• 478
    Shares

MOJOK – Siapa bilang menjadi penonton bayaran di televisi itu cuma dapat enak-enaknya saja?

Jika melihat media televisi jaman sekarang, saya ini kok agak miris ya. Mulai banyak yang mengabaikan fungsi dari media itu sendiri, seperti; 1) Memberikan informasi kepada masyarakat; 2) Memberikan edukasi; 3) Memberikan hiburan; dan 4) Digunakan sebagai kontrol sosial. Sayangnya, justru fungsi ketiga yang lebih banyak diutamakan.

Ya mau gimana, harus diakui acara hiburan menjamur di mana-mana. Mulai dari acara dangdut, acara bongkar aib-aib lama, atau drama settingan macam Rumah Uya Kuya. Dari semua acara yang ditampilkan, saya mengambil kesimpulan: di semua program pasti selalu ada penonton di dalam studio yang berisiknya enggak ketulungan untuk memeriahkan acara.

Untuk apa? Ya, selain agar acara itu enggak sepi-sepi amatlah, masak iya biar acara lebih religius?

Dan begitulah, sebagai kontributor dari bobroknya acara di televisi-televisi, rasa-rasanya saya perlu membagi pengalaman saya sebagai bagian dari tukang sorak-sorak yang berisik itu. Yap, Anda enggak salah baca, sebagai seorang penonton bayaran—yang sudah pensiun, perlu kiranya saya berbagi kisah bahwa kehidupan kami enggak seenak yang dibayangkan banyak orang.

Beberapa hal soal “profesi” ini mungkin sudah diketahui banyak orang. Seperti fakta bahwa kami juga dikoordinir oleh semacam korlap dari sejak acara belum on air sampai acara udah kelar. Atau ada saja orang-orang yang menjadikannya sebagai pekerjaan honorer-tetap. Membuat yang bersangkutan jadi berburu untuk nonton dari satu acara ke acara lain, dari satu studio ke studio yang lain. Dan semua ini dilakukan hanya demi tugas mulia, yakni demi sesuap smartphone.

Meski begitu, sebagai freelancer penonton bayaran yang cukup sering, saya melakukannya pertama kali bukan untuk diri saya sendiri. Saya memulai profesi ini ketika masih mengikuti panitia untuk acara-acara di kampus—terutama yang membutuhkan dana banyak dan enggak ada sponsor yang mau kasih donasi.

Nah, untuk menutup biaya operasional acara, tidak jarang saya jadi penonton bayaran untuk menambal kebutuhan-kebutuhan dana acara kampus tersebut. Sebab, mau bagaimana lagi, jadi penonton bayaran adalah solusi paling ampuh, efisien, dan gampang buat mengumpulkan pundi-pundi rupiah.

Baca juga:  Agar Reality Show Katakan Putus Menjadi Lebih Bermakna

Dari hal itulah saya memahami bahwa seenak-enaknya orang cari duit, tetap saja selalu ada suka-dukanya. Layaknya hidup, selalu ada pahit-manis, tak terkecuali jadi penonton bayaran. Anda boleh saja mencibir, tapi asal Anda tahu, menjadi penonton bayaran tidaklah semudah membalikan telapak kaki ibu—apalagi kakinya bapak.

Tertawa terpaksa

Karena rata-rata acara televisi yang membutuhkan penonton bayaran adalah acara hiburan yang perlu banyak respons dari penonton di panggung, maka tertawa adalah salah satu kunci suksesnya sebuah acara hiburan. Apalagi kalau acara-acara hiburan tersebut bergenre komedi. Ya jelas saja, kalau di acara komedi kok tidak ada tawa dari penonton ya berarti acaranya gagal total. Produsernya jelas bakal pusing tujuh keliling.

Benar memang, tidak jarang acara program komedi di televisi memang beneran lucu dan benar-benar menghibur penonton yang hadir langsung di studio. Hal semacam itu jelas bakal jadi bonus yang menyenangkan bagi penonton bayaran.

Sayangnya ada juga yang tidak lucu-lucu amat (masalahnya di program yang saya datangi sering begitu) kami sebagai penonton bayaran yang profesional dan menjunjung tinggi sumpah jabatan sebagai penonton bayaran bakal disuruh tertawa pada situasi yang tidak mendukung.

Biasanya jika acara off air, sang floor director (sebutan untuk pemandu sebuah acara televisi) akan mengarahkan penonton tertawa tanpa sebab. Katanya, untuk persediaan shoot tertawa penonton, yang nanti diedit di bagian yang seharusnya lucu tapi pada kenyataanya tidak lucu.

Benar saja. Penonton tertawa paksa. Bahkan kami bisa dibilang jadi seperti orang gila saja, tertawa ngakak tanpa sebab. Bahkan kadang-kadang kami tertawa padahal acara sudah berakhir dan tidak ada apapun di atas panggung yang bisa kami ketawain. Selain tenggorokan jadi kering, bibir pecah-pecah, sampai risiko sariawan yang hadir, perasaan aneh pun hadir di batin kami semua. Seperti menipu diri sendiri. Tapi saya tahu, ini adalah bagian dari risiko pekerjaan.

Baca juga:  Rumah Uya Settingan, Boomer dan Penontonnya Sudah Tahu Kok

Tepuk Tangan yang Lama

Selain soal tertawa, setiap acara juga membutuhkan suara tepuk tangan penonton. Untuk urusan ini, jelas suara tepuk tangan jauh lebih penting daripada suara tertawa. Karena kalau tertawa biasanya lekat dengan program dengan genre komedi, tepuk tangan diperlukan di hampir semua genre program televisi yang ada penonton di studio.

Soalnya kalau tidak diselingi oleh tepuk tangan riuh penonton, acara jelas bakalan kurang asik, kurang ramai. Maka tak jarang pula, floor director menyuruh tepuk tangan untuk waktu yang lamaaaaa sekali.

Dan Anda tahu alasannya untuk apa? Sekali lagi, alasan untuk persediaan shoot.

Kalau begitu, kenapa tidak sekalian aja buat persediaan selama setahun? Jadi setiap acara off air tidak usah membuat menyuruh penonton tepuk tangan lagi. Tangan kami kan bisa kapalan mbak-mbak atau mas-mas floor director~.

Honor yang Tidak Seberapa

Begini, saya di sini akan buka-bukaan saja mengenai honor setiap program acara di televisi yang membutuhkan penonton bayaran. Rata-rata dari segi honorium, rentang harga yang diberi dari 35.000-60.000 rupiah. Itu semua masih tergantung dari durasi acara dan jumlah tapping. Biasanya semakin lama durasinya, honor akan semakin besar.

Dihitung dari segi pendapatan penonton bayaran, sesungguhnya angka honor yang saya sebutkan tadi relatif kecil. Untuk makan saja bisa menghabiskan 10.000 untuk satu porsi, itu juga cuma makan menu warteg biasa. Belum lagi uang transport pulang-pergi bisa menghabiskan 15.000. Jika memakai harga tengah seperti yang saya sebutkan tadi—ambil saja 50.000, maka kami hanya dapat untung bersih sekitar 25.000 rupiah. Uang segitu jika dibandingkan pendapatan ojek online jelas enggak ada seupil-upilnya.

Akan tetapi, di balik itu semua, penonton bayaran tetap menjadi primadona mendapatkan uang dengan mudah dengan risiko minimal, meski secara batin tidak. Tapi saya pikir, “pekerjaan” ini setidaknya lebih baiklah daripada meminta-minta.

Gimana? Tertarik jadi penonton bayaran? Ya jangan hubungi saya dong, saya kan bukan agensinya.