MOJOK.CO Dalam dunia kerja masa kini, buzzer adalah pekerjaan yang bersifat hampir mirip dengan kentungan di pos ronda. Artinya, mereka berfungsi untuk menyampaikan informasi.

Penangkapan polisi atas aktivis Dandhy Laksono dan Ananda Badudu tempo hari mengguncang media sosial. Sebagian orang bertanya-tanya kenapa hal yang sama tidak dilakukan pada buzzer politik yang diduga menyebarkan hoaks dan ketakutan. Dukungan sekaligus kritikan lantas berbalas saling muncul di lini masa. Penyebabnya, ya, cuma satu: “kompor” dari para buzzer.

Ah, buzzer. Kamu tu sebenernya apaan, sih?

Dari Ivan Lanin, istilah buzzer diartikan sebagai ‘pendengung’. Di KBBI, kata dengung berarti ‘tiruan bunyi yang bergema dari baling-baling pesawat terbang, sirene, kumbang, dan sebagainya’. Jadi, apakah buzzer merupakan orang yang kerjainnya nyalain sirine dan baling-baling pesawat terbang secara literal?

Nggak, nggak gitu juga. Dalam dunia kerja masa kini, buzzer adalah pekerjaan yang bersifat hampir mirip dengan kentungan di pos ronda. Artinya, mereka berfungsi untuk menyampaikan informasi. Caranya?

Kalau di kentungan dikenal jenis-jenis pukulan berbeda untuk menyampaikan informasi yang berbeda pula, buzzer juga punya metodenya sendiri-sendiri. Ada yang sepakat naikin tagar tertentu di media sosial, ada juga yang menyebarkan informasi yang bisa jadi cuma berupa berita bohong, misalnya grup WhatsApp kaleng-kaleng, meski bisa juga berisi informasi produk atau layanan.

Baca juga:  Polda Metro Jaya Diduga Sebar Hoaks Ambulans Bawa Batu

Terus, apa bedanya buzzer sama influencer?

Masih mengutip pernyataan Uda Ivan Lanin, dua istilah ini ternyata nggak sama-sama banget, meski hampir mirip.

Ya, kalau buzzer adalah pendengung, influencer adalah pemengaruh. Artinya, buzzer memulai suatu informasi, lantas influencer bisa bergabung dan membantu memengaruhi lebih banyak orang untuk mendengar atau memercayai informasi tersebut. Makanya, sering kan kamu nemu cuitan “Twitter, please do your magic!” di media sosial, di mana penulisnya me-mention banyak nama influencer?

Dikutip dari Gardamaya, buzzer adalah pekerjaan yang menuntut karakter untuk jadi jauh lebih cerewet karena harus mendengungkan informasi baru. Jumlah folower-nya pun nggak melulu banyak dan sampai ribuan. Malah, ada juga buzzer yang follower-nya cuma puluhan dan akunnya “masih diplastikin” alias baru dibuat.

Hadeeeh, udah mah follower-nya dikit, ngomong dewek, maning!

Buzzer adalah orang yang bekerja dengan arahan. Ya iyalah, kalau nggak diarahin, mereka mau membagikan informasi apa, coba? Oleh karenanya, biasanya buzzer suatu tokoh atau produk nggak bakalan bekerja sendirian. Mereka bakal bekerja ramai-ramai dengan saling sebar informasi, menulis komentar, atau bahkan sepakat menaikkan tagar, entah gimanapun caranya: menyebar berita, ulasan, atau bahkan ngadai giveaway dengan syarat pakai tagar tertentu.

Baca juga:  Iqbal AJi Daryono, Buzzer 200 Juta per Posting: Saya Punya 7 Admin

Memang ada yang mau “kemakan” dengan cara itu?

Tentu saja ada. Di era post-truth sekarang, orang-orang cenderung lebih bisa memercayai berita yang tersebar, apalagi kalau melibatkan emosi sosial. Generasi malas cek fakta inilah yang jadi sasaran buzzer, khususnya buzzer-buzzer politik.

Menjadi buzzer adalah pilihan orang-orang tertentu. Kalau suatu hari kita melihat para buzzer berkeliaran di lini masa, jangan dihina mati-matian dulu; mereka lagi bekerja. Syukur-syukur kalau yang dia dengungkan informasi dan ulasan yang jujur.

Nah, kalau sebaliknya, baru deh boleh kamu ketawain sampai capek. Lowongan kerja mblarah-mblarah dari LiNa Jobstreet, kok ya masih ada aja yang lebih milih jadi buzzer berita hoaks, ya?!

BACA JUGA Surat Terbuka untuk Buzzer Jokowi atau artikel Aprilia Kumala lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles