• 48
    Shares

MOJOK.CO KPK menegaskan perihal sandi-sandian bukanlah yang pertama terjadi, bahkan termasuk menggunakan nama Tina Toon.

Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarif, Senin (15/10) mengumumkan berita mengejutkan: Bupati Bekasi Neneng Hassanah Yasin ditetapkan sebagai tersangka penerima suap terkait perizinan proyek pembangunan Meikarta di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat!

Tidak sendirian, Ibu Neneng ini dijerat bersama 7 orang lainnya. Mereka adalah Kepala Dinas PUPR Bekasi Jamaludi, Kepala Dinas Damkar Bekasi Sahat MBJ Nahar, Kepala Dinas DPMPTSP Bekasi Dewi Tisnawati, Kepala Bidang Tata Ruang Dinas PUPR Bekasi Neneng Rahmi, serta empat pihak swasta yaitu Direktur Operasional Lippo Group Billy Sindoro, Konsultan Lippo Group Taryudi dan Fitra Djajaja Purnama, serta seorang pegawai Lippo Group Henry Jasmen.

Nah, sebelum lanjut ke bahasan berikutnya, coba jawab pertanyaan ini: bisa ulangi nama kedelapan tersangka tadi?

Jadi gini, mylov: dari delapan nama di atas, ada dua orang bernama Neneng, serta enam orang lain yang namanya pun nggak mudah-mudah amat dihafalkan. Sepertinya, selain keamanan, pertimbangan inilah yang kemudian mendasari kedelapan orang ini untuk…

…menggunakan nama alias~

Berbicara soal dua nama Neneng yang ada dalam komplotan di atas, bisa kita bayangkan betapa rempongnya para anggota setiap kali memanggil, “Neneng!”, lalu dua wanita ini menoleh semua. Daripada capek menjawab, “Eh, bukan Neneng kamu, maksudku,” nama alias pun dipilih.

Jenis-jenis nama alias pun beragam—ada yang kreatif, ada yang tidak. Saya pernah menjalani sistem penamaan alias yang tidak kreatif saat sedang KKN-PPL beberapa tahun lalu. Karena dalam satu kelompok terdapat dua orang bernama Lia, kami pun melabeli diri dengan nama Lia 1 dan Lia 2.

Sungguh standar dan tidak out of the box.

Tapi, keadaan ini sepertinya tidak ditemui dalam kelompok Ibu Neneng. Buktinya, KPK menemukan fakta bahwa kelompok suap Meikarta ini menggunakan nama-nama samaran sebagai sandi internal, mulai dari Melvin, windu, penyanyi, hingga Tina Toon!!!

Baca juga:  Pengembang Meikarta Digugat Karena Menunggak Membayar Utang Iklan

*jeng jeng jeng*

Iya, kamu tidak salah baca: mereka menggunakan nama samaran Tina Toon untuk salah seorang di antara mereka. Entah apa tujuannya: apakah karena si pelaku jago menggelengkan kepalanya dengan aesthetic seperti Tina Toon zaman kecil atau karena si pelaku memang bolo-bolo. Yang jelas, sandi ini menarik perhatian masyarakat dengan segera, termasuk Tina Toon itu sendiri.

“Semoga tidak merugikan secara personal,” ujarnya, terkaget-kaget mengetahui namanya dipakai sembarangan sebagai sandi rahasia.

Pertanyaannya, kenapa sih pelaku suap ini harus main sandi-sandian dan kode-kodean pakai nama samaran??? Biar apa, gitu??? Buat apa???

Ternyata, KPK sendiri menegaskan perihal sandi-sandian ini bukanlah yang pertama terjadi. Dalam kasus korupsi dan kejahatan serupa, pemberian nama samaran sebagai kode rahasia memang sering kali ditemui. Banyak orang menganggap, kebiasaan ini semata-mata tumbuh dengan sendirinya dengan alasan “biar nggak ketahuan”, tapi tahukah kamu, kebiasaan ini sebenarnya sudah dipupuk sejak…

…bangku SD!!!

Masih ingatkah kamu pada cinta pertamamu di kelas 4? Atau, kakak kelas yang terlihat kece dengan seragam hari Rabu-nya di  kelas 6 SD? Atau, teman sekelas yang menyebalkan tapi kamu selalu takut padanya sejak kelas 7 SMP? Atau, adik kelas yang super genit dan tampaknya ingin merebut kekasihmu di kelas 11 SMA?

Semua orang-orang ini, baik yang kamu sukai maupun tidak, akan kamu sebutkan namanya di hadapan sahabat baikmu—seorang kawan curhat. Dengan bebas, kamu akan mengeluh habis-habisan, misalnya menyebut, “Ah, Mas Dio tuh nggak peka banget sama aku, padahal aku udah pura-pura salah kirim SMS ke dia,” atau, “Kinanti tuh emang nyebelin, ya? Masa tadi dia pakai lipstikku sampai sisa separo!”

Baca juga:  Hitam Putih Jokowi

Mulanya, segalanya terasa aman. Tapi seiring berjalannya waktu, kamu pun merasa was-was dan takut rahasiamu bocor. Kamu pun menambahkan pada kawan curhatmu, “Eh, kita sebut Mas Dio pakai nama alias aja, ya. Hmmmm… Pensil 2B, gitu, misalnya.”

Maka dimulailah hari-hari penuh sandi. Saat kamu dan sahabatmu sedang berjalan ke kantin lalu bertemu dengan gebetanmu, si sahabat akan refleks berteriak kecil, “Eh, ada pensil 2B di sini!” sambil berpura-pura mencari pensil yang jatuh, padahal yang jatuh itu, ya, jantungmu sendiri—saking groginya!

Rasa-rasanya, Ibu Neneng and the gank masih menyimpan nilai-nilai dan value zaman SD ini. Buktinya sistem penyebutan seseorang menggunakan nama alias pun masih mereka lakukan bahkan saat mereka sudah dewasa. Menariknya, permasalahan rahasia ini pun bukan lagi sekadar karena “aku suka kakak kelasku”, melainkan “aku suka uang untuk kesejahteraanku sendiri”.

Dahsyat, Ibu Neneng!!!

Perkara nama Tina Toon sebagai sandi rahasia itu baru sebatas nama saja. Mengingat Ibu Neneng dan kelompoknya tampak menghormati nilai-nilai kenangan zaman SD, saya jadi bertanya-tanya: dokumen-dokumen rahasia—termasuk percakapan WhatsApp mereka—ditulis pakai kode dan sandi rahasia juga nggak, ya?

Kalau iya, mungkin bunyinya begini: “Agakugu kegetanggakagap pogoligisigi, nigih…”