Penjelasan Kami tentang Ilustrasi Cak Nun sebagai Karakter Naruto di Mojok.co

Ilustrasi gambar Emha Ainun Najib atau Cak Nun pada artikel berjudul “Cak Nun, Khilafah, PKI” yang ditulis Iqbal Aji Daryono dan dimuat di Mojok.co menuai kontroversi. Kami disebut tidak sopan, melecehkan, dan merendahkan beliau.

Ilustrasi itu menggambarkan Cak Nun tengah bicara dengan semangat berapi-api dengan ikat kepala ninja dari Desa Konoha, desa fiktif dalam manga Naruto: Shippuden. Beberapa jemaah Maiyah menyebut ilustrator Mojok tak sopan karena menggambar sosok Cak Nun dengan gambar ala manga.

Sebenarnya ada makna di balik penggambaran Cak Nun sebagai anggota Desa Konoha. Dalam saga Naruto, Desa Konoha adalah desa daun api yang menjadi rumah bagi para pembela kebenaran dan juga sosok protagonis Naruto. Desa ini berkomitmen menjaga perdamaian dunia ninja dan menolak penggunaan kekerasan sebagai jalan utama untuk mencapai kepentingan desa.

Konoha adalah satu dari sekian banyak desa dalam komik Naruto yang berusaha bertahan dari perang yang berkecamuk antar ninja. Desa ini berusaha menjaga integritas, meski tentu ada orang-orang picik yang jahat di sana.

Apa hubungannya dengan Cak Nun?

Kami merasa Cak Nun seperti ninja dari Desa Konoha. Orang-orang kerap tak bisa memahami maksud dan aktivitas yang ia lakukan. Seperti saat berdakwah dan berada satu forum dengan Kivlan Zein, beliau dikritik, mengingat sosok Kivlan yang kontroversial.  Tapi, apakah Cak Nun mendendam? Sampai hari ini kami belum pernah melihat ada respons negatif dari beliau.

Cak Nun dalam banyak hal merupakan representasi dari Itachi Ucciha. Di Desa Konoha, ia dianggap sebagai penjahat karena mau bekerja dengan Akatsuki. Ini mengingatkan kami saat Cak Nun dihujat karena mau menerima Prabowo dan Kivlan Zen.

Dalam artikel di Mojok tersebut, Cak Nun blak-blakan terbuka bicara, ia menjelaskan bahwa siapa pun boleh datang kepadanya, bicara dan berbagi. Masalahnya,selama ini orang-orang yang merasa progresif dan pro-penegakan HAM, belum mendatanginya di majelis Maiyah.

“Lho, lha memang mereka nggak pernah ada yang datang, kok” kata Cak Nun.

Kami senang saat menerima naskah tersebut karena isinya melawan asumsi bahwa Cak Nun anti ini dan itu. Dalam wawancaranya tersebut, Cak Nun menyatakan berkomitmen untuk terus terbuka pada siapa pun. Sosok ini kembali mengingatkan saya pada Naruto yang bahkan kepada orang yang diduga jahat seperti Gara atau Sasuke, ia masih mau menerima bahkan mengajak mereka untuk jadi baik.

Mengapa kami perlu menulis klarifikasi ini? Karena kami merasa  jangan sampai pesan baik dari artikel tersebut ditutupi oleh polemik tentang gambar. Isi artikel tersebut memiliki daya gedor yang bisa menjawab banyak pertanyaan. Misalnya, tentang sikap beliau terhadap Kivlan Zen, sikap Cak Nun tentang PKI, sampai prinsip Cak Nun tentang khilafah yang membuat banyak orang bereaksi negatif terhadapnya.

Jika kita kesal terhadap orang yang memotong dan memutilasi pernyataan Cak Nun di Maiyah, mengapa kini kita mudah menjatuhkan vonis kurang ajar pada mereka yang menafsir sosok Cak Nun dalam gambar? Kami bisa membela diri, misal bahwa sosok Gus Dur sajadibikin komik sedang memainkan kungfu, atau Gus Mus yang dibikinjadi karakter The Matrix, tapi ini kan pembelaan yang tak bermutu.

Kami kira, penghormatan terbaik terhadap Cak Nun adalah dengan menjalankan nilai yang ia sebarkan, dan nilai yang disebarkan Cak Nun ialah sikap adil dan rendah hati.

Semoga catatan ini bisa menjawab.

Gambar ilustrasi yang dipermasalahkan pembaca Mojok
Gambar ilustrasi yang dipermasalahkan pembaca Mojok

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.