• 239
    Shares

[MOJOK.CO] “Polisi membakar ganja dalam skala besar di ruang terbuka kesannya konyol. Tapi, ternyata ada penjelasan logisnya.”

Hari Senin (19/2/2018) lalu menjadi hari pemusnahan sabu dan ganja di lingkungan Mapolres Jakarta Utara. Tercatat, sebanyak 226 gram sabu dan 42 kilogram ganja dimusnahkan di halamannya. Blender menjadi alat yang digunakan untuk memusnahkan sabu-sabu, sementara ganjanya dimusnahkan dengan cara… dibakar~

Ya, meski Mojok Institute sudah pernah memberi ulasan tentang betapa mudharatnya memusnahkan ganja dengan cara dibakar, hal ini masih saja terjadi lagi dan lagi.

“Ayo minggir-minggir, nanti kamu keenakan,” celetuk seorang polisi saat menghalau warga yang terus mendekat.

A-apa, Pak??? Keenakan???

(Dan penonton demi mendengar hal itu justru merangsek maju.)

Pemusnahan ganja lewat pembakaran di ruang terbuka bukan sekali ini saja dilakukan kepolisian, my lov. Pada tahun 2015, Kepolisian Sektor Palmerah Jakarta Barat membakar 3,3 ton daun kering ini yang akibatnya sudah tertebak sebenarnya: membuat banyak warga pusing-pusing. Asap-asap ini bahkan melesat dan meliuk dengan gesit sampai masuk-masuk ke rumah warga tanpa permisi~

“Bakarnya 3,3 ton, bagaimana nggak bikin pusing,” kata salah seorang warga kala itu.

Kejadian serupa pernah pula hadir di Bandung. Di acara ulang tahun Jawa Barat ke-69 tahun 2015, pembakaran ganja dilakukan di Lapangan Gasibu oleh Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan. Konon, ada banyak pemuda yang datang hanya ingin mengisap asap pembakaran.

Yhaaa, mumpung gratis, begitu prinsip mereka~

Sebenarnya ini bentuk hukuman yang agak aneh ya, Ibu-Ibu. Kalau ganja itu disita dari tangan orang yang menyalahgunakannya dengan cara membakar dan mengisapnya bersama teman-teman, bisa jadi para terpidana itu akan protes, kenapa polisi yang bakar ganja di tempat umum, berton-ton bahkan, nggak ditangkap juga. Hmm….

Baca juga:  Perilaku Kita di Jalan Raya Jadi Gambaran Kayak Apa Pejabat Kelola Negara

Berkaca dari kejadian-kejadian lalu, pembakaran ganja rasanya selalu punya dampak yang tyda diinginkan. Gimana kalau orang lewat langsung nge-fly gara-gara menghirup asap pembakaran? Gimana kalau semua warga dan wartawan yang meliput jadi ikutan ketagihan menghirup asapnya? Lalu, gimana pula nasib para burung yang tyda sengaja lewat di udara dan menghirup asap itu? Khawatir aku tuh 🙁

Karena asap adalah hal yang tyda bisa dilarang untuk dihirup masyarakat luas, gimana kalau ada orang yang menghirup asap tadi lalu jadi positif narkoba waktu ikut tes urin? Gimana kalau di sekitar lokasi pembakaran ada penjual sate yang lagi bakar sate-satenya? Apakah sate-sate itu akan tercampur asap ganja dan jadi sate haram???

Itu baru soal ganja. Coba kita pikirin lagi tentang sabu-sabu yang diblender.

Setelah memusnahkan sabu-sabu dengan blender, gimana cara pencucian blender yang tepat? Apakah setelah itu setiap jus alpukat yang kita buat akan mengandung sabu-sabu yang serpihannya masih menempel di sisi-sisi blender? 🙁

Menumpuknya daun kering ini, sabu, dan narkotika lainnya di kantor polisi semestinya bisa dimusnahkan dengan cara yang tepat. Pertanyaannya, gimana sih cara yang tepat itu?

Dilansir dari pernyataan karyawan BNN, cara yang paling baik  untuk memusnahkan narkotika jenis ganja dan sabu adalah dengan menggunakan incinerator yang dicampur dengan asam pekat. Cara ini sudah dilakukan di Peru tahun 2016, yang kala itu memusnahkah 7 ton narkoba.

Baca juga:  Akan Dituntut PKS Soal Mahar Sandiaga Uno, Andi Arief Ngaku Diperintah Partai untuk Bicara

PS: incinerator adalah sebuah perapian khusus dengan cerobong asap yang tinggi menjulang.

Bukannya dengan incinerator, pemusnahan ganja di Jakarta Utara Senin lalu tetap dilaksanakan secara manual. Eh, jangan menghina-hina dulu. Besar kemungkinan, hal ini disebabkan oleh masalah transportasi ke Tangerang!

Lah, kenapa Tangerang?

Ternyata nih, my lov, di akhir tahun 2016, Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya pernah memusnahkan narkoba di sekitar Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Pada kesempatan itu, satu ton ganja dibakar menggunakan alat pembakaran khusus, incinerator.

Menurut Google Maps, jarak lokasi Terminal 3 dengan Kepolisian Metro Jakarta Utara adalah 54 km yang harus ditempuh selama 1 setengah jam. Jauh, cyiiiin!

Tapi, gaes, balik lagi ke bahasan awal: benarkah pembakaran ganja akan menghasilkan asap yang bikin ena-ena?

Menurut seorang pegawai di Laboratorium Badan Narkotika Nasional (BNN) di Tanjung Priok, efek samping pembakaran daun-daun ini tidaklah berkepanjangan hingga membuat kecanduan. Alih-alih enak, penghirup asap mungkin merasakan pusing sesaat.

(((Alih-alih enak!!!)))

Disebutkannya lagi, menghirup asap pemusnahan ganja itu sama dengan menghirup sampah. “Namanya juga menghirup sampah, menghirup asap, tentu tidak seperti dengan pemakai ganja.”

Yha, menghirup asap dari proses pembakaran ganja sama saja dengan menghirup sampah!!!!111!!! Nga ada ena-enanya blas!!!!111!!!

Lagi pula nih, kalau dipikir-pikir, asapnya yang membumbung tinggi pun tyda perlu membuat kita khawatir akan nasib para burung.

Ha gimana; nga mungkin juga mereka bakal nge-fly, kan? Lah wong di atas sana aja mereka lagi fly away. Hehehe~