Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Pilkada Yogyakarta yang Mak-Plekenyik

Aloysius Bram oleh Aloysius Bram
13 Februari 2017
A A
Nasionalisme Gojek Tidak Ada Apa-Apanya Dibanding Grab Odong-Odong

Nasionalisme Gojek Tidak Ada Apa-Apanya Dibanding Grab Odong-Odong

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tadi pagi, tidak seperti biasanya saya bangun agak pagi. Karena jarang-jarang, saya keluar ke teras rumah saya, bermaksud menghirup udara segar pagi itu. Ndilalah, ada seorang penjaja jajanan yang lewat. Dengan sedikit agak teriak, saya cegat Si Mbok jajan itu. Ketika melihat jajanan yang ia bawa, lidah saya mensugesti untuk mencecap legit dan manisnya buntelan nagasari. Tapi ternyata lidah saya salah sangka. Alih-alih legit, setelah dibuka nagasari itu justru kurang padat dan cenderung agak cair. Seperti belum purna dimasak. Orang Jawa bilang bentuknya mak-plekenyik. Apa boleh buat, ya tetap saja saya unthal, lha sudah kadung mbayar, je.

Entah mengapa, bentuk nagasari yang mak-plekenyik itu tadi kok ya membuat saya mampir pada ingatan tentang dinamika perpolitikan di Kota Yogyakarta.

Sebagai warga yang juga punya hak pilih di tanggal 15 Februari nanti, saya merasa iri hati dengan meriahnya dinamika di Jakarta. Saya yang KTP-nya tercatat sebagai warga Kota Yogyakarta kerap kali membathin sambil ndhepis di pojokan kamar: “Kenapa semarak pilkada di Jakarta tak juga dirasakan di Yogyakarta ya?”

Padahal Kota Yogyakarta ini juga menyelenggarakan hajatan demokrasi pilkada lho. Oke, ini mungkin agak kurang pas kalau dibandingkan, nggak apel sama apel, kalau kata orang kulon bilang. Jakarta kan Pemilihan Gubernur, sedangkan di sini kelasnya cuma Pemilihan Walikota. Tapi menurut saya, rasanya kok ya tetap saja ada jurang ketimpangan kemeriahan yang teramat sangat.

Kalau mau bicara urgensi, Yogyakarta ini, menurut saya, punya situasi yang gak kalah genting dari Jakarta juga. Tapi para kandidat walikotanya seperti pada angin-anginan dan terkesan tidak niat. Visi, misi dan program dalam 5 tahun kedepan saja tak pernah dipastikan sudah sampai ke telinga para calon pemilihnya. Saya saja ragu apakah warga Yogyakarta mengetahui denan baik siapa para calon pemimpinnya.

Sama juga dengan warganya. Mereka yang setiap hari hidup di Yogyakarta ini juga malah apolitis dengan nasib kotanya 5 tahun kedepan. Mereka malah fafifu dan saling melontarkan analisis dinamika politik di tempat lain. Kadang kalau saya tahu ada orang ngomongin Agus lah, Ahok lah, atau Anies lah dan KTP-nya adalah orang Yogyakarta, rasanya pengen tak ajak jogging di alun-alun utara sambil pakai sepatu roda. Biar pikirannya agak nggliyer dan mau muter, gitu lho…

Kok lebay? Ha mbok biarin. Hadeeeeeh.

Begini lho. Isu pembangunan jelas masih relevan untuk dipersoalkan. Pembangunan, menurut mereka yang punya kuasa, digalakkan di sektor pariwisata karena memang Yogyakarta ini kekurangan fasilitas yang memadai untuk menjadi salah satu destinasi pariwisata. Sedangkan argumen tersebut belum lama ini dijungkirkan dengan data yang dilansir Badan Pusat Statistik. 367.998 wisatawan datang ke Yogyakarta selama 2016. Padahal jumlah okupansinya hanya separuh dari total jumlah kamar hotel di Yogyakarta. Mau tahu bagian konyolnya disebelah mana lagi? Pemkot masih memberikan perpanjangan izin bagi hotel yang sudah beroperasi namun belum beres secara izin dan administrasi. Aduuuuh, di situ kadang saya merasa check in.

Saya cuma bisa geleng-geleng sambil manggut-manggut ditemani lagu poco-poco.

Sementara itu, ini bagian yang cukup memprihatinkan, diam-diam, angka kemiskinan di Yogyakarta merupakan salah satu yang tertinggi di Pulau Jawa. Dilansir BPS, sebanyak 494.940 masyarakat di Yogyakarta tergolong miskin. Meskipun indikator miskin yang ditetapkan hanya mempertimbangkan satu dimensi saja yaitu ekonomi, namun paling tidak, angka tersebut cukup bisa membuat para pemangku kebijakan publik menenggak Oskadon ber-empleng-empleng. Yogyakarta yang dalam kurun waktu belakangan ini bersolek diri, ternyata menyimpan borok di pantatnya! Pembangunan yang diartikulasikan dengan iming-iming pertumbuhan ekonomi, seperti biasa hanya hisapan jempol saja. Nggak tanggung-tanggung, jempol yang dihisap adalah jempol kaki!

Selain pembangunan fisik, walikota Yogyakarta juga jelas mempunyai beban untuk membangun manusianya, tak terkecuali para anak muda. Memang kalo kita ini khatam nonton AADC 2, maka akan tersirat citra muda-mudi Yogyakarta yang inovatif, yang banyak diantaranya menjadi pionir di sektor industri kreatif. Tapi jangan salah, muda-mudi Yogyakarta juga punya sisi kelam. Disampaikan oleh Bapak Kapolda DIY, sepanjang 2016 ada 43 kasus klitih di Yogyakarta. Klitih adalah salah satu bentuk kenakalan remaja di tengah rimba zaman yang memang kepalang edan. Bahasa bekennya tawuran.

Para remaja, yang biasanya pelajar, meneror lawan-lawan mereka di malam hari. Mereka melakukan sweeping dan tidak segan mencegat lalu menginterogasi (dan kadang asal bacok) siapapun yang mereka curigai sebagai kubu lawan sekalipun yang lewat adalah tukang odong-odong yang baru pulang mangkal. Ya semacam film Jepang Crowd Zero gitu lah. Bahkan tidak jarang aksi-aksi mbeling itu meminta korban jiwa. Ini jelas ironi mengingat Kota Yogyakarta sendiri, setahu saya sih, masih tetap menyandang predikat kota pelajar. Secara jumlah memang Kota Yogyakarta ini menjadi jujugan muda-mudi untuk menggali ilmu. Namun secara adab tidak jarang juga, kelakuannya malah mirip barbar.

Kekerasan tidak hanya terjadi atas nama gairah mbeling anak muda saja. Kekerasan juga menjadi instrumen legal kelompok-kelompok yang merasa punya wewenang untuk mengeluarkan judgement bernada kebencian terhadap kelompok minoritas. Predikat Yogyakarta sebagai the city of tolerance hanya sekedar lamis-lamis lambe belaka. Tiada penindakan tegas terhadap mereka yang melangkahi gagasan yang dicanangkan langsung oleh ngarsa dalem, Sri Sultan Hamengku Buwana X itu sendiri. Herannya lagi, yang mencanangkan juga diam saja. Hih!

Dengan segelintir permasalahan yang terekam oleh data tersebut –karena saya yakin setiap kota punya kompleksitasnya yang kadang tak bisa disederhanakan lewat data, tak heran bila warga Yogyakarta punya angan-angan agar muncul figur yang segar dan menjanjikan di pilkada kali ini.

Iklan

Namun ya itu tadi, angan-angan hanyalah angan-angan. Bak pungguk merindukan bulan, bak kepala suku Mojok mendamba Mbak Dian, warga Kota Yogyakarta justru disodori oleh nama-nama yang plekenyik.

Betapa tidak: kedua calon yang maju adalah petahana. Calon walikota nomor urut 2, Haryadi Suyuti rupa-rupanya belum puas dan seakan gak punya malu setelah meremukkan tatanan Kota Yogyakarta dengan sederet kebijakannya, tak terkecuali perkara pembangunan. Wakil yang digandengnya, Heroe Purwadi, adalah mantan wartawan dan dosen di salah satu akademi komunikasi di Yogyakarta. Track record-nya di pemerintahan adalah menjadi tenaga ahli komunikasi publik walikota Yogyakarta.

Sedangkan calon yang satunya lagi, Imam Priyono adalah orang yang sama dengan wakil walikota yang sekarang. Calon wakilnya yang digandeng, Ahmad Fadli adalah mantan asisten sekretaris bidang pemerintahan Kota Yogyakarta.

Lihat? Semuanya adalah orang-orang yang selama ini saling bekerja sama dalam satu lingkaran Pemerintah Kota Yogyakarta. Apa lagi kalau kita boleh sedikit menaruh curiga ketika mengingat banalnya politik praktis yang berjalan di negeri ini. Tak heran bila warga terlanjur pesimis dan menilai kedua pasangan calon sama saja. Atas dasar hubungan yang sudah begitu japhe mete, siapa pun yang jadi, paling nanti lainnya juga akan menerima “uluran tangan”.

Kondisi itu diperparah dengan media massa lokal yang malah ikut-ikutan sibuk membahas pilkada di tempat lain. Sejauh saya mengamati beberapa harian lokal di Yogyakarta, tak ada yang secara mendalam dan komprehensif mendedah isu pilkada di Kota Yogyakarta. Kebutuhan informasi warga kota akan kandidat jelas tidak memadai dan boleh saya bilang buruk.

Kondisi seperti ini jelas mendistorsi, mengingat di Kota Yogyakarta sendiri, basis dukungan partai dapat dipetakan berdasarkan wilayah perkampungan. Beberapa kampung sudah dikenal menjadi basis dukungan partai-partai politik. Pilihan warga kota bisa didasarkan fanatisme yang mengikat saja, tanpa melihat kapabilitas dan kredibilitas kandidat. Coba sekali-kali mainlah ke Yogyakarta. Di beberapa kampung kamu bisa lihat fanatisme di wajah kampung yang berhias ornamen-ornamen partai yang digagas oleh warga sendiri.

Sehingga tak berlebihan kalau saya sendiri merasa iri hati dan merasa khawatir. Sebab, dengan kondisi sedemikian rupa, gagasan Yogya Istimewa yang terepresentasi lewat citra kotanya, tak akan kalah plekenyik dengan nagasari yang tadi pagi saya beli. Hih!

Terakhir diperbarui pada 16 Oktober 2018 oleh

Tags: featuredJogjaklithihpembangunanpilkada
Aloysius Bram

Aloysius Bram

Artikel Terkait

Pandeglang, Mati-matian Bertahan di Jogja Buat Apa? MOJOK.CO
Urban

5 Tahun Merantau, Sadar Kalau Pandeglang dan Jogja Itu Mirip: Tak Ramah Buat Cari Duit, Masyarakatnya pun Pasrah sama Nasib 

17 Mei 2026
Deni mahasiswa berprestasi dari UGM berkat puisi. MOJOK.CO
Sekolahan

Balas Budi ke Ibu yang Jual Cincin Berharga lewat Ratusan Puisi hingga Diterima di UGM Berkat Segudang Prestasi

14 Mei 2026
Nasihat rezeki dan keuangan dari ibu-ibu penjual angkringan di Jogja yang bisa haji 2 kali MOJOK.CO
Sosok

Wejangan Rezeki dan Uang dari Ibu Penjual Angkringan, Membalik Logika Ekonomi Anak Muda yang Anxiety in this Economy

11 Mei 2026
Yamaha Jupiter Z, Motor Sakral yang Hadirkan Rasa Takut MOJOK.CO
Otomojok

Yamaha Jupiter Z, Motor Sakral yang Menghadirkan Rasa Takut tapi Ternyata Menjadi Simbol Perjuangan yang Tak Pernah Diceritakan

7 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ironi jadi orang tunawicara (bisu) di desa, disamakan seperti orang gila MOJOK.CO

Ironi Orang Tunawicara (Bisu) di Desa: Dianggap Gila, Punya Otak Cerdas Tetap Dianggap Tak Bisa Mikir Hanya karena Sulit Bicara

15 Mei 2026
Pandeglang, Mati-matian Bertahan di Jogja Buat Apa? MOJOK.CO

5 Tahun Merantau, Sadar Kalau Pandeglang dan Jogja Itu Mirip: Tak Ramah Buat Cari Duit, Masyarakatnya pun Pasrah sama Nasib 

17 Mei 2026
Guru Besar Fakultas Farmasi UGM bidang fitoterapi, Nanang Fakhrudin sebut usaha madu sangat potensial. Tapi ada masalah utama yang rugikan pelaku usaha madu sendiri MOJOK.CO

Usaha Madu Jadi Ceruk Bisnis Potensial, Tapi Salah Praktik Tanpa Sadar Justru Bisa Rugikan Diri Sendiri

12 Mei 2026
Kopi starling dan kopi keliling: cuma Rp5 ribu tapi beri suntikan kekuatan pekerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel) untuk survive kerja tanpa Work Life Balance MOJOK.CO

Kopi Starling Cuma 5 Ribu tapi Beri Kekuatan Pekerja Jaksel Survive Tanpa Work Life Balance, Ketimbang 50 Ribu di Coffee Shop Elite

14 Mei 2026
omong kosong srawung di desa.MOJOK.CO

Omong Kosong Slogan “Srawung” di Desa: Cuma Jahat ke Warga Miskin, Kalau Kamu Tajir Tak Perlu Membaur buat Dihormati

18 Mei 2026
Penjual Makanan Laris Dikit Dituduh Pesugihan, Kebodohan yang Kita Pelihara dan Rayakan

Penjual Makanan Laris Dikit Dituduh Pesugihan, Kebodohan yang Kita Pelihara dan Rayakan

18 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.