Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Dunia Penuh Persaingan, Bahkan Sekadar Menjadi Top Comment Instagram

Audian Laili oleh Audian Laili
16 Oktober 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Persaingan di dunia maya bisa terjadi di mana saja. Bahkan dalam kolom komentar Instagram, di dalamnya berlomba-lomba menjadi yang terbaik supaya terpilih sebagai top comment.

Instagram memang menjadi media sosial yang paling tepat untuk memamerkan versi terbaik dari kehidupan kita. Di platform ini, penggunanya dapat berlomba-lomba menunjukkan kehidupan masing-masing yang kelihatannya membahagiakan itu. Lantas, menjadikan banyak pula penggunanya merasa tersiksa dan stres karena sibuk membandingkan kehidupan pribadi dengan secuil kehidupan yang diperlihatkan oleh pengguna yang lain.

Instagram telah menjadi tempat yang tepat untuk itu. Apalagi dengan fitur Instagram Story-nya. Fitur ini sangat memungkinkan penggunanya untuk ber-self disclosure, atau mengungkapkan informasi tentang dirinya secara sadar, di mana sesuatu itu belum diketahui oleh pengguna yang lainnya.

Instagram Story yang hanya bertahan selama 24 jam ini memang memberikan kesempatan ke penggunanya untuk memperlihatkan kehidupannya dengan lebih detail. Dari bangun tidur hingga akan tertidur lagi. Sungguh sebuah sarana eksistensi yang paling mumpuni, untuk diakui menjadi paling diantara yang lain.

Sebagai sarana eksistensi, ternyata Instagram tidak memberi kesempatan untuk eksis hanya kepada pengguna yang mengunggah postingan saja. Namun para komentator pun memiliki kesempatan yang sama.

Ya, untuk menjadi eksis meski hanya menjadi komentator, Instagram telah memfasilitasinya dengan memunculkan fitur top comment. Sejak Instagram mengeluarkan fitur tersebut, netizen seperti berlomba-lomba untuk menunjukkan eksistensinya.

Sebenarnya, aturan menjadi top comment di Instagram ini tidak jauh berbeda dengan di Webtoon yang sudah ada sebelumnya. Dengan fitur Instagram bernama Threaded Message, akan memudahkan pengguna lain untuk saling membalas komentar.

Fitur ini pula yang kemudian memfasilitasi pengguna untuk menjadi top comment. Jadi, komentar yang paling banyak disukai oleh pengguna Instagram komentarnya akan berada di paling atas sesuai dengan perolehan like atau komentar.

Begitulah, Instagram memang memfasilitasi penggunanya untuk memberi like pada komentar seseorang. Ataupun mengomentari sebuah komentar. Sungguh sebuah wadah untuk berdiskusi yang akan sangat menarik sekali.

Biasanya, para pengejar top comment ini akan memilih akun-akun yang sudah memiliki follower banyak. Oke banyak itu relatif. Ehm, setidaknya akun yang setiap postingannya akan ramai dengan komentar yang tidak nyambung dengan postingannya.

Mengapa yang banyak komentar tidak nyambung? Karena para pengejar ini akan melakukan hal yang serupa. Ada kemungkinan ia keder jika melakukannya sendiri. Sehingga ia mencari teman, supaya tidak nampak mencolok di postingan akun yang komentarnya biasa-biasa saja.

Akun-akun yang mereka cari biasanya semacam akun berita atau gosip, akun milik selebgram atau selebritis, ataupun akun hiburan. Mengapa harus melakukannya pada akun-akun yang sudah memiliki pengikut banyak? Tentu saja, mereka ingin memanfaatkan popularitas akun-akun tersebut, untuk mendulang popularitasnya sendiri.

Ada berbagai macam cara yang dapat dilakukan jika seseorang ingin menjadi top comment. Yang sering dilakukan adalah dengan memberikan komentar yang berusaha melucu, berusaha bijak, atau pun berusaha menjelaskan dengan sangat logis dari kronologis postingan yang mungkin tidak dipahami oleh netizen yang lain.

Yang kemudian menjadi menyebalkan adalah, jika komentar tersebut nggak nyambung sama sekali dengan postingannya. Misalnya, postingan tersebut tentang launching si pacar baru. Namun justru netizen berkomentar seperti ini,

Iklan

“Aku mau nyanyiin lagu Abdullah, nih.”

“Aku mau ke postingan awal (sebut nama akun yang posting), ada yang mau nitip di-mention?”

Ada pula yang jelas-jelas menunjukkan dia memang menghamba menjadi top comment. Dengan bilang,

“Please, kalau aku jadi top comment, aku bakal….” Diikuti dengan janji-janji yang seringnya nggak masuk akal. Yang akhirnya, kalaupun dia mendapat banyak like, tidak ada pembuktian sama sekali apakah dia benar-benar menepati janji tersebut atau tidak.

Ada pula penghamba yang semakin menyebalkan, karena ia melakukan hal itu di momen yang sangat tidak tepat. Misalnya nih, postingannya sedang memberitakan tentang berita duka. Ntah tentang berita seseorang yang meninggal ataupun bencana alam. Eh, dia malah tetep aja bercandaan kayak gitu. Kan jadinya sok asik kebangetan yang bikin, “Sumpah nih orang baca caption postingannya nggak sih?”

Masih ada lagi yang menyebalkannya sebelas dua belas lah sama komentar ngelucu di berita duka. Yakni komentar yang sebar kebencian di mana-mana. Sepertinya dia bener-bener tidak bisa merelakan orang lain untuk berbahagia.

Untuk dua tipe penghamba yang disebut terakhir tadi, tolong jangan dikasih panggung untuk menjadi top comment deh. Demi kebahagian semua pihak.

Menurut saya, sebenarnya akun-akun di balik pencari top comment ini adalah orang-orang yang tidak percaya dengan kemampuannya sendiri. Sehingga dia merasa lebih aman dengan menempel pada akun yang sudah populer sebelumnya, untuk mencari polularitasnya sendiri.

Meski banyak juga yang menghibur, namun tidak sedikit yang bagi saya justru annoying dan apa banget. Ketika komentar itu sama sekali nggak klop dengan konteks postingannya. Lantas, ini benar-benar menjadikan Instagram bukan sebagai tempat diskusi yang mengasyikkan. Lah gimana bisa jadi tempat diskusi, postingannya ngomong apa, komentarnya nanggepi apa.

Apa? Buat bahan lucu-lucuan aja?

Coba deh, tengok Twitter. Pengguna Twitter bisa kok tetep memberi komentar yang lucu-lucu. Tentu saja, dengan lucu-lucuan yang masih sesuai dengan konteks postingannya. Bikin sesama pengguna jadi sama-sama enak. Terhibur? Wooo ya jelas. Namun juga mendapatkan wawasan dan sudut pandang lain.

Jadi, wahai penghamba top comment Instagram, dari pada kamu-kamu sibuk rebutan berusaha menjadi top comment. Alangkah lebih baik kalau konten-konten itu, diposting sendiri saja. Kenapa? Nggak percaya diri? Iya?

Percayalah, menjadi top comment itu hanyalah pencapaian yang sementara. Itu semua fana. Kepopuleranmu akan bertahan lebih lama, jika kamu mau mengusahakannya dengan menghidupi akunmu sendiri.

Apa? Di kolom komentar postingan akun Instagram kamu belum ada komentar-komentar semacam itu? Oh, itu sih artinya akunmu belum cukup populer, Gaes.

Terakhir diperbarui pada 16 Oktober 2018 oleh

Tags: InstagramInstastorytop commenttwitter
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup MOJOK.CO
Ragam

2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup

17 Januari 2026
Cara Termudah Menghapus Akun Instagram Secara Permanen MOJOK.CO
Kilas

Cara Termudah Menghapus Akun Instagram Secara Permanen

20 September 2023
survei revou untuk instagram dan tiktok ugm mojok.co
Pendidikan

Survei RevoU: Instagram dan TikTok UGM Paling Populer dari 15 Kampus Teratas

10 September 2023
MISI MULIA ELON MUSK MENGURANGI KONTEN CABUL DI TWITTER!
Video

Misi Mulia Elon Musk Mengurangi Konten Cabul Di Twitter!

2 Agustus 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Siksaan naik bus ekonomi Surabaya Semarang seperti Indonesia dan Sinar Mandiri MOJOK.CO

Siksaan di Bus Ekonomi Rute Surabaya Semarang bikin Frustrasi dan Kapok Naik Lagi: Murah tapi Harus Pasrah Jadi “Ikan Pindang” Sepanjang Jalan

22 Februari 2026
Perempuan Jawa Timur kerja di luar negeri rata-rata menjadi ART dan perawat lansia (Caregiver) di Taiwan karena mudah dan gaji besar MOJOK.CO

Susah Payah Kerja di Taiwan: Gaji Rp13 Juta tapi Hampir Gila, Keluarga Tak Pernah Peduli Kabar tapi Cuma Peras Uang

24 Februari 2026
Tes Kompetensi Akademik, TKA, Stres, orang tua.MOJOK.CO

3 Cara Sukses Hadapi TKA Tanpa Banyak Drama, Orang Tua Wajib Tahu Biar Anak Nggak Stres

25 Februari 2026
Sisi Gelap AI dan Ancaman Imperialisme Digital ala 'Big Tech' MOJOK.CO

Sisi Gelap AI dan Ancaman Imperialisme Digital ala ‘Big Tech’

25 Februari 2026
Pertama kali merantau ke Jogja: kerja palugada di coffee shop dengan gaji Rp10 ribu MOJOK.CO

Pertama Kali Merantau ke Jogja: Kerja di Coffee Shop 12 Jam Gaji Rp10 Ribu Perhari, Capek tapi Tolak Pulang karena Gengsi

24 Februari 2026
KIP Kuliah di Jogja.MOJOK.CO

Ironi Penerima KIP Kuliah di Jogja: Uang Beasiswa Habis Buat Bayar Utang Keluarga, Rela Makan Rp20 Ribu per Hari Demi Tak Putus Kuliah

27 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.