MOJOK.COSebagian orang percaya hidup akan kembali normal setelah pandemi usai. Sebagian lagi menilai bakal ada tatanan ‘new normal’ dan kebiasaan baru lain karena hidup terasa begitu berbeda belakangan.

Pandemi corona telah menampar kita sedemikian dahsyatnya, mengubah tatanan hidup manusia, dan memaksa kita merugi secara material plus non-material. Sebulan yang lalu saya ingat, masih bisa nongkrong bersama kawan. Merayakan ulan tahun dengan hura-hura dan kembang api. Saat ini, melakukannya tidak lebih jadi dosa besar pada masyarakat.

Orang-orang mulai memprediksikan tatanan ‘new normal’ di mana kebiasaan kita betul-betl berubah. Mengenakan masker belakangan jadi perilaku umum, bukan lagi sebuah aksi penyamaran dari publik atau niatan menghalau debu saat naik motor.

Menikah tanpa pesta yang sejak dulu tabu bukan main, belakangan jadi hal yang lumrah. Bukan tidak mungkin pasca pandemi kita justru nyaman dengan hidup yang terlanjur bergeser. Menjalani sebuah kebiasaan baru yang tanpa sengaja mengalami normalisasi.

Bertemu via panggilan video dan mengobrol berjam-jam dengan teman

Kita semacam ditegur dari kebiasaan ngopi dan minum-minum yang sudah keterlaluan. Kini kita bisa tetap ngopi bareng walau berjauhan. Harus saya akui bahwa belakangan saya melakukan banyak panggilan video dengan kawan-kawan dan keluarga. Sebelumnya, bertemu lewat teknologi begini terasa begitu canggung dan nggak penting.

Panggilan video adalah new normal, setidaknya bagi saya dan kawan-kawan. Bahkan kami melakukan panggilan video sambil melakukan aktivitas lain seperti makan, menonton film, dan membaca buku. Mereka seperti hadir, tapi saya tidak dituntut untuk selalu menatap wajah mereka di layar, kami seperti benar-benar berada di satu ruangan. Sehingga tidak ada sedikit pun yang tersinggung ketika akhirnya kami saling mengabaikan.

Baca juga:  Pengalaman Saya Tinggal di Italia Saat Virus Corona Lagi Ganas-ganasnya

Skema pasar berjarak demi menjaga kontak sosial

Manusia boleh jadi ditimpa bencana luar biasa, tapi betapa evolutifnya kita sampai kita menemui titik untuk hidup berdampingan dengan pandemi corona. Memusnahkan dan menyembuhkan penyakit dari virus ini terasa lebih mustahil ketimbang mencari trik agar tidak tertular. Bertahan adalah sejauh yang bisa diusahakan.

Skema pasar berjarak demi mengindahkan pembatasan sosial sudah dilakukan oleh Salatiga, sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Pasar pagi harus terus berjalan, roda ekonomi tidak boleh berhenti, maka pasar berjara adalah sebuah kondisi baru yang bisa dikategorikan sebagai ‘new normal’. Bukan tidak mungkin ini akan terus diterapkan sekaligus untuk menjaga kebersihan. Karena kita tahu, bukan cuma corona yang menular saat kita berdekatan.

Selamat tinggal bioskop, kami bisa menciptakan teater privat di rumah

Kebiasaan menonton berjamaah terasa sangat primitif, memang. Tapi teknologi dan pelayanan bioskop sebagai pemutar film ingin tetap kita rasakan saat itu. Sementara sekarang, new normal pada industri perfilman bisa saja datang. Kita akan lebih banyak menonton film dari gawai atau membuat teater privat di rumah. Menyaksikannya dengan orang terkasih sambil tiduran dan makan cemilan yang tentu saja tidak semahal kalau beli di XXI.

Pesta pernikahan di Indonesia akan lebih privat dan tradisi banyak-banyakan jumlah undangan menghilang

Setidaknya wacana new normal pada pesta pernikahan membuat saya sedikit lega. Selama ini kita hidup dalam anggapan kaku soal pesta pernikahan yang semakin banyak undangannya maka semakin bagus status sosialnya. Belum lagi dengan berbagai dekorasi, hidangan resepsi, dan berbagai tinakan lain yang sebenarnya bisa ditekan untuk tidak berlebihan.

Baca juga:  Virus Corona, Juventus, PS Sleman, dan Sepak bola dalam Keterasingan

Tradisi yang hampir mustahil didobrak perlahan runtuh sendiri. Orang-orang semakin menyadari pernikahan bukan soal pestanya, tapi akadnya. Nyatanya menikah di Kantor Urusan Agama atau Gereja sudah cukup. Bagaimana pun, pernikahan akan tetap menjadi sebuah gelaran sakral yang kita hormati.

Kesadaran soal ketahanan pangan dan betapa fananya hal yang kita kejar

Minimal hal ini saya rasakan sendiri. Saya betul-betul menyadari bahwa seberapa hypebeast penampilan saya itu nggak penting. Seberapa mahal jam tangan, seberapa warna-warni kaus yang saya kenakan, seberapa modern hidup ini sungguh akan sia-sia. Apa yang membuat kita tetap bernapas adalah makanan dan minuman. Kebutuhan dasar paling hakiki yang perlu dipenuhi setiap hari.

Suatu hari, saya menonton sebuah film lama yang disutradarai Shinobu Yaguchi. Ketika dunia ini tidak lagi berjalan karena listrik padam, energi kinetik dan kimiawi tidak lagi berfungsi, transportasi mandeg, kehidupan manusia kacau balau. Mereka yang tertolong dari bencana ini adalah petani dan peternak. Setidaknya mereka bisa menghasilkan makanan mereka sendiri untuk bertahan hidup. Uang tidak ada artinya, jika pada akhirnya kita sama-sama cuma butuh nasi untuk dikunyah.

Memaami betapa fana apa yang saya punya adalah new normal. Selepas pandemi berakhir saya nggak bisa lagi meremehkan mereka yang bercocok tanam dan beternak, mereka adalah sumber ketahanan.

BACA JUGA Wahai YouTuber yang Nawarin 10 Juta Asal Batal Puasa, Kapan Berhenti Nyampah? atau artikel lainnya di POJOKAN.