MOJOK.COSiskaeee E-nya tiga dan Jeng Asti seperti oase di tengah padang ontran-ontran narasi Prabowo dan Jokowi. Konten segar pemersatu ummat! Perbanyak!

Liga Inggri resmi selesai, Liga Champions ketahuan siapa pemenangnya, lalu disusul liga di negara lain tutup tirai. Netizen pun segera merindukan timeline yang sporty, penuh berita bola. Pasalnya, ketika tayangan sepak bola klub Eropa tamat, yang banyak berseliweran di timeline cuma itu-itu saja. Dan di Indonesia, narasi soal Prabowo dan Jokowi sudah bikin jenuh.

Coblosan sudah selesai, penghitungan sudah dilakukan, pengumuman oleh KPU sudah dilakukan, gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK) juga sudah diajukan. Yang terjadi, timeline menjadi semakin panas meski coblosan selesai dan Jokowi dinyatakan sebagai pemenang. Narasi kecurangan pemilu seperti mengendalikan “arus utama”.

Apalagi ketika “ketidakterimaan” itu diterjemahkan oleh pendukung Prabowo dengan turun ke jalan. Memang, aksi demo “part 1” berakhir dengan damai. Aksi 22 Mei berubah menjadi kericuhan ketika ada ratusan massa datang dari berbagai arah mata angin. Maka, demo “part 2” yang penuh masalah itu pecah.

Pendukung Prabowo dianggap sudah berlaku jahat. Ada yang merencanakan pembunuhan “orang-orang” Jokowi, hingga kepala lembaga survei. Ada yang dituduh makar dan sudah mendekam di dalam penjara. Sementara itu, pendukung Jokowi di timeline tak ubahnya “sisi jahat” itu.

Ada sedikit kesalahan dari Prabowo atau pendukungnya, para hooligans Jokowi langung menjadikannya bahan meme. Seperti burung pemakan bangkai yang menunggu seekor rusa mati setelah terluka karena dicabik-cabik singa.

Tapi ya gimana ya. Kubu Prabowo terlalu hobi bikin blunder atau membuat pendapat yang bertentangan dengan logika massa. Misalnya ketika zaman kampanye, para pendukung Pak Prabs ngomong kalau tai burung yang membentuk angka dua adalah pertanda kemenangan. Masih ingat dengan “tanda-tanda” alam ala Ferdinand Hutahaean itu? Ngana pikir itu nggak konyol?

Baca juga:  PKS Ancam “Putus” dari Gerindra Jika Cawapres Bukan dari PKS

Lalu, baru-baru ini, Ustaz Rahmat Baequni, bilang kalau Masjid Al-Safar mengandung simbol-simbol illuminati dan dajjal? Ketika mengajak audiens untuk bertakbir, beliau mengajungkan jari membentuk simbol pendukung Prabowo.

Hal-hal itu memang konyol dan memantik tawa. Cocok dijadikan bahan obrolan sore hari sambil nyemil rengginang. Namun, kalau terus-terusan terjadi kan orang akan mencapai titik jenuh juga. Saya sering heran, apa influencer atau buzzer Prabowo dan Jokowi itu jenuh atau nggak, ya? Mungkin jenuh, tapi tetap harus “bekerja” karena ada kontrak.

Tapi kan kami-kami yang “netral” butuh bahan diskusi yang baru. Apalagi ketika sajian politiknya semakin tidak mendidik, justru menyerang secara personal, bahkan sampai ada niat bunuh-bunuhan. Sejak zaman Majapahit, intrik sampai bunuh-bunuhan memang sudah ada. Tapi kan sekarang sudah zamannya Awkarin bikin ribut di Twitter cuma buat cari followers.

Prabowo dan Jokowi? Jenuh! mending “Share link, Gan!”

Berkaca dari keprihatinan banyak warga media sosial, pemerintah jangan sewot ketika kita merayakan konten-konten “becek” yang bertebaran. Kami ini punya password yang universal, yang bisa dipahami oleh banyak orang lintas usia dan gender. “Share link, Gan!” adalah password yang saya maksud. Nah, kalian langsung paham, bukan?

Dari video-video langka akun “Yang Mulia Ratu” Siskaeee E-nya tiga, sampai akun-akun Youtube penyaji informasi “becek”. Mau kamu Cebong, mau Kampret, semua status itu akan luruh ketika berhadapan dengan konten baru pemantik syahwat. Nggak perlu tabu untuk diomongin. Kalau makin tabu, makin nggak boleh diomongin, rasa penasaran itu makin besar. Syahwat makin menggelegar.

Perlu kamu ketahui, akun Siskaeee E-nya tiga sudah punya 250 ribu followers Twitter. Jumlah yang luar biasa. Konten yang “Yang Mulia Ratu” sajikan juga nggak melulu porno. Ada twit-twit bijak, cara padu padan baju dan celana untuk bikin OOTD, sampai cara pelajaran singkat bikin wanita orgasme. Ini konten pendidikan!

Baca juga:  Jokowi Pantas Disalahkan dalam Kasus Infrastruktur Roboh, dan Ini Bukan Satire

Jeng Asti di Youtube? Silakan cari sendiri ya. Jeng Asti ini punya 33 ribu subscribers. Beliau bikin beberapa video dengan tema ranjang. Selain ilmu yang dibagikan sangat bermanfaat buat kamu pasutri, delivery Jeng Asti di depan kamera juga sangat “bersahabat”. Mungkin bagi beberapa orang terdengar “terlalu bersahabat”.

Delivery yang tenang, dipadukan dengan desahan manja, memanjakan kuping para penonton. Melihat gaya busana Jeng Asti, penilaiannya pasti positif. Beliau berjilbab, rapat, dan terlihat sangat bersahaja. Sudah sangat syar’i.

Karya Siskaeee E-nya tiga dan Jeng Asti ini sudah termasuk karya jurnalistik. Mereka sudah memenuhi standar “seni kejujuran yang bersangkutan dengan pemberitaan.” Mereka mengabarkan sesuatu, sebuah ilmu yang layak diketahui laki-laki dan wanita dewasa. Asal, tentu saja, info-info itu dinikmati secara bijak ya.

Oya, satu lagi, Siskaeee E-nya tiga ini sudah go international. Sudah mengharumkan nama Indonesia. Siapa tahu, Johnny Sins, alias “Dr. Bernard MahFoudz” Si Ahli “Fucksin”, yang lagi buka lowongan aktor/aktris bisa melirik Siskaeee E-nya tiga. Semenjak Mia Khalifa pensiun, kita kehilangan “oriental cannon” yang mudah dicintai dan diidamkan.

Saran saya buat pemerintah, nggak usah repot bikin aturan soal VPN. Kami butuh konten-konten pendidikan di tengah kejenuhan akan nama Prabowo dan Jokowi. Ketimbang repot ngurus aturan VPN, mending memperkuat rencana kerja pendidikan seksual untuk anak sejak dini.

So, “Share link, Gan!” untuk mempersatukan ummat setelah terpecah oleh ontran-ontran Prabowo dan Jokowi.



Loading...



No more articles