MOJOK.COBanyak warga takut bikin Bu Risma marah gara-gara taman rusak. Kerennya, ketegasan beliau berbuah gelar doktor honoris causa dari Universitas Tongmyong, Busan, Korea Selatan.

“Bu Risma marah” agaknya menjadi sesuatu yang ditakuti kawula (“kawula” banget, nih, bahasanya???) muda di Surabaya. Setidaknya, ini tampak dari cuitan yang beredar di lini masa Twitter sebelum aksi #SurabayaMenggugat dilaksanakan.

Lebih serem diamuk Bu Risma timbang negoro iki kacau, demikian tulis pemilik akun. Pernyataannya ini sekaligus menutup pesan penting di sana, yaitu…

… Jangan. Rusak. Taman.

Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharani, atau akrab disapa Bu Risma memang dikenal dengan sikap tegas dan disiplinnya. Berkaitan dengan taman, beliau diketahui pernah marah dan menegur panitia sebuah acara bagi-bagi es krim yang berujung dengan rusaknya Taman Bungkul di Kota Surabaya.

Kemarahan Risma bukan cuma sekali-dua kali terekam kamera. Beliau pernah menegur PNS yang bergurau saat apel pagi, pernah pula menegur mereka yang terlibat pungutan liar. Dan, percayalah, tipe kemarahan Bu Risma memang adalah kemarahan yang nggak ingin kamu alami.

Baca juga:  Bapak Jadi Gampang Uring-uringan karena Mau Pensiun

Kegigihan Bu Risma untuk sesayang itu sama taman di Surabaya memang bukan setting-an belaka kayak kisah cintamu. Buktinya, atas pengabdiannya yang maksimal dalam hal tata ruang Kota Surabaya, Bu Risma diganjar gelar doktor honoris causa di bidang Arsitektur dari Universitas Tongmyong, Busan, Korea.

Seperti diterangkan oleh akun Twitter resmi Humas Kota Surabaya, pencapaian ini merupakan hasil kontribusi sang Wali Kota terhadap pembangunan Surabaya. Perlu kamu tahu pula, Bu Risma adalah Presiden UCLG ASPAC alias The United Cities and Local Governments Asia Pacific yang juga mengajak kota lain untuk terus berkembang.

Kalau menilik video marah-marah Bu Risma pada panitia pabrik es krim, rasanya sih sah-sah saja, mengingat nyatanya Surabaya perlu waktu kurang lebih 10 tahun untuk mengerjakan program ruang terbuka hijau (RTH) secara konsisten dan berkelanjutan. Apalagi, beliau sendiri menegaskan bahwa ruang terbuka memang menjadi prioritas dalam pembangunan Surabaya, yang hingga kini jumlahnya mencapai 30%.

“Batasan ruang terbuka publik perkotaan dalam disertasi saya yaitu taman umum dan taman di sepanjang tepi sungai. Keduanya dilihat dari perspektif kebutuhan masyarakat dan nilai sosial budaya,” tutur sang Wali Kota.

Pujian dan ucapan selamat lantas beredar dengan cepat dan dialamatkan pada Bu Risma. Secara tidak langsung, pencapaian ini menjadi bukti bahwa wajar-wajar saja mahasiswa dan rakyat Surabaya takut Bu Risma marah. Ya gimana, lah wong beliau segitu totalnya mencurahkan diri dalam program pembangunan kota Surabaya, kok. Memangnya kamu mau disemprot habis-habisan gara-gara “nggak sengaja” ngerusak taman?

Baca juga:  Ngamuk Saat Ditilang Polisi dan Kecerdasan Emosi yang Abal-Abal

Hih. Beneran, deh. Selain ngerusak hubungan orang lain, ngerusak taman di Surabaya juga wajib kamu hindari.

Tapi, yah, yang sukanya marah-marah dan tetap dicintai banyak orang itu memang cuma Bu Risma, kok. Selamat, ya, Bu!

BACA JUGA Pengalaman Memandu Bu Risma Wali Kota Surabaya Saat Kunjungan ke Cina atau artikel Aprilia Kumala lainnya.