudah semuanya. Persetankan saja pizza dan tepung kedaluwarsanya yang elitis itu. Selama mie ayam dan saos abal-abal masih bisa dijumpai, Internasionale pastilah di dunia!

 

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2021 oleh

Tags: #AdaApaDenganPizzamie ayampizzaPizza Hutsaos abal-abal
Benny SR

Benny SR

Artikel Terkait

Mie ayam surabaya untuk quality time. MOJOK.CO
Urban

Makan Mie Ayam, “Quality Time” Orang Surabaya dan Balas Dendam Terbaik untuk Melampiaskan Getirnya Hidup

25 Februari 2026
mie ayam Surabaya. MOJOK.CO
Catatan

Mie Ayam Surabaya Buatan Pak Man, Tempat Saya “Berobat” setelah Lelah di Perantauan meski Pedagangnya Pendiam

20 Februari 2026
Ilustrasi Mie Ayam di Jogja, Penawar Kesepian dan Siksaan Kemiskinan (Unsplash)
Pojokan

Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam

19 Januari 2026
Mie ayam di Jakarta jadi saksi para pekerja berusaha tetap waras meski penuh beban hidup MOJOK.CO
Kuliner

Mie Ayam di Jakarta, Saksi Pekerja Berusaha Waras setelah Berkali-kali Nyaris Gila karena Kerja dan Beban dari Orang Tua

14 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Stasiun Pasar Senen Jakarta Pusat merampas senyum perantau asal Jogja MOJOK.CO

Stasiun Pasar Senen Saksi Perantau Jogja “Ampun-ampun” Dihajar dan Dirampas Jakarta, Tapi Terlalu Cemas Resign buat Balik Jogja

15 Maret 2026
Sarjana (lulusan S1) susah cari kerja. Sekali kerja di Sidoarjo dapat gaji kecil bahkan dapat THR cuma Rp50 ribu MOJOK.CO

Ironi Sarjana Kerja 15 Jam Perhari Selama 3 Tahun: Gaji Kerdil dan THR Cuma 50 Ribu, Tak Cukup buat Senangkan Ibu

17 Maret 2026
Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar.MOJOK.CO

Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar

16 Maret 2026
Kerja di Jakarta, Purwokerto, KRL.MOJOK.CO

Kerja Mentereng di SCBD Jakarta tapi Tiap Hari Menangis di KRL, Kini Temukan Kedamaian Usai Resign dan Kerja Remote di Purwokerto

13 Maret 2026
Makanan Khas Jawa Timur Obat Rindu Kala Mudik ke Surabaya (Aly Reza/Mojok.co)

Makanan Khas Jawa Timur di Jogja yang Paling Bikin Perantau Surabaya Menderita: Kalau Nggak Niat Mending Nggak Usah Jualan, Bikin Kecewa

14 Maret 2026
Gen Z dapat THR saat Lebaran

3 Cara Gen Z Habiskan THR, padahal Belum Tentu Dikasih dan Jumlahnya Tidak Besar tapi Pasti Dibelanjakan

18 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.