Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Menolak Dagangan yang Dijajakan oleh Anak Kecil Memang Tak Pernah Mudah

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
16 September 2020
A A
penjual gelang anak kecil oleh-oleh tempat wisata rasa iba kasihan mojok.co

penjual gelang anak kecil oleh-oleh tempat wisata rasa iba kasihan mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Menolak dagangan yang dijual orang dewasa, itu hal biasa. Namun, beda soal kalau penjualnya anak kecil yang tak ada sedikit pun aura nyolot pada wajahnya. 

Saya sedang berada di sebuah bukit yang amat kesohor di Lombok saat itu. Bukit Merese namanya. Dari atas bukit itu, kita bisa menyaksikan matahari tenggelam dengan latar belakang Pantai Kuta yang indahnya setengah mampus itu.

Saking indahnya, sampai-sampai tidak mustahil saya bisa punya pikiran konyol untuk menceraikan istri saya lalu mengajaknya ke sana dan kemudian melamarnya lagi tepat di atas bukit itu.

Sama seperti pengunjung yang lain, di atas bukit itu, saya sibuk memotret pemandangan sambil sesekali ber-selfie. Tak ada yang berarti untuk mencari angle yang bagus di sana, sebab hampir semua sudut selalu layak dan indah buat dijadikan sebagai latar belakang untuk berfoto.

Belum juga sepuluh menit saya sibuk berfoto, seorang gadis kecil mendatangi saya. Ia membawa satu balok papan dengan gelang-gelang untir yang terikat di permukaannya.

Dari balok yang ia bawa, tentu saja saya sudah bisa menebak apa maksud dirinya mendatangi saya. Ia sedang berusaha menjajakan dagangannya.

“Gelangnya, Kak. Sepuluh ribu empat,” ujarnya sembari menunjukkan gelang-gelangnya yang beraneka warna dan penuh motif itu.

Sedari awal saya sebenarnya sudah meniatkan diri untuk memanajemen pengeluaran saya. Saya hanya akan membeli barang yang memang saya butuhkan sebagai oleh-oleh. Dan gelang, saya pikir, bukanlah salah satunya.

Namun, dasar saya lelaki lemah. Saya selalu susah untuk menolak anak kecil yang menjajakan dagangannya. Rasanya ingin saya mengumpat dalam hati, “Bangsat, kenapa yang jual mesti anak kecil, siiih? Kenapa bukan lelaki dewasa bertampang nyolot yang pasti bakal membuat saya ringan untuk berkata tidak?”

Sadar bahwa saya berada dalam posisi kritis, maka saya pun berusaha untuk menguatkan hati dan memperkokoh fondasi mental saya.

“Nggak, Dek, yang lain ya,” ujar saya sambil berusaha memalingkan diri darinya.

Namun sial, ia rupanya tahu betul bahwa lelaki di depannya itu adalah lelaki yang rapuh. Maka, ia pun masih tetap melancarkan serangan.

“Beli ya, Kak. Buat oleh-oleh, murah ini,” ujarnya.

Saya berusaha kuat. Saya sorongkan tangan saya untuk memberi tanda bahwa saya tidak berminat. Namun, gadis kecil itu tak mau menyerah untuk terus menggedor-gedor pintu hati saya.

Iklan

“Buat penglaris, Kak.”

Saya melirik sedikit. Tak tampak sedikit pun ekspresi menyebalkan pada raut wajahnya. Hal yang semakin memperlemah fondasi mental yang sedari tadi sudah saya kuat-kuatkan.

Si gadis kecil masih terus menguntit saya, seakan berusaha keras untuk memastikan bahwa hati saya sedang menuju keruntuhan setelah tiangnya dihantam berkali-kali.

Pada akhirnya, saya tumbang juga. Gadis kecil itu menang.

“Ya, Dik. Saya beli empat ya,” kata saya sembari menyodorkan uang pas sepuluh ribu. Ia tampak bahagia. Ia kemudian mempersilakan saya untuk memilih gelang mana yang akan saya ambil.

Saya mengambil empat gelang yang saya anggap punya warna dan corak paling menarik di antara seluruh gelang yang ada.

“Yah, sekali-kali kalah nggak papa, lagian cuma sepuluh ribu ini,” batin saya.

Si gadis kecil kemudian pergi entah ke mana. Yang jelas, ia pasti sedang mencari jiwa-jiwa lain yang juga punya pertahanan yang lemah seperti saya.

Saya kemudian sibuk memotret pemandangan lagi, kali ini sembari mengevaluasi kekalahan yang baru saja saya alami.

Namun, belum juga tiga menit berlalu, seorang gadis kecil yang lain kembali mendatangi saya.

“Kak, tadi gelang temen saya dibeli, gelang saya dibeli juga ya, Kak, biar adil,” katanya. Di belakang si gadis kecil itu, saya melirik ada dua anak kecil lain berlari menuju ke arah saya.

Hae, modyar aku, hae modyar aku.

Saya pucat. Pertandingan yang sesungguhnya tampaknya baru saja dimulai.

BACA JUGA Terkadang Kita Memang Harus Terjebak dalam Rasa Iba yang Merepotkan dan tulisan Agus Mulyadi lainnya.

Terakhir diperbarui pada 17 September 2020 oleh

Tags: anak kecilgelangibaoleh-olehpenjualtempat wisata
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

4 Oleh-Oleh “Red Flag” Gunungkidul yang Sebaiknya Dipertimbangkan Ulang sebagai Buah Tangan Mojok.co
Pojokan

4 Oleh-Oleh Gunungkidul yang Sebaiknya Dipertimbangkan Berkali-kali sebelum Dibeli

29 Maret 2026
4 Oleh-Oleh Khas Bantul yang Sebaiknya Dipikir Ulang Sebelum Dijadikan Buah Tangan Mojok.co
Pojokan

4 Oleh-Oleh Khas Bantul yang Sebaiknya Dipikir Ulang Sebelum Dijadikan Buah Tangan

25 Maret 2026
4 Oleh-Oleh Malioboro Jogja Sebaiknya Dipikir Ulang Sebelum Membeli Mojok.co
Pojokan

4 Oleh-Oleh Khas Malioboro Jogja yang Sebaiknya Dipikir Ulang Sebelum Membeli

24 Maret 2026
Kebanyakan di Jogja saya merasa wisata di Surabaya membosankan selain Tunjungan. MOJOK.CO
Catatan

Wisata Surabaya Membosankan, Cuma Punya Kafe Estetik di Jalan Tunjungan dan “Sisi Utara” yang Meresahkan

23 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pom mini warung madura kini jadi solusi di tengah antrean panjang SPBU yang tidak masuk akal MOJOK.CO

Strategi Hindari Antrean SPBU Tak Efektif Lagi, Isi Bensin di Pom Mini Warung Madura Jadi Solusi Asal Tak Pakai Logika Takaran

18 Juli 2026
Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026
Merayakan Sofistikasi Djent ala Bless The Knights yang Keras Kepala.MOJOK.CO

Merayakan Sofistikasi Djent ala Bless The Knights yang Keras Kepala

13 Juli 2026
Beralih dari profesi dokter ke petani di Klaten. MOJOK.CO

Resah Jadi Dokter: Tangani Pasien Petani dengan Keluhan Sama, Pilih Turun ke Sawah demi “Menyembuhkan” Tanah

13 Juli 2026
Caruban—sebagai ibu kota dari Madiun—barangkali terkesan tidak bagus-bagus amat. Tapi bikin jatuh hati lewat hal-hal sederhana MOJOK.CO

Caruban Madiun Memang Tidak Bagus-bagus Amat, Tapi bikin Jatuh Hati Lewat Hal-hal Sederhana

13 Juli 2026
Pengalaman buruk investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu MOJOK.CO

Pengalaman menyedihkan investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu per bulan bikin saya kapok dan memutuskan pindah ke deposito demi ketenangan hidup

16 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.