MOJOK.COSeorang lelaki merasa takut untuk mulai PDKT karena ia tahu ibunya sangat selektif dalam milih mantu.

TANYA

Hai Mbak Au, panggil saja saya Hilman. Sejak putus dengan pacar saya sekitar 7 tahun yang lalu, saya tidak lagi berani mendekati perempuan. Saya merasa setiap kali akan mendekati mereka, pasti akan berakhir dengan saya menyakitinya. Di pikiran saya, hal ini akan kembali terjadi seperti pada mantan saya terakhir. Akhirnya, setiap saya merasa tertarik dengan seseorang, saya takut untuk maju. Saya memilih diam saja, memperhatikannya. Menjaganya tanpa perlu mengatakan itu padanya.

Bagi saya, hanya cara itu yang sanggup saya lakukan. Saya hanya berkeyakinan, kalau memang jodoh, pasti ada jalannya sendiri.

Cara ini menurut saya semakin tepat, ketika saya mengetahui kalau ibu saya sangat pilih-pilih soal calon mantu. Kata ibu, kalau saya sudah bertemu dengan seorang perempuan harus dikenalkan dulu pada ibu, supaya ibu bisa menilainya. Apakah orang tersebut cocok untuk saya atau tidak.

Hal ini jugalah yang kemudian membuat saya ragu-ragu untuk mulai PDKT. Saya takut kalau sudah berhasil mendekati seseorang, lalu saat saya kenalkan pada ibu, beliau tidak setuju. Padahal, posisi perempuan tersebut juga sudah berharap pada saya.

Saya takut jika harus menyakiti dan mengecewakan orang yang saya sayangi—termasuk diri saya sendiri.

Saya harus bagaimana, Mbak Au? Haruskah saya memberanikan diri untuk memulai hubungan? Ataukah saya membiarkan ini mengalir apa adanya hingga takdir mempertemukan saya pada seseorang tanpa ada kemungkinan saya akan menyakitinya?

Baca juga:  5 Modus PDKT yang Hanya Berlaku di Bulan Puasa

Jujur di usia saya yang semakin tua ini, saya merasa semakin butuh seseorang. Satu per satu teman saya pergi dengan jalan hidupnya masing-masing. Saya butuh teman yang akan selalu ada untuk saya.

JAWAB

Hai Mas Hilman yang sedang bingung perihal urusan mulai PDKT.

Begini, Mas. Ngomong-ngomong sampeyan pernah nggak ngobrol sama ibu soal: Seperti apakah calon mantu yang diinginkan oleh beliau? Ya, siapa tahu ini bisa membantu sampeyan dalam memetakan tipe-tipe perempuan yang aman untuk didekati atau tidak. Meskipun, harus dipahami kalau nggak semua perempuan yang sampeyan dekati bakalan mau untuk didekati, sih~

Lagian ya, Mas kalau ngomongin tentang hubungan, sebenarnya nggak ada satu pun garansi kalau kita bisa betul-betul selalu membahagiakan dia dan sama sekali tidak membuatnya sakit hati. Seberusaha apa pun kita untuk dia, tidak ada jaminan kalau kita selalu menjadi orang baik di matanya. Seperti konsep yang sering kali kita dengar, Mas. Kita tidak akan bisa membahagiakan semua orang atau bikin orang yang sama terus-terusan merasa bahagia sama kita.

Takut untuk menyakiti seseorang itu memang perlu. Supaya kita memang punya batasan ketika melakukan sesuatu. Akan tetapi, kalau itu justru jadi membuat sampeyan sama sekali tidak berani melangkah, ya lebih baik jangan. Kasihan diri sampeyan sendiri kalau harus terkungkung dalam keadaan yang tersiksa karena nggak bisa kemana-mana. Iya, kan?

Baca juga:  Doa Makbul Anak Perempuan Rambat

Yang namanya rasa bingung dan ragu-ragu untuk memutuskan sesuatu, tentu membuat kita terhenti ketika akan melangkah dan itu sangat tidak nyaman. Oleh karena itu, perlu ada keberanian yang sampeyan munculkan dari dalam diri. Semacam mengurangi perasaan overthinking soal bagaimana risiko yang akan sampeyan tanggung kemudian hari. Asalkan menurut sampeyan itu baik dan nggak salah, nggak ada salahnya untuk mencoba, kan?

Mungkin sampeyan bisa mencoba mulai mendekati perempuan yang memang bisa bikin nyaman. Kalau dia juga nyaman sama sampeyan, ya Alhamdulillah. Kalau nggak, ya nggak perlu jadi bucin dengan menganggap hanya dia yang bisa bikin sampeyan bahagia.

Ketika sudah menemukan orang yang sama-sama klik, jangan lupa bilang ke dia tentang situasi yang masih abu-abu soal bagaimana cara ibu sampeyan “menyeleksi” calon mantunya.

Jika dia sudah oke dengan ini dan kalian sudah siap menanggung risiko bersama. Serta sudah mantep untuk mengenalkannya pada ibu, langsung saja jalankan misi itu. Perihal bagaimana hasilnya nanti, biarkan usaha dan waktu yang telah dicurahkan saja yang menjawabnya. Sampeyan nggak perlu repot-repot buat mikirin takdirnya.



Loading...



No more articles