Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Komen Versus

Meninjau Asal-Usul Nama Pulau di Indonesia dari Paparan Ustaz Rahmat Baequni

Aprilia Kumala oleh Aprilia Kumala
17 Juni 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Sumatra disebut dari kata “Asyamatiro”, dan masih banyak lagi asal-usul nama pulau yang diyakini Ustaz Baequni berasal dari bahasa Arab. Bener nggak, nih???

Setelah ramai-ramai soal Masjid Al-Safar yang mendadak disorot gara-gara diyakini mengandung unsur-unsur illuminati, nama Ustaz Rahmat Baequni mencuat lagi. Beberapa orang yang saya kenal tampak menggeleng-gelengkan kepalanya saat menonton sesuatu di Twitter, membuat saya ikutan ngintip.

Rupa-rupanya, kali ini, selain persolan illuminati, Yang Bersangkutan juga memberi tahu kita semua bahwa asal-usul nama-nama pulau di Indonesia adalah bersumber dari…

…bahasa Arab.

Jamaah twiteriyah yg budiman.

Jadi begini asal muasal nama2 pulau di Indonesia.

Asyamatiro : Syumatra – Sumatra
AI Jawwu : Jawa
Barru'un – Barnau – Borneo
Makassaro – Kassaro yu kassiru
Jaziratul Muluk – Maluku
Billadul nurul islami – Papua Nugini

😅😅😂 pic.twitter.com/nNHbRJxgom

— narkosun (@narkosun) June 13, 2019

Guru Besar Filologi Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Oman Fathurahman, melalui akun media sosialnya, turut bicara. Menurutnya, pengaruh bahasa Arab memang kuat, tapi hanya setelah abad ke-13. Sementara itu, nama-nama pulau yang disebutkan tadi sudah ada pada abad ke-13.

Ja-jadi, gimana dong—apakah asal-usul nama pulau di Indonesia benar-benar dari bahasa Arab atau bahasa kalbu atau bukan???

Jika ditelusuri lebih lanjut, beberapa versi asal-usul nama pulai di Indonesia sebenarnya cukup beragam. Karena sekarang nggak ada satu pun dari kita yang sudah hidup sejak awal munculnya nama-nama tadi, pilihan terbaik kita adalah meninjau kembali sejarah-sejarah ini dan beberapa legenda yang berkembang.

*JENG JENG JENG*

Pertama, alih-alih Asyamatiro, asal-usul nama pulau Sumatra disebut berasal dari kata “Samudera”, merujuk pada nama kerajaan di Aceh pada abad ke-13 dan-14. Peralihan nama ini juga terjadi ujug-ujug—ada proses yang cukup panjang di sana.

Seorang pelaut bernama Odorico de Pardenone, dalam perjalanannya dari India, menuliskan bahwa dia tiba di sebuah tempat bernama Kerajaan Sumoltra. Berikutnya, sebuah kitab bernama Rihlah ila-I-Masyriq yang ditulis Ibnu Bathutah menggambarkan tempat ini dengan nama Kerajaan Samatrah.

Pada abad 14, sebuah peta daerah Samudera Hindia dibuat dan pulau Samatrah pertama kali dituliskan oleh Ibnu Majid. Nama ini berubah menjadi Camatarra saat disalin oleh Roteiro, lalu Samatara oleh Amerigo Vespucci (abad 15). Perjalanan nama terus bergulir, mulai dari Camatra hingga Camatora, hingga pada tahun 1521-an, nama Somatra muncul.

Menjelang abad ke-16, orang-orang Belanda dan Inggris mulai memperkenalkan penulisan nama pulau Sumatra secara konsisten. Akibatnya, hingga saat ini, kita pun mengenal nama tadi dengan baik (Sumatra), meski di perundang-undangan ditulis sebagai Sumatera, dengan huruf “e”, tapi “e”-nya satu aja, nggak usah tiga.

Kedua, sumber sejarah asal-usul nama pulau Jawa dianggap agak “tidak jelas” karena diyakini memiliki banyak versi. Namun, musafir yang datang dari India mengisahkan bahwa nama ini diambil dari tanaman jáwa-wut yang terkenal di pulau ini.

Iklan

Mendukung teori di atas, banyak sumber meyakini pula nama Jawa berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu yayadvipa, di mana dvipa berarti “pulau”, sedangkan yava adalah “jelai” atau “biji-bijian”, yang merujuk pada tanaman jáwa-wut atau padi. Sementara itu, dari tanah China, pada masa Dinasti Yuan, pulau ini lebih akrab disebut sebagai Zhao-Wa.

Sumber lain tak kalah pula menyebutkan informasi tambahan bahwa kata Jawa berasal dari Proto-Austronesia yang berarti “kamu”.

Eh, salah—maksud saya, artinya “rumah”. Yah, mirip, sih, kamu dan rumah….

Ketiga, asal-usul nama pulau Kalimantan dimulai dengan nama Borneo, yang konon berasal dari nama “Brunei”. Pendapat yang menguatkan teori ini adalah nama pulai Kalimantan kala itu yang mulanya disebut sebagai “Bun-Lai”—sebuah nama yang mirip dengan “Brunei”.

Tapi, karena dimirip-miripin itu nggak enak, nama Borneo disebut pula berasal dari nama pohon yang tumbuh di wilayah tersebut, yaitu Borneol yang banyak digunakan sebagai bahan minyak wangi dan kamper. Pihak yang sempet-sempetnya kepikiran mengadaptasi nama pohon sebagai nama pulau ini adalah penduduk Eropa yang datang ke sana.

Lalu, kenapa ia disebut pula sebagai Kalimantan? Beberapa sumber meyakini nama ini datang dari bahasa Sansekerta, yaitu Kalamanthana, yang artinya “pulau berhawa panas”.

Keempat, nama Makassar disebutkan oleh Ustaz Baequni berasal dari kata “yang terpecah-pecah”. Namun, menurut legenda yang berkembang, asal-usul namanya berasal dari kata Akkasaraki  Nabbiya, yang artinya “nabi menampakkan diri”.

Kelima, nama Maluku mungkin menjadi satu-satunya yang hampir mirip dengan apa yang disampaikan Ustaz Rahmat Baequni. Kata Al-Mulk disebut sebagai asal kata Maluku, yang berarti “negeri para raja”. Namun demikian, Maluku juga diyakini berasal dari bahasa Ternate, yaitu Moloku atau Moloko, yang berarti “tanah air”.

Keenam, Papua Nugini, yang notabene adalah tetangganya Indonesia, tak lepas sebagai materi yang disampaikan Ustaz Rahmat Baequni.  Meski oleh Pak Ustaz disebut dulunya bernama Billadul nurul islami, kata “Papua” ini berasal dari bahasa Melayu, yang berarti “rambut keriting”.

Terus, gimana dengan kata “Nugini”, dong?

Istilah Nugini ini berasal dari kata New Guinea, yang muncul pada masa kolonial Portugis dan Spanyol. Konon,sebutan New Guinea diberikan karena adanya kesamaan tampilan fisik penduduk asli dengan penduduk yang ada di daerah Guinea di Afrika.

Wow wow wow, seru juga, ya, ternyata kalau mencari tahu sendiri sampai puas? Kalau ada informasi tambahan soal asal-usul nama pulau di Indonesia yang (((dunia harus tahu banget))), silakan tulis di kolom komentar, ya!

Terakhir diperbarui pada 17 Juni 2019 oleh

Tags: asal-usul nama pulauAsyamatirobahasa arabcocoklogiPapua Nuginiustaz rahmat baequni
Aprilia Kumala

Aprilia Kumala

Penulis lepas. Pemain tebak-tebakan. Tinggal di Cilegon, jiwa Banyumasan.

Artikel Terkait

Menertawakan Kesalahan Ejaan Bahasa Inggris Orang Indonesia
Esai

Menertawakan Kesalahan Ejaan Bahasa Inggris Orang Indonesia

24 Januari 2022
Ustaz Rahmat Baequni MOJOK.CO
Pojokan

5 Simbol yang Perlu Digugat Ustaz Rahmat Baequni

11 Juni 2019
List

Analisis Cocoklogi Arti Logo PSI ala Mojok

10 Maret 2019
Versus

Sejarah Kata Jancuk: Muncul Gara-Gara Tank Belanda atau Romusha?

4 Februari 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Olin, wisudawan terbaik Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD) pada 2025. MOJOK.CO

Pengalaman Saya sebagai Katolik Kuliah di UMMAD, Canggung Saat Belajar Kemuhammadiyahan tapi Berhasil Jadi Wisudawan Terbaik

14 Januari 2026
kekerasan kepada siswa.MOJOK.CO

Adu Jotos Guru dan Siswa di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur Akibat Buruknya Pendekatan Pedagogis, Alarm Darurat Dunia Pendidikan 

15 Januari 2026
2016, Tahun Terakhir Gen Z dan Milenial Merasa Berjaya. MOJOK.CO

2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup

17 Januari 2026
Mie ayam di Jakarta jadi saksi para pekerja berusaha tetap waras meski penuh beban hidup MOJOK.CO

Mie Ayam di Jakarta, Saksi Pekerja Berusaha Waras setelah Berkali-kali Nyaris Gila karena Kerja dan Beban dari Orang Tua

14 Januari 2026
Kos horor di Jogja.MOJOK.CO

5 Tahun Tinggal di Kos-kosan Horor Jogja: Gajiku Lebih “Satanis” dari Tempat Tinggalku

12 Januari 2026
Dosen Profesi Nelangsa, Gaji Kalah sama Ngajar Anak SD (Unsplash)

Gelap Masa Depan Dosen, Lulusan S2 Jogja Mending Ngajar Anak SD di Surabaya yang Lebih Menjanjikan dari sisi Gaji

12 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.