Arsip Artikel: Aisyah Amira Wakang
828 ArtikelJurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.
Kedermawanan Penjual Kopi di Jogja, Menyalurkan Makanan Berlebih kepada Mahasiswa dan Orang-orang yang Membutuhkan
Siapa sangka, untuk lulus dari kampus elit seperti Universitas Gadjah Mada (UGM), banyak mahasiswa yang bertahan hidup dengan makanan “sisa”.
Sama-sama Punya Danau, Tapi Anak UNAIR Lebih Nyaman Main di Danau UNESA karena Lebih Indah dan Ramah
Tulisan ini berisi cerita mahasiswa UNAIR yang lebih suka merenung di danau UNESA ketimbang danau di UNAIR.
Kisah Mbah Juno, Pedagang Salak Keliling di Kaliurang Jogja yang Bisa Kuliahkan Anak hingga Tinggal di Norwegia
Sudah 40 tahun lebih, Mbah Juno menjual salaknya di Kaliurang Jogja. Kini, ia bisa kuliahkan anak yang sekarang tinggal di Norwegia. Semoga tulisan ini bisa mengingatkanmu tentang perjuangan ibu.
Susahnya Pakai Zendo yang Layanannya Pakai WA Bukan Aplikasi, Tak Cocok untuk Saya yang Memiliki Kesabaran Setipis Tisu
Tulisan ini berisi catatan saya memesan layanan ojek online Zendo menuju Nawang Jagad, Jogja yang lokasinya tak jauh dari Gunung Merapi.
Yang Diuntungkan dan Yang Terpinggirkan Akibat Program Makan Bergizi Gratis di Jogja
Tulisan ini berisi temuan Tim Mojok saat mengamati pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di sekolah-sekolah Sleman, Jogja. Ada yang untung tapi lebih banyak yang rugi.
Lontong Balap Petemon: Warung Legend yang Selamatkan Perantau di Surabaya
Di kawasan Petemon, Surabaya ada warung lontong balap legendaris, resepnya turun temurun dari 5 generasi.
Jogja Krisis Air, Pemerintah Malah Bikin Proyek yang Menghambat Sumber Air
2025 ini penduduk Jogja harus was-was, karena krisis air mulai mengancam kehidupan.
Taman Prestasi, Pilihan Main Warga Surabaya yang “Berjarak” dari Kemewahan Mal
Tulisan ini membuat saya berpikir ulang, jangan-jangan alasan keluarga saya dulu sering mengajak bermain ke Taman Prestasi ketimbang mal adalah untuk berhemat.