• 435
    Shares

MOJOK.COBaik Prabowo maupun Jokowi, sama-sama menginginkan pendukung yang militan. Militan itu yang kayak gimana, sih?

Menjelang Pilpres 2019, pendukung-pendukung yang militan semakin sering menjadi bahasan. Baik dari kubu Prabowo maupun Jokowi. Di kubu Prabowo, kata ini beberapa kali muncul. Contohnya tentang keinginan dan dukungan Sandiaga jika dibentuk Partai Emak-emak yang kemudian dinamakan BEM. BEM di sini merupakan kependekan dari Barisan Emak-emak Militan. Ya, kata ‘militan’ disebut dengan sangat lugas di sini.

Selain itu, Ketua GNPF-U, juga menjelaskan, setelah GNPF-U resmi mendukung Prabowo-Sandiaga. Salah satu cara yang telah mereka persiapkan untuk pemenangan Prabowo-Sandiaga adalah dengan memiliki pendukung-pendukung yang militan.

Tidak hanya Prabowo, Jokowi pun juga mengharapkan dapat memiliki pendukung yang militan. Dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) IV, Relawan Pro Jokowi (Projo) pada Minggu (16/9) kemarin, Jokowi menyampaikan supaya para relawan memiliki semangat, memiliki militansi yang tinggi, serta dapat berbuat baik untuk negara.

Ya, lagi-lagi harapan memiliki pendukung militan juga disebutkan. Sepertinya pendukung yang militan merupakan hal yang wajib hukumnya ada. Untuk memberikan rasa aman bagi sang calon yang akan maju untuk menjadi pemimpin.

Lalu, militan sendiri itu apa sih?

Jika mengacu pada KBBI, kata ‘militan’ memiliki pengertian bersemangat tinggi, penuh gairah serta berhaluan keras. Hal ini memperkuat pengertian kata militant menurut kamus Oxford. Menurut Oxford, militant memiliki pengertian favouring confrontational or violent methods in support of a political or social cause. Atau gampangannya adalah menyukai cara kekerasan/konfrontasi dalam mendukung pandangan politik atau sosial.

Yang kemudian, diartikan dengan mudah sebagai sesuatu seperti, ”Apa pun yang kamu lakukan, aku akan tetap mendukungmu. Aku akan mengusahakan berbagai cara untuk itu.” Ya, berbagai cara.

Tentu saja jika memang ternyata seperti itu, bagi seseorang yang didukung, akan lebih merasa aman dan tenang. Pasalnya, para calon pemimpin ini, memiliki orang-orang yang akan mendukung sepenuh hati dan bahkan dibela mati-matian jika ada serangan yang dialamatkan kepadanya. Apa pun kebijakan yang diambil serta bagaimana pun cara yang ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut.

Baca juga:  Mending Jujur Seperti Prabowo, Ketimbang Munafik Sok Paham Soal Unicorn

Masalahnya, bukankah hal ini justru akan menjadikan lubang yang ada semakin menganga di antara kedua belah kubu? Pasalnya, jika semua serba dilakukan mati-matian. Serta diusahakan secara gila-gilaan (tanpa logika mungkin). Bukankah kemudian semacam tidak memberikan kesempatan bagi para pendukung untuk memberi dukungan dengan syarat tertentu?

Seperti yang telah kita ketahui, tidak ada sesuatu (kecuali Tuhan) yang berdiri dengan sempurna. Sebaik apa pun itu, jika masih buatan manusia, maka tidak akan dapat terhindar dari cela. Jadi, apakah tidak boleh jika kita memberikan dukungan sekaligus kritiknya? Bukankah kritikan justru dapat membantu seseorang untuk instropeksi kemudian membenahi?

Sikap militan ini pun kemudian terkesan menjadi sesuatu yang tidak baik. Apalagi maknanya ada bau-bau agresif dan kekerasannya. Seseorang yang militan kemudian diidentikkan dengan bersikap agresif. Misalnya, dengan menyerang gagasan kubu lawan melalui media sosial –yang kebanyakan menggunakan fake account–. Lalu bertahap, beberapa dengan memberanikan diri untuk bertatap.

Lewat media apa pun intinya sama. Sama-sama mencari kesalahan lawan dan mengelu-elukan pihak yang didukung. Pokoknya gitu.

Mungkin hal ini juga efek dari debat para calon pemimpin yang seringkali hanya berakhir dengan saling menyerang. Atau efek dari cara para tokoh-tokoh politik yang memberikan komentar di media, yang memilih untuk memberikan komentar yang kesannya juga terus-terusan memberikan serangan ke kubu lawan.

Sehingga tidak mengherankan jika kemudian hal ini berefek pada para pendukung tersebut, yang memberi dukungan dari bawah. Ikut-ikutan gontok-gontokan karena melihat yang berada di atas melakukan hal yang serupa. Sehingga saling caci maki –yang seringnya sudah tidak lagi sesuai konteks– menjadi hal yang lumrah.

Mungkin saya ingin mengusulkan satu hal untuk debat capres-cawapres besok. Misalnya, akan lebih menyenangkan jika debat tersebut tidak hanya sekedar menyalahkan gagasan dari pihak lawan. Namun juga mendukung gagasan lawan jika memang gagasan tersebut layak didukung. Bahkan di akhir bisa dikatakan, “Wah, gagasan Anda hebat sekali. Jika nanti saya terpilih, ide tersebut mungkin dapat menjadi bahan pertimbangan untuk program-program kami.”

Baca juga:  "Kekonyolan” Sandiaga Uno: Menghibur Atau Norak?

Sebentar, bukan berarti menyontek gagasan atau gimana. Hal ini justru akan membantu kedua belah pihak untuk saling memberikan solusi bagi permasalahan di Indonesia. Udah ah capek kalau terus-terusan mencari mana yang terbaik. Siapa tahu, semuanya memang sama-sama baik di konteksnya masing-masing?

Bukankah Indonesia ini besar juga dikarenakan semangat gotong royong, kan? Lalu apa salahnya dengan saling mendukung gagasan masing-masing tokoh untuk kemajuan Indonesia? Tunggu, jangan-jangan debat capres yang dramatis memang dibutuhkan untuk menaikkan rating televisi?

Akan lebih nyaman, jika suasana yang diciptakan bukanlah suasana persaingan serta permusuhan. Bukankah keduanya mengutarakan keinginan untuk maju sebagai Presiden dan Wakil Presiden dikarenakan ingin Indonesia menjadi lebih baik, dan seterusnya, dan seterusnya?

Lalu, justru hal ini menjadi dilematis jika keinginan untuk memimpin ke arah yang lebih baik tersebut harus diawali dengan cara yang justru memecah belah. Menjadikan masyarakat Indonesia terpisah menjadi dua kubu yang terbatasi dengan tegas. Ya, hanya menjadi dua kubu. Dan masyarakat seperti tidak memiliki pilihan yang lain.

Saya yakin, di luar sana pasti banyak masyarakat yang ingin menjadi kubu ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya. Misalnya, saya ingin mendukung si A namun dengan syarat asalkan si A begini.

Kok sepertinya masalah dukung mendukung ini harus benar-benar mendukung semacam tidak boleh menentang atau menuntut lebih. Jika kamu memang benar-benar memilih A, maka aturan dan caranya seperti ini, ya seperti ini.

Hadeee, melelahkan sekali jika harus memberikan dukungan seperti itu. Sudahlah, mbok jangan mau dibohongi dengan diajak menjadi pendukung yang militan-militan amat itu. Dukung saja sesuai logikamu. Dukung mereka dengan syarat tertentu. Ingat, suatu cinta yang terlalu diterima tanpa syarat, itu nggak realistis, mylov~

  • 435
    Shares


Loading...



No more articles