MOJOK.CO – Sawit memang nggak baik-baik amat, tapi pasti ada alasan khusus kenapa tiba-tiba tagar #SawitBaik muncul dan langsung trending.

“Habis bakar, terbitlah sawit.”

Almarhum Sutopo Purwo Nugroho pernah mencuitkan keresahannya terhadap kebakaran hutan dan lahan yang terjadi sekitar empat tahun lalu, di Palangkaraya. Memang, seperti sudah jadi agenda rutin, kebakaran hutan di Sumatra dan Kalimantan terus saja terjadi, memberikan dampak yang tidak menyenangkan (kabut asap) sekaligus pertanyaan yang berulang: benarkah semua lahan yang dibakar itu demi sebuah kepentingan lain—untuk perkebunan sawit, misalnya?

Tahun ini, karhutla di Sumatra dan Kalimantan masih terjadi. Kabar terakhir, seorang bayi di Sumatra bahkan dilaporkan meninggal dunia akibat ISPA yang diduga karena tebalnya kabut asap tadi. Yang terbaru, salah seorang anggota Manggala Agni Daops Muara Bulian juga disebutkan meninggal dunia dalam tugasnya memadamkan api kebakaran karena tertimpa pohon.

Jangan lupakan ribuan warga yang harus berjuang dengan ISPA sejak karhutla menyerang. Jarak pandang di jalanan pun kian berkurang saja, yaitu ada di angka 300 meter hingga 1 km. Belum lagi kegiatan belajar mengajar yang jadi terganggu karena terpaksa diliburkan.

Maksud saya, hidup normal di tempat yang baik-baik saja kadang susah, apalagi kalau harus berada di tempat yang mengepungmu dengan kabut asap dari segala penjuru.

Di tengah kekhawatiran nyaris seluruh negeri terhadap karhutla di Sumatra dan Kalimantan, kejutan justru datang dari Kominfo kita (hah, kita???) sendiri. Tagar #SawitBaik langsung trending, yang merupakan kampanye dari balik akun bernama @SawitBaikID.

#SawitBaik: Apa dan Kenapa

Pemerhati lingkungan, dan semua orang yang mengerti ke arah mana kebakaran hutan dan lahan ini kemungkinan mengarah, sontak bertanya-tanya: buat apa, ya, ada tagar #SawitBaik? Kalaupun harus bikin campaign, kenapa sekarang—setelah jatuh korban yang diduga karena kabut asap kebakaran hutan dan lahan yang kian mengerikan di Sumatra dan Kalimantan?

Baca juga:  Dari Moeldoko sampai Menteri Desa, Tips Redakan Isu Karhutla ala Pejabat Indonesia

Dikutip dari Mongabay, ada alasan tersendiri mengapa hutan dan lahan dibakar dengan tujuan untuk membuka kebun sawit—tepat seperti yang dikeluhkan oleh Pak Sutopo di paragraf awal tadi. Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB, Herry Purnomo, sekaligus ilmuwan dari Center for International Forestry Research (Cifor) telah melakukan penelitian yang berhasil mengungkap bahwa kebakaran hutan dan lahan justru menguntungkan pihak-pihak tertentu, meski dampaknya menyiksa masyarakat.

Kenapa lahan harus dibakar? Jawabannya satu: Karena cara pengolahan lahan yang lain memerlukan biaya yang lebih mahal, apalagi di lahan gambut. Lah wong bawa traktor aja pasti amblas, kok.

Masih menurut Herry, harga lahan kian meninggi setelah dibakar—mencapai Rp11 juta per hektare, berbeda dengan harga sebelum dibakar, yaitu Rp1,5 juta per hektare. Saat hujan mulai turun, saat semua orang bersorak karena asapnya “digempur air”, sawit pun mulai ditanam. Kala usia tanamannya mencapai tiga tahun, harganya melonjak hingga Rp40 juta per hektare.

Wow. #SawitBaik, ya?

Liputan6 pernah menulis bahwa Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendapatkan laporan berupa fakta 80 persen wilayah kebakaran hutan dan lahan berakhir sebagai lahan perkebunan sawit atau tanaman industri lainnya. Bahkan, titik api yang terpantau pun menunjukkan bahwa karhutla terjadi 85 persen di luar kawasan sawit dan hutan industri.

Kok bisa gitu? Entahlah, tapi mungkin ini merupakan pertanda betapa tagar #SawitBaik sungguh-sungguh telah dipercayai kalangan-kalangan penting di Indonesia. Gimana lagi; lah wong Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) saja melarang produk berlabel bebas minyak sawit, kok.

Baca juga:  Curhat Mas Marpaung: Balada Seorang Pejabat

Dikutip dari Tirto, Kepala BPOM, Penny K Lukito, menyebutkan, “Kami membangun kesepakatan dan komitmen untuk membangun upaya perlindungan terhadap daya saing perdagangan kelapa sawit, dan khususnya menghentikan penggunaan label ‘Palm Oil Free’ yang akan menurunkan daya saing industri kelapa sawit Indonesia.”

Artinya, produk dengan label bebas minyak sawit kini sudah tergolong ilegal. Dasarnya, industri sawit dianggap menjadi motor penggerak ekonomi nasional yang mampu menyerap tenaga kerja. Ia bahkan menjadi salah satu bahan pokok pembawa fortifikan atau vitamin A untuk mengatasi masalah kurang gizi di tingkat nasional.

Wah, wah. #SawitBaik, ya?

#SawitBaik, tapi Nggak Baik-Baik Amat

Namun, dari DW, sebuah pendapat lain pernah ditulis. Kabarnya, Parlemen Uni Eropa kini tengah mempersiapkan keputusan peniadaan minyak sawit sebagai bahan bakar nabati di tahun 2021, berdasarkan alasan sosial dan lingkungan, termasuk kerusakan hutan. Sebagai negara yang Kominfo-nya mengagas tagar #SawitBaik, pejabat-pejabat di Indonesia jelas melemparkan kritik.

Lah gimana lagi; kita ini kan produsen minyak sawit terbesar di dunia! Walaupun ada laporan yang menyebutkan bahwa antara tahun 1999 sampai 2015 terdapat seratus ribu ekor orang utan mati akibat pembalakan lahan hutan, tapi kita kan juga harus ingat kalau sawit itu baik. Kalau nggak baik, ya ngapain kita bikin tagar #SawitBaik, ya kan?!

BACA JUGA Saat “Orang Hutan” Kasih Solusi Pembalakan Hutan Perkebunan Sawit Sumatra atau artikel Aprilia Kumala lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles