Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Boyolali Atau Jakarta, Kita Semua Sama-sama Kaya

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
3 November 2018
A A
prabowo
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pernyataan Prabowo terkait “Tampang Boyolali” beberapa waktu yang lewat tanpa disangka ternyata meluncur bagaikan bola salju yang liar. Pernyataan tersebut bikin banyak orang merasa tersinggung. Dari mulai orang-orang Boyolali yang merasa tidak terima karena dicitraan sebagai orang-orang miskin yang tidak kuat masuk hotel mewah, sampai orang-orang yang bekerja di hotel mewah yang disebut oleh Prabowo karena mereka merasa tidak pernah mengusir orang-orang berdasarkan tampang seperti yang dikatakan oleh Prabowo dalam pidatonya itu.

Pernyataan Prabowo tersebut seakan semakin mengamini dan melegitimasi adanya kesenjangan yang masif antara orang-orang kota yang kaya dengan warga desa yang miskin.

Penggambaran Jakarta sebagai kota modern yang punya banyak hotel-hotel mewah seperti Ritz Carlton, Waldorf Astoria, sampai St Regis, yang kemudian diperbandingkan dengan konsep “Tampang Boyolali” yang desa, yang miskin, dan yang tidak biasa masuk hotel-hotel mewah, entah kenapa bagi saya terasa begitu menyebalkan.

Bagi saya, mau Jakarta yang “ngota” atau Boyolali yang dianggap “ndesa” itu sama-sama kaya. Sama-sama punya apa yang oleh satu sama lain sukar dimiliki.

Bagi banyak orang Boyolali, dan mungkin juga bagi banyak orang dari dari daerah lain yang juga meyandang sebagai daerah bukan kota, bayangan akan Jakarta atau kota-kota besar lainnya boleh jadi adalah bayangan tentang dunia yang gemerlap, dengan gedung-gedung yang tinggi, dengan segala kemajuan yang pernah dibuat oleh manusia. Hal yang seakan menjanjikan banyak kesempatan untuk mencari uang.

Sebaliknya, bayangan orang-orang kota akan desa adalah pemandangan hijaunya sawah dengan aliran sungai yang bening, pemandangan yang menyejukkan mata, udara yang segar, serta hal-hal lain yang selalu identik dengan ketenangan.

Keduanya sama-sama punya nilai jual. Sama-sama sanggup dijadikan patokan impian di benak masing-masing. Dan yang paling pokok: keduanya sama-sama tidak bisa saling memiliki.

Pemandangan hijaunya sawah dengan aliran sungai yang bening dan menyejukkan itu bagi banyak orang desa tentu adalah hal yang biasa. Hal yang memang sudah sehari-hari menjadi makanan mereka. Namun bagi banyak orang kota, hijaunya hamparan sawah yang bikin hati tenteram itu adalah pemandangan yang tentu saja jarang dilihat oleh mata mereka yang lebih terbiasa melihat hamparan gedung beserta orang-orangnya yang serba bergegas di jalanan, serba mekanis, serga egois.

Bagi banyak orang-orang desa, menanam padi, memandikan kerbau, bersepeda onthel di jalanan kampung atau berjalan-jalan seturut pematang sawah adalah pekerjaaan sehari-hari. Aktivitas biasa yang dilakukan sebagai pengisi hidup. Namun bagi orang-orang kota, aktivitas tersebut adalah bagian dari paket outbond yang harganya kadang tak bisa dinalar oleh akal pedesaan.

Maka, tak heran jika kemudian pemandangan-pemandangan seperti itu, lengkap dengan segala aktivitasnya banyak “dikomersilkan” menjadi dagangan. Banyak tempat wisata, rumah makan, juga penginapan, yang menjual “kedesaan”-nya.

Lantas siapa yang membeli? Ya, orang-orang kota. Orang-orang yang dengan polosnya mau membeli dengan harga tinggi sesuatu yang bagi orang desa adalah hal yang biasa saja.

Mungkin memang begitulah seharusnya. Semata agar keseimbangan kosmis tetap terjaga. Orang-orang desa yang selalu menganggap kota sebagai entitas yang modern, maju, dan serba gemerlap itu harus sadar, bahwa di kota, ada banyak orang-orang yang mau membayar mahal untuk bisa menjadi “orang desa” barang sehari dua.

Orang kota tak pantas jumawa, orang desa pun harus sadar bahwa dirinya diberkahi dan berdaya.

Tak perlu Jakarta, tak perlu Boyolali. Kita semua kaya. Dengan jenis kekayaan masing-masing.

Terakhir diperbarui pada 6 November 2018 oleh

Tags: jakartaprabowotampang boyolali
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik MOJOK.CO
Esai

Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik

4 Februari 2026
kos di jakarta.MOJOK.CO
Sehari-hari

Ngekos Bareng Sepupu yang Masih Nganggur Itu Nggak Enak: Sangat Terbebani, tapi Kalau Mengeluh Bakal Dianggap “Jahat”

3 Februari 2026
karet tengsin, jakarta. MOJOK.CO
Urban

Karet Tengsin, Gang Sempit di Antara Gedung Perkantoran Jakarta yang Menjadi Penyelamat Kantong Para Pekerja Ibu Kota

3 Februari 2026
Misi Mulia Rumah Sakit Visindo di Jakarta: Tingkatkan Derajat Kesehatan Mata dengan Operasi Katarak Gratis MOJOK.CO
Sehari-hari

Misi Mulia Rumah Sakit Visindo di Jakarta: Tingkatkan Derajat Kesehatan Mata dengan Operasi Katarak Gratis

31 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Rekomendasi penginapan di Lasem, Rembang. MOJOK.CO

Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal

6 Februari 2026
Dat, pemuda dengan 3 gelar universitas putuskan tinggalkan kota demi bangun bisnis budidaya jamur di perdesaan MOJOK.CO

Cabut dari Kota Tinggalkan Perusahaan demi Budidaya Jamur di Perdesaan, Beberapa Hari Raup Jutaan

4 Februari 2026
Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers MOJOK.CO

Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers

6 Februari 2026
Umur 23 tahun belum mencapai apa-apa: dicap gagal dan tertinggal, tapi tertinggal ternyata bisa dinikmati dan tak buruk-buruk amat MOJOK.CO

Umur 23 Belum Mencapai Apa-apa: Dicap Gagal dan Tertinggal, Tapi Tertinggal Ternyata Bisa Dinikmati karena Tak Buruk-buruk Amat

2 Februari 2026
Lolos Unair lewat jalur golden ticket tanpa SNBP. MOJOK.CO

Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP

7 Februari 2026
Sriwijaya FC, Tim Bola “Mainan” Politisi yang Dikelola seperti Toko Kelontong, Tapi Saya Tak Malu Pernah “Dibaptis” Jadi Fansnya.MOJOK.CO

Sriwijaya FC, Tim Bola “Mainan” Politisi yang Dikelola seperti Toko Kelontong, Tapi Saya Tak Malu Pernah “Dibaptis” Jadi Fansnya

5 Februari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.