MOJOK.COSejak era Covid-19, catur online menunjukkan perkembangan signifikan. Peluang yang tak mau dilihat para GM Indonesia.

Berita-berita tentang Dewa Kipas versus Woman Grand Master (WGM) Irene Sukandar, di banyak media massa membuat saya melongo takjub pada detik pertama, mengheningkan cipta pada detik berikutnya, dan menyesali diri pada akhirnya kenapa saya bukan pecatur.

Jika saya pecatur, niscaya saya akan memulai kanal Twitch sebagai tempat saya bertanding melawan siapa saja dan mengoceh tentang apa saja. Lalu kanal itu bakal saya unggah di YouTube.

Maafkan jika saya berlebihan. Itu bukan karena saya tidak suka pertandingannya, tetapi karena saya sedih melihat bagaimana percakapan publik setelahnya. Anda tahu sendiri, media massa menyambut dan memberitakannya seolah-olah mereka menyambut bulan Ramadan.

Kompas rajin menurunkan berita tentang Dewa Kipas. Media ini seperti tidak pernah tidur dan menyampaikan kepada kita sampai ke hal-hal yang paling renik: Kalahkan Dewa Kipas Dapat Rp 200 Juta, Ini Mobil yang Bisa Dibeli GM Irene, Bobol Huesca Dua Kali, Messi Punya Akurasi Tinggi ala Dewa Kipas, dan sebagainya.

Media-media lain seperti Tempo, CNN Indonesia, Jawa Pos, Detik, Kumparan, dan banyak lagi yang tidak mau ketinggalan.

Keriuhan mereka mengubah rasa takjub saya menjadi rasa bersalah. Sebuah momentum untuk menghidupkan catur daring Indonesia terancam hilang begitu saja dan semua kehebohan ini akan menjadi angin lalu.

Secara umum, semua tulisan itu bisa kita sederhanakan menjadi tiga kelompok. Pertama, kronologi drama Dewa Kipas. Kedua, balas-balasan komentar. Ketiga, laporan pertandingan dan komentar-komentar (lagi) mengenainya.

Dan saya kecewa ketika membaca lebih banyak. Karena percakapan kita tidak beranjak dari curang atau tidak curang, jumlah hadiah, rekor penonton, dan meme-meme kocak. Dan sebentar lagi besar kemungkinan media-media tersebut akan meminta komentar dari selebriti dan politisi. Tunggu saja.

Kebodohan semacam itu tak boleh dipertahankan, apalagi diulang-ulang. Saya harus berbuat sesuatu untuk mengabadikan momentum ini secara layak dan proporsional. Dan saya beruntung Mojok meminta saya menulis. Dalam waktu tidak singkat, saya mencoba menuliskan apa-apa yang menjadi harapan saya.

Baca juga:  Dewa Kipas, Kebangkitan Pemain Catur Online Indonesia, dan Guyonan Orang Batak

Kasus Dewa Kipas: pintu masuk ke eksistensi catur daring Indonesia

Sebuah tulisan di The New York Times, berjudul “Masters of Chess, Not Self-Promotion” menyoroti para aktor catur yang menginginkan olahraga tersebut mendapatkan perhatian luas alias penonton besar secara global. Popularitas catur melempem di hadapan olahraga seperti sepak bola, bola basket, tenis, atau bahkan golf.

“Kami menjual perhelatan elite yang kami harap akan menjadi bagian dari perputaran berita global,” kata Ilya Merenzon, CEO Agon, pemegang izin dan hak pemasaran kejuaraan catur dunia.

Ilya dengan bangga berkata bahwa sebenarnya jauh lebih banyak orang yang bermain catur di dunia yang fana ini daripada orang yang bermain golf, yang ia sebut “jauh-jauh-jauh lebih membosankan daripada catur”. Tapi mengapa jauh lebih banyak uang yang beredar di perhelatan golf daripada catur?

Kesimpulan Penulisnya, Andrew Higgins, salah satunya karena rata-rata pecatur tidak biasa menjadi pusat perhatian yang hingar-bingar. “Banyak pecatur kelas dunia tidak nyaman dengan dengan promosi diri nonstop yang merupakan tuntutan kultur selebritas,” tulisnya.

Magnus Carlsen, sang juara dunia, pernah dinobatkan sebagai salah satu Pria Terseksi 2013 oleh majalah gaya hidup Cosmopolitan, nomor 31 dari 49 yang dipuncaki aktor Ryan Reynolds. Itu terjadi saat Magnus merebut gelar juara dari tangan Viswanathan Anand.

Di atas Magnus, di luar barisan selebritas, hanya ada dua olahragawan di dalam daftar Cosmopolitan, yakni David Beckham di peringkat kedua dan Jose Mourinho di nomor 22. Tapi itu nyaris tidak berarti apa-apa bagi publisitas catur.

Magnus Carslen, dan para pecatur top dunia lainnya, belum pernah bisa menjadi pusat perhatian terus-menerus seperti para selebritas atau pesebakbola yang bisa setiap hari atau minimal setiap akhir pekan menghiasi pemberitaan.

Sekarang mari kita ambil kaca pembesar agar mata kita bisa melihat lebih awas hal-hal yang samar. Mari kita pertanyakan apa saja yang layak dipertanyakan, dengan rasa ingin tahu yang membuat hidup kita sehat.

Sejak pandemi, popularitas catur daring meningkat pesat luar biasa. Dalam periode lockdown, “perhelatan olahraga terbesar dan terkaya, dengan segala hormat kepada Liga Primer Belarusia, berlangsung di internet,” tulis jurnalis The Guardian Sean Ingle.

Baca juga:  Netizen Salah Besar, Gotham Chess Sebenarnya Untung Banyak dari Polemik Catur Dewa Kipas

Perhelatan yang dimaksud adalah Magnus Carlsen Invitational, turnamen catur yang dilaksanakan pada 18 April hingga 3 Mei 2020.

Sejak Covid-19 merajalela di seluruh penjuru dunia dan mengharuskan semua orang mengurung diri dalam rumah, catur menunjukkan perkembangan signifikan di pelbagai platform internet.

Salah satu perkembangan paling dahsyat adalah meningkatnya jumlah pengguna di platform seperti chess.com, chess24.com, dan lain-lain. Selain tentu saja waktu yang dihabiskan orang-orang untuk bermain catur meningkat tajam.

Salah satu motor utama yang membuat catur mendapatkan tempat yang layak di internet adalah Hikaru Nakamura, pecatur Amerika Serikat kelahiran Jepang. Ia rajin menyiarkan permainannya di platform Twitch, platform streaming yang digemari para gamer.

Siaran Hikaru menjadi menarik karena—tidak seperti pertandingan catur pada umumnya di mana pemain tidak boleh bicara dan seringkali hanya menaruh kedua tangan di dahi—Hikaru bermain sambil mengomentari, menganalisis, dan seringkali bercanda tentang langkah lawannya yang kebanyakan adalah pecatur acak dan amatir di internet.

Hikaru juga menayangkan ulang siaran Twitch-nya di YouTube. Video-videonya di Youtube menjadi magnet tersendiri bagi para pecinta catur yang tidak sempat menonton langsung karena, di tengah siarannya, dia kerap mengeluarkan komentar-komentar lucu dan seringkali bicara banyak hal di luar catur.

Hikaru pun sangat akrab dengan kultur internet, terlihat dari gambar-gambar thumbnail yang diunggahnya yang amat sangat tidak-grand-master sekali. Untuk menjangkau audiens baru, Hikaru berkolaborasi dengan para gamer jutaan penonton di Twitch, antara lain dengan xQc dan Pokimane.

Eksistensi daring Hikaru Nakamura seolah menjawab pernyataan Andrew Higgins. Bahwa master catur juga bisa menjadi master promosi diri di internet.

Dan sekarang banyak pecatur papan atas yang mulai mengikuti langkah Hikaru, salah satunya Levy Rozman alias Gotham Chess yang merupakan antagonis dan kemudian berbalik menjadi protagonis drama Dewa Kipas.

WGM Irene Sukandar sudah mengikuti langkah GM Hikaru. Mengikuti saran temannya, Eric Rosen, seorang International Master dan konten kreator seperti Levy, Irene membangun kanal Twitch dari nol.

Jadi, kenapa media massa kita tidak menyinggung sama sekali skena catur daring luar negeri dan kemudian dalam negeri?

Baca juga:  Snack Bikini, Remas Aku: Kemasan Kreatif dan Strategi Pasar

Anda tidak perlu menjawab pertanyaan tersebut, sebab saya sendiri yang lama menjadi awak media juga bingung bagaimana menjawabnya.

Beberapa hari yang lalu, saya baru mulai menulis di Substack. Karena saya bukan pecatur andal, masih kalah melawan Bilven Sandalista, saya belum berani membangun kanal Twich, jadi saya menulis saja begini:

“Karena kontoversinya berhasil menghadirkan momentum itu, bagi saya, setidaknya bagi saya, Dewa Kipas/Dadang Subur adalah patriot juga. Atau, kalau tidak boleh disebut patriot, martir boleh juga.”

Maksud saya menulis itu—sama sekali tidak lucu karena di sini saya harus mejelaskan di mana letak lucunya, saya ingin para “patriot catur” Indonesia bermunculan di internet dengan konten-konten berbahasa Indonesia.

Hikaru bisa mendapatkan subcriber hampir satu juta di Youtube, masa GM Susanto Megaranto atau WIM Chelsie Monica nggak bisa? Junaidi Karo Karo saja bisa kok (sampai 1,2 juta subscriber malah).

Ingat, bangsa yang besar adalah pangsa pasar yang besar. Bukan tanpa alasan federasi catur dunia dan banyak pecatur besar ikut meramaikan percakapan tentang Dewa Kipas ini.

Ya, betul, karena potensi audiens kita begitu besar sekali. Hal yang sudah dibuktikan oleh Pak Deddy.

Sesuai prosedur standar tentang penguatan pemahaman terhadap artikel yang baru saja anda baca, saya mengajukan satu kuis. Silakan anda menjawabnya.

Mana di antara tiga pernyataan ini yang paling benar?

1) Agus Mulyadi menulis: GM Irene dapat duit dan reputasinya terjaga. Dewa Kipas dapat popularitas dan duit banyak. Podcast Deddy dapat impresi besar dan iklan melimpah. Ketiganya sama-sama menang. Yang kalah MU sama Juventus.

2) Dhandy Laksono menulis: “Catur itu ilmu, Mas. Jadi tidak ada tiba-tiba pendekar turun dari gunung lalu jadi jagoan di kota. Ini bukan komik” (Irene Sukandar) Di dunia gitar ada, Mbak. Namanya Alip Ba Ta 🙂.

3) Saya menulis artikel ini mencontek tulisan Limawati Sudono.

Kunci jawaban: Semuanya benar.

BACA JUGA 3 Penjelasan Psikologis Kenapa Dewa Kipas Tetap Didukung Netizen Indonesia dan tulisan Arlian Buana lainnya.