Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Balbalan

PSS Sleman di Titik Nadir

Menculik PSS dari Sleman fans akan membawa petaka lanjutan.

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
15 Oktober 2021
A A
PSS Sleman di Titik Nadir MOJOK.CO

PSS Sleman di Titik Nadir MOJOK.CO

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – PSS Sleman, kamu sudah jatuh di titik nadir. Usaha menjauhkan entitas terkasih dari Sleman fans adalah dosa yang sulit ditebus.

Bagi saya, hubungan antara klub dan suporter seharusnya sejajar. Saling memberi, saling menerima. Memang, “sejajar” di sini tidak selalu terasa adil. Namun, bukankah memang seperti hubungan cinta? Memberi tak harap untuk kembali asal rasa ikhlas dan saling memiliki tetap ada di sana.

Beberapa hari yang lalu, saya menyimak obrolan antara Kepala Suku Mojok, Puthut EA, dengan dua sesepuh Slemania dan BCS. Mereka adalah Mas Ndaru Supriyono yang pernah menjabat sebagai sekretaris Slemania dan Mas Tonggos, capo BCS, ultras PSS Sleman, sekaligus penulis buku Pada Suatu Waktu yang Sleman Sekali.

Ketiga orang luar biasa ini bersepakat untuk satu hal, yaitu menjadi suporter itu memang hidup dalam dunia yang tidak masuk akal. Mas Ndaru menyebutnya irasional. Gimana masuk akal kalau suporter membakar uang yang tidak sedikit untuk ikut tim tandang, membeli jersi asli, terancam nyawanya ketika diserang fans lain, dan pulang dalam keadaan tidak sehat. Namun, meski berkorban seperti itu, seorang fans akan tetap mengulanginya lagi.

Jika diizinkan untuk menerjemahkan cinta Mas Ndaru dan Mas Tonggos, mencintai PSS Sleman adalah usaha untuk mempertahankan identitas. Menghidupi cinta yang sudah harga mati. Cinta yang tidak bisa ditawar. Cinta yang besar dan sudah selayaknya dirawat oleh PSS Sleman itu sendiri.

Namun, celaka, manajemen yang sekarang mengasuh PSS Sleman malah berkhianat. Manajemen malah seperti menciptakan jarak. Seperti menghapus cinta Sleman fans yang sangat tulus, dicurahkan sejak PSS Sleman berkutat di divisi bawah. Cinta yang ditampik, padahal ikhlas diberikan.

Kebohongan yang ditebar oleh manajemen malah membuat PSS Sleman terasing. Kebohongan yang bagi saya sangat fatal. Kebohonga yang membawa Super Elang Jawa ini ke titik nadir dalam hubungannya dengan para suporter.

PSS Sleman menampik cinta

Sudah selayaknya, dalam hubungan asmara, ada fase marahan dan ngambek. Hubungan asmara yang tidak pernah diwarnai oleh fase tersebut justru bukan hubungan yang sehat. Kenapa? karena tidak ada kejujuran dan keterbukaan di sana. Yang ada hanya hubungan satu arah, tidak ada rasa hangat.

Manajemen PSS Sleman sudah melakukan kesalahan fatal itu. Mereka membohongi suporter sendiri. Bagi saya, ini dosa yang tidak termaafkan. Jangan pernah anggap sepele kejujuran. Apalagi kepada insan yang selalu mencintaimu secara penuh.

Suatu kali, selepas putaran pertama BRI Liga 1, PSS Sleman tidak kembali ke Sleman. Mereka menetap di Jakarta. Manajemen berdalih, keputusan berlatih di Jakarta karena putaran kedua BRI Liga 1 akan dilaksanakan di sini. Ketika semua klub tahu kalau putaran kedua akan digelar di Solo dan Jogja, kenapa manajemen PSS Sleman malah membohongi orang-orang yang mencintainya?

Apakah Sleman fans adalah sekumpulan orang bodoh gampang menurut? Apakah Sleman fans sekumpulan kerbau yang hidungnya siap dicucuk dan manut begitu saja? Sebuah kesalahan fatal di mata saya.

Manajemen PSS Sleman menghindari kemarahan suporter dengan membuka kebohongan. Padahal, satu kebohongan, biasanya, akan diikuti oleh kebohongan lainnya. Misalnya, di putaran kedua BRI Liga 1, tetap memainkan Arthur Irawan dan mempertahankan Coach Dejan. Kebohongan apa lagi yang akan dipakai manajemen?

Suporter bola itu sekumpulan insan yang sensitif dan sangat vokal. Mereka akan dengan mudah memaki untuk menyuarakan isi hatinya. Namun, dear manajemen PSS Sleman, di antara makian-makian itu, ada kasih yang genuine. Mereka yang munafik dan tidak peduli akan diam saja, memaklumi keadaan. Namun, mereka yang peduli, pasti bersuara.

Bagaimana caranya meredam kemarahan mereka? Sederhana sekali. Manajemen PSS Sleman harus legawa datang untuk mengobrol dari hati ke hati. Mereka butuh disentuh hatinya, bukan dihindari karena takut. Mau bagaiamana, Sleman fans adalah entitas yang menghidupi PSS Sleman.

Iklan

Cinta konkret Sleman Fans untuk PSS Sleman

Misalnya BCS, yang mendukung dengan koreo, giant flag, dan terutama: bernyanyi selama 90 menit penuh!

BCS membiayai koreografi mereka dengan cara “patungan”. Cara sederhananya adalah menambahkan Rp1.000 ke dalam tiket khusus untuk BCS (tribun kuning). Sesuai slogan “no ticket, no game”, BCS bisa mandiri menghidupi, sekaligus mengajak semua suporter untuk tidak membeli tiket dari calo. Jadi, suporter diajak berkontribusi langsung untuk kesehatan keuangan klub.

Bicara BCS, juga bicara Curva Sud Shop (CSS). Toko merchandise ini lahir dari keprihatikan akan ketiadaan toko resmi PSS Sleman. CSS lahir dalam bentuk sebatas etalase kaca di depan ruko, hingga kini mampu menyewa ruko secara pribadi.

Uang hasil dodolan (berjualan) dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan. Salah satunya dengan yang disebut “royalti untuk klub”, yaitu sejumlah dana yang disetor untuk klub. Nilainya tak main-main. Gambarannya, di jersei PSS Sleman, sempat terpampang nama CSS. Bisa membayangkan berapa “nilai” yang dikeluarkan untuk bisa memasukkan nama merek ke dalam jersei pemain, kan?

Yang paling fenomenal adalah ketika CSS menjadi “sponsor kebugaran tim”. Berawal dari pemikiran bahwa klub profesional harus punya tenaga fisioterapis profesional, CSS menyumbang alat-alat kebugaran yang mendukung kerja Sigit Pramudya, fisioterapis PSS Sleman kala itu. Belum istimewa, namun Sigit menyebutnya sudah sangat cukup untuk ukuran klub profesional di Indonesia.

Lewat fakta di atas kita bisa tahu bahwa PSS Sleman pernah bertahan hidup, separuhnya, karena suporter. Fakta ini juga menegaskan bahwa sebuah klub tidak akan bisa langgeng tanpa suporter. Kini, manajemen membuat PSS jauh dari suporter? Jahat sekali.

Kira-kira, manajemen PSS ingat tidak sebuah peristiwa di 2018 ketika harga tiket dinaikkan Rp5.000? Saat itu, manajemen membutuhkan suntikan dana demi menutup biaya operasional mengarungi babak delapan besar Liga 2. Apa jawaban Sleman fans? Tiket yang harganya naik itu langsung ludes! Demi langgengnya sebuah tim, suporter akan melakukan apa saja yang di luar nalar!

Sejarah kontribusi itu seperti disepelekan. Dianggap tidak ada ketika manajemen menjauhkan PSS Sleman dengan suporter yang mencintai sepenuh hati. Bagi saya pribadi, sikap ini sudah fatal.

PSS Sleman, kamu jatuh di titik nadir. Usaha menjauhkan entitas terkasih dari suporter adalah dosa yang sulit ditebus. Mungkin manajemen terpikir untuk membuat keadaan menjadi lebih baik. Sebuah pikiran yang mulia, tapi saya rasa, kalau mau mewujudkan pikiran itu, jangan di Sleman.

Manejemen boleh angkat kaki dan silakan “berkarya” di tempat lain, di mana suporternya diam dan pasrah. Menculik PSS dari Sleman fans akan membawa petaka lanjutan. Sudah di titik nadir, mau jatuh lebih dalam lagi?

BACA JUGA Arthur Irawan Kuwi Sopo: Bahaya Masalah Internal PSS Sleman dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Terakhir diperbarui pada 15 Oktober 2021 oleh

Tags: Arthur IrawanbcsBRI Liga 1pak marcopss slemanslemanSlemania #DejanOut
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Naik Travel dari Jogja ke Surabaya Penuh Derita, Nyawa Terancam (Unsplash)
Pojokan

Naik Travel dari Jogja ke Surabaya, Niatnya Ingin Tenang Berakhir Penuh Derita dan Nyawa Terancam

13 Maret 2026
Anak rantau di Jogja pilih jadi marbot. MOJOK.CO
Sehari-hari

Derita Anak Rantau di Jogja: Sulit Cari Kos Murah, Nyaris Terjebak Dunia Gelap, hingga Temukan “Berkah” di Masjid

6 Maret 2026
Gamplong Studio Alam, Tempat Wisata Sleman yang Unik, tapi Nggak Perlu Diulang Dua Kali Mojok.co
Pojokan

Gamplong Studio Alam, Tempat Wisata Sleman yang Unik, tapi Nggak Perlu Diulang Dua Kali

27 Februari 2026
Bisnis coffe shop, rumah dekat kafe, jogja.MOJOK.CO
Urban

Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur

26 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Geger Sepehi 1812: Bukti Keteguhan Sri Sultan Hamengkubuwono II Menolak Tunduk pada Penjajah.MOJOK.CO

Geger Sepehi 1812: Bukti Keteguhan Sri Sultan Hamengkubuwono II Menolak Tunduk pada Penjajah

5 April 2026
Lulusan farmasi PTS Jogja foto keluarga

Lulusan Farmasi PTS Jogja Bayar Mahal untuk Wisuda, tapi Gagal Foto Keluarga karena Ayah Harus Dirawat di Rumah Sakit Jiwa

7 April 2026
Innova Reborn: Mobil Keluarga yang Paling Punya Adab (Wikimedia Commons)

Ketika Bapak Semakin Ngotot Membeli Innova Reborn untuk Jadi Mobil Keluarga, Anak-anaknya Khawatir Hidup di Desa Jadi Cibiran Tetangga

4 April 2026
perumahan, tinggal di desa, desa mojok.co

Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living

8 April 2026
Pekerja gen Z matikan centang biru WhatsApp dicap kepribadian buruk

Pekerja Gen Z Matikan Centang Biru WhatsApp demi Privasi, Malah Dicap Kepribadian dan Etos Kerja Buruk padahal Berusaha Profesional

5 April 2026
Tinggalkan Jakarta demi punya rumah desa untuk slow living, berujung kena mental karena ulah tetangga MOJOK.CO

Orang Jakarta Nyoba Punya Rumah di Desa, Niat Cari Ketenangan Berujung Frustrasi karena Ulah Tetangga

7 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.