MOJOK.CO Kadang-kadang, makan nggak bakal terasa nikmat tanpa kol goreng: pahlawan sesungguhnya dalam dunia kuliner per-penyet-an.

Merantau di Jatinangor, saya punya kisah menarik yang saya yakin bakal relate af dengan kamu-kamu sekalian. Bukan, kisah ini bukan soal angkot yang ongkosnya kadang beda kalau kita berhenti di Caringin, alih-alih di Ciseke. Bukan juga tentang odong-odong yang jalan keliling UNPAD dan membuat kita harus antre cukup lama demi mendapatkan seonggok tempat duduk.

Nyatanya, Jatinangor bukan cuma kota (hah, kota??? Kecamatan, keleus!) yang penuh dengan kenangan akademis, melainkan juga tempat bersejarah dimulainya pertemuan saya dengan sesuatu yang penting dalam hidup, yaitu…

*JENG JENG JENG*

…kol goreng!!!!11!!!1!!!

Gimana, sampai saya menyebut nama Yang Mulia Kol Goreng, batinmu sudah tergerak familier, bukan?

Di Jatinangor, warung makan yang rasanya “Sunda banget” cukup banyak, padahal lidah saya suka meronta-ronta keasinan (maafkan selera saya yang terlalu Jawa, Gaes). Maka, demi memenuhi kebutuhan lidah, saya cukup sering nongkrong di warung penyetan depan kosan. Penjualnya adalah sepasang suami istri asli Jawa Timur yang suka berbincang dengan bahasa Jawa.

Yaaah, meski berbeda dengan saya yang fasihnya bahasa Ngapak, setidaknya ini cukup efektif mengurangi homesick yang saya alami.

Kol Goreng adalah Hotman Paris-nya Makanan Pendamping

Mula-mula, saya hanya memesan makanan umum: nasi pakai ayam atau lele atau bebek. Pelengkapnya? Tentu saja lalapan dan sambal, sesekali kerupuk. Sudah. Begitu saja.

Namun suatu hari, seorang pengunjung datang dan bilang, “Bu, kol gorengnya satu, ya.”

Saya terkejut. Mata saya terbelalak. Dada saya berdegup kencang. Kaki dan tangan saya gemetaran saking kagetnya. Kepala saya—ah, udah ah, lebay.

Intinya, saya jadi penasaran. Manusia macam apa, sih, yang menggoreng kol??? Saya ulangi: menggoreng kol! Maksud saya, kalau kamu mau makan kol, kan bisa langsung dimakan. Kenapa harus digoreng segala??? Emangnya kol itu isu politik??? Hmmm???

Baca juga:  Kebahagiaan Sederhana dari Warung Penyetan

Pada akhirnya, saya mulai mencicipi kol goreng. Nasi panas, lele goreng, dan sambal jadi kawannya.

Di suapan pertama, saya merasa bahagia.

Kol goreng itu seperti—apa ya—kembang api. Dia meletus di sana-sini. Garing, sedikit pahit, gurih, berminyak, lantas berpadu dengan nasi yang gitu-gitu aja rasanya, daging lele yang kulitnya kriuk-kriuk tapi dalemnya lembut, serta sambal yang pedas dan kamu tahu bakal membuatmu diare besok paginya, tapi bakal tetep kamu makan karena enak.

Singkatnya: kol goreng adalah keajaiban semesta. Dia adalah the best of the best. Dia ibarat Hotman Paris-nya segala jenis makanan pendamping. Kalau kol goreng adalah peserta audisi Indonesian Idol, dari dia antre formulir aja seharusnya udah dijadiin pemenang!

Kol Goreng Nggak Sehat, tapi…

Sebelum saya menulis ini, saya mempertimbangkan betul untuk menulis soal kol goreng di rubrik Penjaskes, alih-alih Pojokan. Pasalnya, kira-kira 728623 orang sempat-sempatnya menggeleng-geleng tak percaya dan tak bosan-bosan bilang, “Kol goreng itu nggak sehat, plis deh,” sambil mengunyah junk food yang mereka beli di restoran fast food.

Padahal, serius deh, kol goreng adalah teman yang tepat untuk kamu kunyah waktu lagi nggak nafsu makan gara-gara kepikiran mantan yang jahat itu. Percaya sama saya, jangan sama mantan.

Maksud saya, kalau mempermasalahkan minyak jelantah, memangnya ayam-ayam goreng di warung penyetan itu nggak dimasak pakai minyak jelantah juga? Ngaku, deh, kamu pasti pernah kan pesan ayam goreng, tapi yang dateng malah ayam goreng dengan aroma ikan nila???

Baca juga:  Dulu Merantau Menyebalkan, Kenapa Sekarang Nagih?

Tapi, kol goreng ,kan, bisa memicu kanker!

Baiklah, baiklah, harus diakui, kol yang digoreng ini seperti uang koin: bermuka dua. Namun, sebelum mencaci makinya sebagai pemicu kanker, kita perlu tahu satu hal: kol justru diyakini bisa mencegah kanker.

Dengan kandungan glukosinolat yang sifatnya antikarsinogenik, kol merupakan lawan bagi tumbuhnya tumor ganas yang berpotensi menjelma kanker. Tapi, di sisi lain, kalau kol ini digoreng kelamaan, ia malah akan memunculkan senyawa amina heterosiklik yang sifatnya jadi karsinogenik, alias memicu kanker.

Tuh, baca baik-baik, tuh, solusinya juga udah jelas—makanya jangan kelamaan digoreng, nanti keburu ditikung nanti malah jadi racun. Hadeh.

Terima Kasih, Makanan “Jahat” tapi Enak

Di balik semua ancaman dan bahaya yang dibawa kol yang lahir dari kubangan minyak jelantah ini, setidak-tidaknya kol goreng telah membawa pencerahan baru dalam dunia kuliner. Tanpa dirinya, warung penyetan tidak akan terasa seperti warung penyetan sejati. Tanpa dirinya, sambal dan nasi panas pun rasa-rasanya ada yang kurang.

Entah apa yang terjadi nanti kalau makanan ini tahu-tahu diharamkan karena dianggap lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya. Tapi, karena Indonesia ini adalah negara yang penuh kejutan, saya rasa nggak ada salahnya untuk berterima kasih mulai dari sekarang pada siapa pun yang pertama kali kepikiran untuk mencemplungkan kol ke dalam minyak panas, lalu memopulerkannya.

Terima kasih, kol goreng. Jasa-jasamu dan sepiring nasi ayam atau lele atau bebek atau ikan nila dan sambal bawang tak akan tergantikan.

Kamu mungkin “jahat”, tapi kamu enak. I love you!



Tirto.ID
Loading...

No more articles