MOJOK.CO Beberapa selebgram dan influencer di media sosial sedang jadi perbincangan secara anonim. Pasalnya, mereka diketahui kerap minta barang (((gratisan))).

Temennya temen Sania jadi selebgram—setidaknya begitu kalau dilihat dari jumlah followers-nya yang belasan ribu. Feed-nya juga aesthetic, jauh berbeda dengan Instagram Sania yang berantakan. Beberapa kali, temennya si temen Sania ini memasang foto menggunakan produk tertentu sambil me-mention akun penyedia barang tersebut.

“Di-endorse, ya?” tanya Sania.

“Nggak, dia beli sendiri. Biar keliatan di-endorse, dia bikin caption gitu,” jawab temen Sania sambil ngunyah permen karet. Sania kaget. Bukan kaget karena jawabannya, tapi kaget karena itu permen karet Sania.

Tapi, terlepas dari perihal permen karet, Sania baru tahu bahwa hidup para selebgram dan influencer di media sosial nyatanya nggak mulus-mulus amat. Ada beberapa selebgram dan influencer yang sering memasang Instagram Story unboxing paket produk yang mereka terima dari online shop tertentu dan, nyatanya, ada juga orang yang pengin dianggap selebgram atau influencer malah harus rela membeli produknya sendiri, lalu bergaya seakan-akan dirinya di-endorse.

“Ih, apa nggak malu, ya, sok-sokan jadi influencer padahal barangnya beli sendiri, terus akting kayak di-endorse gitu?”

Yang tidak Sania ketahui, di luar sana, kehidupan influencer dan selebgram jauh lebih complicated dari sekadar beli followers gratis dan beli produk sendiri untuk menunjang feed Instagram. Beberapa hari lalu, di media sosial, beredar tangkapan layar kisah seorang pedagang risoles yang mengalami cerita “lucu” soal influencer.

Keuntungan (dan Kebiasaan) Menjadi Influencer

Mentang-mentang menjadi influencer, seorang pengguna media sosial juga bisa-bisa saja menawarkan “kerja sama” dengan penyedia jasa manapun. Prinsipnya, si penyedia jasa atau barang ini—baik baju, makanan, hingga akomodasi—diminta memberikan jasa atau barangnya secara gratis, sementara si influencer menjanjikan hal bernama exposure.

Saya ulangi lagi: exposure—alias promosi secara tak langsung pada ribuan followers-nya.

Baca juga:  Masuknya Hotman Paris dan Mahfud MD di Instagram Apakah Tanda Datangnya Tren Bapak-Bapak Jadi Selebgram?

Kisah risoles di atas—dan banyak kisah lainnya yang juga beredar—mengingatkan kita pada cerita soal Elle Darby, influencer di Instagram dan YouTube yang pernah ditolak mentah-mentah oleh pihak hotel di Irlandia saat mengajukan email kerja sama: menginap selama 5 malam gratis dengan imbalan berupa exposure di channel YouTube-nya.

Tak tanggung-tanggung, si pihak hotel mengunggah balasannya pada media sosial, menjawab permintaan Darby—yang sesungguhnya sudah ditulis dengan sopan—dengan kalimat-kalimat semacam “Siapa yang akan membayar pegawai yang melayanimu?” atau “Kami sudah punya banyak followers dan tak pernah sekalipun meminta sesuatu secara gratis”.

Meski kelakuan Elle Darby sekilas tampak seperti orang yang meminta-minta seenaknya, saya jadi heran sendiri: memangnya pihak hotel tadi nggak punya cara lebih elegan buat menolak, ya? Maksud saya, permohonan kerja sama Darby bahkan jauuuuuh lebih baik daripada beberapa selebgram dan influencer di Indonesia yang belakangan sedang diceritakan secara anonim di media sosial.

Tapi, tapi, tapi, apakah yang dilakukan para influencer ini benar-benar tak bisa dibenarkan??? Apakah salah kalau mereka mengandalkan followers yang banyak???

Ngerti Dikit, dong, Influencer kan Pengin Balik Modal!

Banyak orang mengeluhkan selebgram dan influencer umumnya hanya mengandalkan followers dan penampilan yang menarik. Padahal, kalau dipikir-pikir…

…ya memangnya kenapa kalau gitu??? Bukankah followers dan penampilan yang menarik adalah modal mereka dalam menggaet klien—alias orang-orang yang rela-rela aja dibayar pakai exposure??? Iya, baca kalimat sebelumnya berulang kali; mereka tu nggak minta gratisan, ya—mereka bayar pakai exposure!!!1!!!1!!!!

Baca juga:  Awkarin Jualan Hijab, Apa Bedanya dengan Hijab Lain?

Nih, ya, influencer itu kayaknya pekerjaan yang paling murah hati di dunia, deh. Produk-produk yang kamu jual itu bisa menarik bagi mereka dan mereka pun, tanpa malu-malu atau menunggu utusanmu menawarkan kerja sama, sudah maju duluan menghubungimu. Bukankah itu sebuah sikap berani dalam bisnis yang patut diacungi jempol?

Udah mah berani, mereka juga dengan lugasnya menyebut keuntungan yang bisa mereka berikan: exposure.

Kamu boleh tertawa, tapi jumlah followers yang banyak itu memang menguntungkan. Kamu sendiri juga seneng, kan, kalau yang lihat Instagram Story-mu banyak—saking banyaknya sampai kamu nggak perlu lagi melihat nama orang yang kamu cinta diam-diam dalam daftar tersebut karena ketumpuk nama yang lain???

Iya, iya, tahu, kamu pasti kesal jumlah followers yang banyak nggak bisa membuatmu balik modal. Tapi, hey, yang penting kan selebgramnya bisa balik modal. Kamu mungkin lupa, tapi dalam urusan bisnis sama so-called influencer ini, itulah hal yang penting.

Pokoknya, nih, ya, kamu mah tugasnya cuma di-mention aja, terus tahu-tahu dapat tambahan 100 followers yang ternyata masih anak-anak semua dan nggak mungkin bakal langsung beli produkmu yang, misalnya, berupa make-up merek high-end atau korset pelangsing.

Dan, nggak, kamu nggak boleh protes, soalnya kamu udah beruntung banget bisa kerja sama bareng so-called influencer yang influence banget.

Sungguh, kalau Sania mendengar kisah ini, saya rasa dia bakal lebih menertawakan temen si temennya yang jadi selebgram tadi. Yah, ngapain beli sendiri kalau bisa minta grat—eh, maksud saya, menawarkan exposure???



Tirto.ID
Loading...

No more articles