Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Bisnis dan Perkara Segmentasinya yang Susah Diterka

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
15 Oktober 2018
A A
Majid Si Manajer Makam

Majid Si Manajer Makam

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Selain pembunuh bayaran, penggali kubur, dan penjaga makam, profesi lain yang juga kerap masuk dalam kategori “berbisnis dengan kematian” tentu saja adalah pengrajin batu nisan atau kijing.

Tak bisa dibantah, pengrajin batu nisan adalah profesi yang luar biasa rahasia, penuh dengan ketidakpastian. Ia menjadi profesi yang membuktikan bahwa bisnis tak melulu soal segmentasi.

Seorang saudara yang kebetulan menjadi pengrajin kijing pernah curhat tentang bisnisnya yang semakin hari semakin lesu. Saya yang memang tak pernah memahami pola bisnis ini tentu saja hanya bisa mantuk-mentuk.

Lha gimana, kalau dilihat dari kacamata segmentasi bisnis, pengrajin batu nisan seharusnya merupakan profesi yang menjanjikan. Segmentasinya jelas dan tertarget: keluarga orang yang baru saja mati, dan itu adalah target yang melimpah, karena kita tahu, semua orang memang pasti akan mati.

Pengrajin batu nisan menjadi bisnis yang segmentasinya sama luasnya dengan pengusaha warteg yang mengincar orang-orang lapar, dimana kita tahu, semua orang (sewajarnya) pasti akan merasa lapar. Manusia dapat tenaga dari makan, bukan dari fotosintesis layaknya pohon trembesi.

Saya jadi ingat dengan saudara-saudara saya di Muntilan. Saya membayangkan betapa susahnya mereka mendapatkan nafkah, lha gimana, mereka pekerjaannya bikin patung budha. Dan kita semua tahu, di Indonesia ini, penganut Budha adalah minoritas yang paling minoritas.

Tapi tentu saja itu sekadar perhitungan bodoh saya. Sebab ternyata, ada banyak orang Muntilan yang terbukti sukses jualan patung. Seorang kawan bahkan ayahnya bisa sampai naik haji karena menjual patung Budha.

Yah, kalau bicara bisnis murni dengan kacamata segmentasi memang ujung-ujungnya bakal bermuara pada kenelangsaan. Kalau bicara soal segmentasi, akan ada banyak profesi yang kemudian membuat mereka jauh lebih layak untuk kita kasihani.

Semalang-malangnya pengrajin nisan, ia tentu masih jauh lebih beruntung ketimbang pembuat mustaka atau kubah masjid, misalnya. Karena sepesat apapun perkembangan Islam, toh jumlah masjid atau mushola tidak akan pernah bertambah dengan signifikan.

Target pasar para pembuat kubah masjid sangat sempit. Dari satu kecamatan, bisa jadi, setiap bulannya mungkin hanya ada satu atau dua masjid baru.

Dan lagi-lagi hierarkis, semalang-malangnya pembuat kubah, ia masih tetap lebih beruntung. Kenapa? karena masih ada yang lebih nelangsa. Siapa dia? Yak, siapa lagi kalau bukan pembuat lonceng gereja.

Kalau pembuat kubah masjid, seminim apapun penjualan kubah yang mereka buat, setidaknya mereka masih punya harapan agar kubahnya laku, karena setidaknya, di Indonesia (yang mayoritas Islam), kalau ada kelompok jamaah mau bikin mushola atau masjid baru, ya “tinggal bikin” saja.

Kalau pembuat lonceng gereja, boro-boro loncengnya laku, lha wong mau bikin gereja saja susahnya minta ampun.

Terakhir diperbarui pada 15 Oktober 2018 oleh

Tags: bisnisgerejaMasjid
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Anak rantau di Jogja pilih jadi marbot. MOJOK.CO
Sehari-hari

Derita Anak Rantau di Jogja: Sulit Cari Kos Murah, Nyaris Terjebak Dunia Gelap, hingga Temukan “Berkah” di Masjid

6 Maret 2026
Menemukan kedamaian batin dari rebahan karpet masjid MOJOK.CO
Catatan

Rebahan di Karpet Masjid: Sepele tapi Beri Kedamaian Batin dari Dunia yang Penuh Standar, Tuntutan, dan Mengasingkan

12 November 2025
Pelaku Budidaya Belut Membeberkan 3 Hal yang Perlu Diperhatikan Pemula Mojok.co
Pojokan

Pelaku Budidaya Belut Membeberkan 3 Hal yang Perlu Diperhatikan Pemula

15 Oktober 2025
Bukan Cuma Masjid, Jogokariyan Jogja Ternyata Punya ATM Beras & Wakaf Produktif
Video

Bukan Cuma Masjid, Jogokariyan Jogja Ternyata Punya ATM Beras dan Wakaf Produktif

19 April 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ada potensi anomali ketika wisata Jogja diserbu 8,2 juta wisatawan. Daya beli rendah, tapi ada ancaman masalah MOJOK.CO

Anomali Wisata Jogja saat Diserbu 8,2 Juta Wisatawan: Daya Beli Tak Mesti Tinggi, Tapi Masalah Membayangi

19 Maret 2026
Selalu royal ke teman saat butuh bantuan karena kesusahan. Giliran diri sendiri hidup susah eh diacuhkan pertemanan MOJOK.CO

Kapok Terlalu Royal ke Teman: Teman Datang karena Ada Butuhnya, Giliran Diri Sendiri Kesusahan Eh Diacuhkan meski Mengiba-iba

17 Maret 2026
Kerja Jakarta, Tinggal Bekasi Pulang Jogja Disambut UMR Sialan (Unsplash)

Kerja di Jakarta, Tinggal di Bekasi Rasanya Mau Mati di Jalan: Memutuskan Pulang ke Jogja Disambut Derita Baru Bernama UMR Jogja yang Menyedihkan Itu

16 Maret 2026
Mudik Lebaran mepet dari Jogja dengan kereta demi kumpul keluarga

Mahasiswa UGM Rela Kejar Mudik di Hari Lebaran demi Kumpul Keluarga, Lewatkan “War” Tiket karena Jadwal Kuliah

19 Maret 2026
Lontong dan kangkung, kuliner tua Lasem dalam khazanah suluk Sunan Bonang MOJOK.CO

Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan

21 Maret 2026
burjo atau warmindo bikin rindu anak rantau dari Jogja ke Jakarta. MOJOK.CO

Anak Rantau di Jogja Menyesal ke Jakarta, Tak Ada Burjo atau Warmindo sebagai Penyelamat Karjimut Bertahan Hidup

16 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.