• 5.3K
    Shares

MOJOK.COBanyak anggapan menjadi master of none itu nggak greget sama sekali. Bisa banyak hal sih, tapi kualitasnya serba nanggung.

“Aku bisa begini, aku bisa begitu. Bisa ini bisa itu banyak sekali…”

…tapi nggak ada yang betul-betul jadi ahli.

Menjadi seorang yang ‘katanya’ multitalent itu menyenangkan. Saya pengin bersombong diri, bahwa saya termasuk orang yang ‘lumayan’ multitalent. Buktinya, saya bisa melakukan banyak hal dalam satu waktu. Eh, maaf, ini kok jadinya multitasking, ya? Perlu saya garis bawahi pakai penggaris 5 cm, kalau saya bisa. Bukan ahli. Jadi, ketika saya mencoba mengevaluasi, sebetulnya kemampuan apa yang paling kuat melekat pada diri saya: saya bingung. Pasalnya, segala kemampuan yang ada itu, semuanya sekadar setengah-setengah. Nggak ada yang betul-betul mantep.

Adakah yang mengalami hal yang serupa?

Saya yakin banyak. Apalagi katanya, banyak orang Indonesia yang terjerumus dalam si jack of all trades but master of none yang berkedok multitalent ini. Eits, apa itu jack of all trades but master of none? Seperti yang sekelebat saya uraikan di atas, ia adalah bisa banyak hal tapi nggak menjadi master di bidang mana pun. Jadi, ia tahu tentang banyak hal, tapi tidak menguasai apa pun, karena tahunya cuma sedikit-sedikit.

Lantas, mengapa banyak orang Indonesia yang mengalami hal ini? Dikarenakan sistem pendidikan Indonesia—setidaknya—dari SD sampai SMA, telah memaksa kita untuk menguasai semua bidang pelajaran, yang dalam satu semester jumlahnya belasan itu. Padahal, menguasai hati satu orang saja kita sering kali tidak mampu.

Kita dididik untuk cerdik dalam pelajaran matematika yang mengedepankan logika, lihai dalam bermain kasti, hingga sanggup menunjukkan darah seni dalam pelajaran kesenian—yang ujiannya biasanya malah ditanyai soal teori dan sejarah seni. Jan, ra mashook blas!!11!!!

Selain begitu banyaknya jumlah mata pelajaran yang harus kita kuasai—entah dikarenakan pendidik atau sistem pendidikannya—kita juga dituntut untuk memahami semua itu dengan cara hafalan. Lantas, apa yang bisa diharapkan dengan teknik hafalan dari otak—macam saya—yang pas-pasan?

Baca juga:  Fenomena Pengecer Quote dari Kaum Pencela “Master of None” sampai Penolak RUU PKS

Yak, betul: ketika keluar dari ruang ujian, semuanya ambyar!

Sebelumnya, saya kira menjadi orang yang ‘merasa’ bisa mengerjakan banyak hal, itu menyenangkan. Namun ternyata, itu sungguh nanggung adanya. Lha gimana nggak nanggung, je. Lha wong, setiap pekerjaan yang dikerjakan, hasilnya kurang sempurna dan sering kali… mengecewakan.

Ada teman saya namanya Susi. Dalam perjalanannya mencari passion, dia pernah menekuni bidang teater, pernah juga fokus menggambar—karena pengin jadi seniman lukis. Selain itu, dia juga gemar ngutak-ngutik dan berkecimpung dalam bidang crafting. Tidak hanya itu, Susi juga pengin jadi musisi dengan belajar bermain gitar.

Beberapa waktu lalu, dia bercerita kepada saya. Bingung harus fokus di bidang apa. Katanya, ia menyukai semua bidang tersebut dan tidak dapat menentukan mana yang paling baik untuknya. Pasalnya, yang baik baginya, tergantung kapan kemampuan itu diperlukan. Meski sesungguhnya, katanya sih, nggak ada kemampuan yang baik-baik amat.

Kata Susi, memiliki kemampuan banyak dan nanggung ini, mungkin—selain karena sistem pendidikan—juga dampak dari perasannya yang mudah berubah. Dia mengalami mood swing, sehingga tiba-tiba semangat dengan satu hal. Lalu di saat yang lain, ia merasa malas-malasan dengan hal tersebut. Tidak lagi merasa bahwa dunia crafting—meski sampai rela beli mesin jahit—jadi menarik lagi.

Banyak yang mengkritisi fenomena master of none, karena dianggap berkontribusi besar dalam men-stagnan-kan pertumbuhan para ahli. Pasalnya, tidak banyak orang yang akhirnya mampu mengerjakan satu bidang saja, sehingga fokus dan mendalam. Tidak mengherankan, jika kemudian menjadi master of none ini seolah tidak diharapkan, atau lebih tepatnya dianggap sebagai proses masing-masing individu dalam menggali passion yang terpendam cukup dalam…

Baca juga:  Fenomena Pengecer Quote dari Kaum Pencela “Master of None” sampai Penolak RUU PKS

…supaya bisa jadi ahli dalam merindukanmu.

Tapi tenang aja. Nggak perlu gupuh untuk berkecil hati dan rendah diri. Menjadi master of none itu sebetulnya nggak semenyedihkan itu, kok. Kemampuan yang setengah-setengah ini membuat kita layak menjadi pembantu umum ketika terlibat dalam kepanitiaan berlatih memahami banyak bidang di saat yang bersamaan. Tentu saja dengan kemampuan yang secukupnya.

Bisa melakukan banyak hal meski hanya setengah-setengah, justru bakal membantu kita untuk menjadi manusia mandiri. Misalnya, kalau mau ngasih kejutan ulang tahun ke pasangan, kita bisa bikin kuenya sendiri, dekor venue-nya sendiri, ngundang teman-temannya sendiri, bikin kado sendiri, hingga sebagai pengisi acara hiburannya sendiri. Jika kita ternyata lebih strong lagi, sekalian dokumentasi acaranya difoto-foto sendiri.

Sungguh, sebuah kedok multitalent yang membawa berkah karena hemat. Ya, hemat dan pelit memang beda tipis.

Seorang master of none, juga membantu kita melihat suatu hal dari berbagai perspektif. Meski tidak mendalam, namun punya pandangan yang lebih luas. Biasanya, orang-orang macam gini, dia enak dan nyaman diajak ngobrol banyak hal, tanpa kita merasa takut di-judge. Diajak ngomongin politik dunia sampai rumah makan enak dan murah, dia bakal nyambung-nyambung aja…

…terus ujug-ujug muncullah benih-benih baper yang bertepuk sebelah tangan.

Selain itu, menjadi master of none ini, juga memberikan sumbangsih untuk kehidupan kita supaya tidak lagi membosankan dan nggak punya tujuan jadi pengin bunuh diri. Kita jadi punya banyak alternatif kegiatan yang menggoda untuk dipelajari lagi dan lagi. Bukankah para motivator berkata bahwa hidup ini akan menyenangkan jika kita bisa mempelajari hal-hal baru setiap hari?

Tapi ujung-ujungnya, menjadi master of none atau master of master, nggak ada masalah. Yang terpenting, kita sanggup menjadi master dalam memenangkan hati Masnya.