MOJOK.CO Mulai dari dampak buruk kesehatan sampai petisi penolakan, high heels seolah pantas menjadi musuh. Tapi, memangnya pakai high heels semenyebalkan itu, ya?

Bulan lalu, beredar kabar bahwa pekerja wanita di Jepang beramai-ramai membuat petisi menolak penggunaan high heels sebagai salah satu “seragam” kantoran. Menanggapi petisi ini, seorang menteri di pemerintahan Jepang menyebutkan bahwa sesungguhnya kewajiban bagi karyawan perempuan untuk pakai high heels di tempat kerja bertujuan dua alasan, yaitu: 1) agar diterima secara sosial; dan 2) agar diperlukan dalam pekerjaan.

Petisi penolakan ini bernama #KuToo, yang berasal dari kata “kutsu” (sepatu) dan “kuutsu” (sakit). Bertujuan untuk melawan praktik penggunaan sepatu hak tinggi, petisi ini telah ditandatangani lebih dari 19.000 orang.

Seolah-olah kembali ke tahun 2016, seorang pembalap bernama Nicola Thorp juga pernah merilis petisi serupa gara-gara dirinya dipulangkan oleh pihak kantor setelah ia menolak menggunakan sepatu hak tinggi. Berdasarkan penyelidikan yang dilakukan kemudian, diskriminasi di tempat kerja memang diakui ada, tapi pemerintah menolak mengadakan undang-undang yang melarang perusahaan mewajibkan karyawan perempuan memakai high heels.

Tapi pertanyaannya, apakah benar pakai high heels semenyebalkan itu???

Teman saya, Kamboja, bekerja di sebuah bank swasta. Setiap hari, dandanannya harus kece dan rapi, dari atas sampai bawah. Selain rambutnya harus klimis, sepatunya pun mesti menarik: sepatu hak tinggi alias pakai high heels.

Tapi, selama hampir tiga tahun bekerja di sana, saya nggak pernah mendengar Kamboja mengeluh soal high heels. Saat ditanya, ia cuma menjawab, “Loh, bukannya semua kerjaan sekarang pakai sepatu hak tinggi, ya?”

Baca juga:  Tidying Up with Marie Kondo: Betapa Ribetnya Hidup Haters KonMari

Sudah jelas bahwa Kamboja nggak pernah main ke Kantor Mojok dan melihat bahwa karyawan-karyawan perempuannya—semacem saya—dateng pakai sandal jepit dan ujung-ujungnya semua alas kaki dilepas sebelum masuk ke dalam. Tapi yang menarik dari jawaban Kamboja adalah kesimpulan yang bisa saya tarik: bagi Kamboja, nggak ada yang aneh dengan pakai high heels.

Bukan rahasia lagi, pakai high heels memang punya banyak dampak buruk untuk kesehatan. Tapi, pertama-tama, Kamboja justru mengakui bahwa dengan high heels, ia merasa percaya dirinya tumbuh pesat. Dengan penampilan yang rapi, high heels membuat kakinya lebih jenjang kayak kaki anggota SNSD.

Kedua, sepatu hak tinggi ternyata baik untuk perkembangan sikap tubuh. Dengan pakai high heels, postur tubuh—mau nggak mau—harus lebih sempurna: punggung tegak, pundak tegap. Akibatnya, keluhan encok atau boyokan alias sakit pinggang pun berkurang. Pokoknya, kalau pakai high heels, rasanya langsung jadi model yang lagi jalan di catwalk, gitu, lah!

Ketiga, pakai sepatu hak tinggi bermanfaat juga untuk melatih otot vagina, layaknya senam kegel.

Eh, eh, gimana maksudnya? Kapan-kapan saja kita bahas soal ini—daripada tulisan ini dimasukkin ke rubrik Penjaskes, ya kan???

Saya pernah juga bekerja sebagai guru di sebuah SD dan SMP. Untuk mendukung penampilan, setiap kali berjalan-jalan ke toko sepatu, saya pasti memilih sepatu hak tinggi, alih-alih sandal jepit kesukaan. Apa alasannya?

Baca juga:  Prediksi Kolombia vs Jepang: Menanti Keajaiban Mordovia

Ya demi tuntutan kerja, lah. Kan biar (((profesional)))!!!!!11!!!!1!!

Meski disebut banyak kerugiannya untuk postur kaki hingga memunculkan petisi penolakan, akui sajalah bahwa high heels sedikit banyak membuat rasa pede muncul sekian persen. Yaaah, setidaknya, kalau pakai high heels, rasanya jadi lebih cantik, gitu—lebih “perempuan”!

Setidak-tidaknya (lagi), high heels juga membantu kita merasa lebih tinggi, apalagi kalau kita adalah satu-satunya orang pendek di antara orang-orang berbadan tinggi (yang kadang super menyebalkan karena ikut-ikutan pakai high heels juga sampai badannya tinggi banget kayak pohon pinang).

Yaaah, yang namanya hak tinggi itu memang selalu menyenangkan, sih. Maksud saya, kalau pakai sepatu hak tinggi aja membuatmu merasa bahagia, apalagi kalau punya hak yang tinggi dalam sebuah hubungan yang komunikasinya lancar, sambil terus menjalankan kewajiban secara seimbang untuk saling mengasihi?

Ah, indah banget kayaknya~



Loading...



No more articles