Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Balbalan

Hasil Timnas Indonesia vs UEA 2-2 (3-4 ap): Khilaf Luis Milla, Kekalahan Indonesia

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
24 Agustus 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kekhilafan Luis Milla berujung kekalahan timnas Indonesia di tangan UEA. Kalah adu penalti dengan skor akhir 3-4, mimpi semifinal hanya angan belaka.

Seperti yang saya takutkan di akhir tulisan sebelumnya, Luis Milla betul-betul khilaf. Terkadang saya ngeri sendiri dengan kekuatan ramalan saya yang begitu jarang tepat ini. Saya menyarankan Luis Milla untuk memainkan semua pemain utama mereka. Pemain-pemain yang menghantarkan timnas Indonesia ke babak 16 besar Asian Games 2018.

Kamu tahu yang dilakukan Luis Milla? Beliau memainkan Andy Setyo untuk menggantikan Rezaldi Hehanusa. Masuknya Andy Setyo membuat posisi bek kiri timnas Indonesia diisi Ricky Fahrin. Mengapa Luis Milla menggantikan Rezaldi dengan Andy Setyo? Sungguh sulit mencari alasan Luis Milla menggantikan Rezaldi dengan Andy Setyo.

Mengapa pergantian ini menjadi masalah? Pertama, match fit Andy Setyo tidak maksimal. Apalagi untuk pertandingan dengan intensitas tinggi. Respons akan terganggu, sering terlambat bereraksi, dan bertindak. Buktinya terjadi ketika Andy Setyo gagal mengantisipasi pergerakan pemain Uni Emirat Arab (UEA) di sisi kiri pertahanan timnas Indonesia.

Ketika kalah lari, yang dilakukan Andy Setyo justru berusaha masuk dari sisi dalam pemain Uni Emirat Arab. Lari menyilang Andy Setyo justru menyenggol kaki pemain UEA. Ia terjatuh dan penalti diberikan. Uni Emirat Arab unggul sato gol sebelum menit 20. Berselang dua menit kemudian, Andy Setyo kembali membuat blunder. Untung saja tidak terjadi gol.

Tertinggal satu gol, timnas Indonesia yang pada dasarnya belum mampu mengontrol tempo, kehilangan ketenangan. Banyak umpan yang seharusnya mudah, umpan pendek, gagal diberikan. Banyak salah pengertian karena terburu-buru melepas umpan vertikal. Satu hal yang berbahaya adalah tidak ada kerapatan antar-lini sehingga serangan balik UEA terasa menggigit.

Babak pertama berakhir dengan keunggulan UEA lewat titik penalti. Entah mengapa, ketika lawan tidak bermain istimewa, timnas Indonesia juga terbawa. Ada-ada saja.

Luis Milla mulai menyadari bahwa memainkan Andy Setyo adalah sebuah blunder. Sebelum babak kedua dimulai, pelatih asal Spanyol tersebut mengganti Andy Setyo dengan Septian David. Pemain serba bisa menggantikan bek tengah. Untuk babak kedua, timnas Indonesia bermain dengan skema tiga bek.

Bermain dengan skema dasar 3-5-2, cara bermain timnas Indonesia masih belum nyaman. Namun, setidaknya, lini tengah menjadi lebih padat. Sebuah situasi yang memudahkan timnas Indonesia memindahkan bola dari sisi ke sisi. Menit ke-52, sebuah serangan sporadis, mengizinkan Septian David menguasai bola di sisi kanan pertahanan UEA. Sebuah umpan silang ke tiang jauh disambut Beto Goncalves. Timnas Indonesia 1-1 Uni Emirat Arab.

Penempatan diri Beto yang sungguh matang berhasil menyelesaikan usaha sporadis timnas Indonesia di awal babak kedua. Namun sayang, kita bicara sebuah timnas yang belum stabil mempertahankan performa. Selepas gol, perbaikan cara bermain tidak terlihat. Terlalu banyak bola jauh yang tidak bisa digapai pemain depan.

Di tengah situasi negatif tersebut, kembali, penempatan diri yang salah dari pemain timhas Indonesia membuat pemain UEA mampu menerobos masuk ke kotak penalti. Sebuah tarikan dan gesekan kaki dari Hansamu sukses menjatuhkan pemain UEA. Penalti kedua. Gol kedua untuk UEA.

Perbaikan yang dinantikan itu baru terlihat di menit ke-80. Bola pendek, presisi, dan kesabaran untuk masuk ke sepertiga akhir menyulitkan UEA. Timnas Indonesia sebetulnya unggul di aspek teknik umpan dan terutama di situasi satu lawan satu. Ketika bola sampai di dua pemain sayap, timnas Indonesia selalu bisa masuk ke kotak penalti. Mengapa sikap ini tidak ditunjukkan sejak awal pertandingan, Luis Milla?

Perbaikan cara bermain itu membuahkan hasil yang diharapkan. Di ujung menit babak kedua, lewat umpan manis dari Saddil Ramdani, Stefano Lilipaly berhasil menyamakan kedudukan. Skor akhir 2-2, timnas Indonesia vs UEA lanjut ke babak tambahan. Sikap bermain yang lebih tenang itu berhasil dibawa ke babak tambahan waktu. Pemosisian diri dan ketenangan itu sangat membantu timnas Indonesia membuat peluang.

Kerja keras timnas Indonesia untuk membalikkan keadaan berujung jalan buntu. Dua kali babak tambahan, skot tidak berubah. Mau tau mau, pertandingan ini dibawa ke babak pamungkas, adu penalti. Babak yang tidak bisa diraba, ketika Indonesia kehilangan keberuntungannya. Misi mencapai babak semifinal Asian Games 2018 kandang di tangan UEA.

Iklan

Kekhilafan Luis Milla ketika bereksprimen dengan memasang Andy Setyo menggantikan Rezaldi Hehanusa harus dibayar begitu mahal. Mojok Institute sudah serius mengingatkan. Sedih rasanya tidak didengarkan.

Terakhir diperbarui pada 24 Agustus 2018 oleh

Tags: adu penaltiasian games 2018luis millatimnas indonesiaUEAuni emirat arab
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Kalau gue jadi Patrick Kluivert, gue nggak mau menjadi pelatih Timnas Indonesia gantikan Shin Tae Yong karena Ketum PSSI Erick Thohir problematik MOJOK.CO
Ragam

Kalau Jadi Patrick Kluivert Gue Nggak Mau Kerja sama Erick Thohir yang Interview Kerja di Hari Raya, Tak Punya Value dan Tak Tahu Batas

9 Januari 2025
Timnas Indonesia Gagal Lagi di AFF, Siapa yang Pantas Disalahkan?
Video

Timnas Indonesia Gagal Lagi di AFF, Siapa yang Pantas Disalahkan?

28 Desember 2024
Shin Tae Yong tanpa pemain naturalisasi di Timnas Indonesia dalam Piala AFF 2024 kayak pelatih amatir MOJOK.CO
Aktual

Shin Tae Yong Tanpa Pemain Naturalisasi Jadi Pelatih Biasa Aja yang Tak Kelihatan Hebatnya

10 Desember 2024
Histori

Ingatan Memalukan di Stadion Bahrain 12 Tahun Silam, Catatan dari Era Bobrok PSSI

10 Oktober 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Orang Jogja Syok Merantau ke Jakarta karena Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak Mojok.co

Orang Jogja Syok Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak di Jakarta

16 April 2026
PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO

Jadi PNS di Desa Luar Jawa Lebih Sejahtera daripada di Kota, Ilmu Nggak Sia-sia dan Nggak Makan Gaji Buta

20 April 2026
Lulusan SMK cuma kerja jadi pegawai di SPBU, diremehkan saudara tapi malah jadi tempat ngutang MOJOK.CO

Lulusan SMK Kerja di SPBU Diremehkan, Malah Jadi Tempat Ngutang buat Kuliah Anak Saudara karena Dikira Punya Segepok Uang

21 April 2026
Ilustrasi punya rumah megah di desa.MOJOK.CO

Membangun Rumah Megah demi Penuhi Standard Kesuksesan di Desa Malah Bikin Ibu Tersiksa: Terasa Sepi, Cuma “Memuaskan” Mata Tetangga

21 April 2026
Derita anak pintar dan siswa berprestasi yang hidup dalam kemiskinan di desa. Tak dapat dukungan pendidikan dari orang tua MOJOK.CO

Jadi Anak Pintar di Desa Tanpa Privilege Sia-sia: Ortu Tak Dukung Pendidikan karena Kemiskinan, Lulus Sekolah Dipaksa Nikah dan Bekerja

22 April 2026
Ezra, alumnus UGM umur 25 tahun, yang lanjut kuliah S2 dan ikut ekspedisi ke Antartika, nggak peduli quarter-life crisis

Umur 25 Tahun Nggak “Level” dengan Quarter-Life Crisis, Alumnus UGM Kuliah S2 di Australia dan Ekspedisi Ilmiah di Antartika

17 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.