MOJOK.CO Naksir temen waktu SD, eh dibilang lagi cinta monyet. Kenapa harus monyet? Kita kan naksir temen sekelas, bukan temennya Dora the Explorer!

“Kamu suka sama siapa?”

“Kamu.”

Saya hampir keselek waktu diam-diam membaca pesan singkat yang masuk di hape. Waktu itu, adik saya yang masih SD meminjam hape untuk menanyakan PR pada temannya. Siapa sangka, obrolan yang mula-mula cuma nanyain “halaman berapa”, malah berakhir dengan “kamu lagi suka sama siapa”.

Hari-hari ini, di media sosial, beberapa kali saya menemukan tangkapan layar chat antar dua orang anak SD yang topiknya kurang lebih sama: saling kepo lagi pada suka sama siapa.

Kalau dipikir-pikir, waktu saya masih SD, kejadiannya juga hampir mirip. Bedanya, kami (saya dan kamu) tidak tumbuh besar di tengah gempuran hape. Saya ingat, ada momen saya ngobrol sama seorang teman laki-laki dan kami bicara soal “kamu lagi suka sama siapa”.

“Aku suka sama Ana. Kamu lagi suka sama siapa?”

“Nggak ada.”

“Bohong,” tuntut teman saya. Saya ngotot. Pikir saya cuma satu: Ya masa saya harus bilang kalau orang yang saya suka itu kamu???

“Keberanian” teman adek saya untuk mengaku bahwa dirinya menyukai adek saya, patut diacungi jempol, walaupun saya yakin 100% bahwa dia cuma lagi mengalami cinta monyet. Dulu, kakak saya juga menyebut hal yang sama: “Kamu itu cuma lagi cinta monyet. Haha.”

Baca juga:  5 Kebohongan di Masa-Masa SD yang Pernah Kita Ucapkan

Rasa gregetan karena jatuh cinta “kaleng-kaleng” itu pun dengan segera berubah menjadi sebuah pertanyaan besar, yaitu…

kenapa, sih, cinta pertama harus disbeut sebagai cinta monyet???

Seingat saya, cinta pertama saya tidak tampak seperti monyet. Dia juga nggak pakai sepatu boot kayak monyetnya Dora. Jadi, kenapa??? Kenapa harus dibilang cinta monyet???

Istilah cinta monyet diyakini berasal dari istilah puppy love dalam bahasa Inggris, meski kata puppy (anak anjing) dan “monyet” jelas menunjukkan spesies yang berbeda. Ditulis dalam Wikipedia, puppy love adalah “an informal term for feelings of romantic or platonic love, often felt during childhood and adolescence”. Penamaan puppy love didedikasikan sebagai wujud afeksi pada anak anjing yang lucu.

Mengingat ada banyak kata dalam bahasa Indonesia yang merupakan kata serapan dari bahasa Inggris, kenapa kita nggak mengadopsi kata puppy love tadi menjadi “cinta anak anjing”, dan malah jadi “cinta monyet”?

Tidak ada sumber yang dengan pasti menuliskan alasannya, tapi saya rasa kalau kita bilang “cinta anak anjing”, kemungkinannya cuma dua: dikira naksir beneran sama anak anjing, atau dikira lagi sambat dan misuh-misuh.

Lagi pula, ternyata, puppy love tidak melulu soal anak anjing. Di Belanda, istilah serupa disebut kalverliefde atau secara literal berarti “cinta anak sapi”. Nah, di Indonesia, anak anjing dan anak sapi dalam istilah ini bertransformasi menjadi “monyet”.

Baca juga:  Analisis Isi Tas Orang Berdasarkan Golongan Darah

Laman Diedit.com menyebutkan kemungkinan makna istilah cinta monyet lebih lanjut. Tak sedikit yang menghubungkan istilah ini dengan teori Charles Darwin yang percaya bahwa kita (hah, kita???) berasal dari monyet yang berevolusi. Ada pula yang meyakini istilah cinta monyet menggambarkan pencarian—persis seperti monyet yang suka mencari kutu.

Bukan cuma itu, ada satu lagi tebakan makna dari istilah cinta monyet. Beberapa orang percaya istilah ini berasal dari kebiasaan monyet yang gelantungan di pohon, yang berarti “bermain-main”. Maksudnya, cinta pertama adalah perasaan yang main-main saja—tidak dalam dan tidak bermakna penting. Harapan palsu. Datang dan pergi. Nggak serius. Ghosting.

Eh, ini kok jadi mirip sama cinta orang dewasa, sih?!

BACA JUGA Membuktikan Cinta Secara Ilmiah atau tulisan Aprilia Kumala lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles