Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Gusti Allah yang Suka Guyon Dengan Hujan

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
25 Desember 2018
A A
hujan
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bagi banyak orang, utamanya penyair, hujan adalah kiriman paling syahdu dari Tuhan. Namun bagi yang lain, hujan bisa juga diartikan sebagai sebuah jebakan yang maha asyik dari Gusti Allah.

Untuk pengartian yang kedua, saya pikir, saya pernah punya kisah yang cukup relevan untuk menjelaskannya.

Iklan

Kala itu, saya dan pacar saya baru sampai di daerah Prambanan dalam perjalanan dari Solo ke Jogja ketika hujan perlahan mulai turun dari rintik kecil dan kemudian mulai menunjukkan tanda-tanda rusuh menjadi semakin deras.

Saya mulai membatin doa dalam hati, “Ya Alloh, Semoga cuaca tetap cerah, jangan hujan, Ya Alloh”

Tapi apa daya, doa saya rupanya kurang makbul. Hujan tetap turun, dan bahkan semakin deras dan provokatif.

“Berteduh dulu, Mas,” kata pacar saya.

Saya manut dan kemudian memutuskan untuk berteduh di masjid di tepi jalan raya. Sekalian luhuran.

Selesai salat, entah karena efek spiritual luhuran atau tidak, tapi yang jelas, hujan mendadak mereda.

“Wah, sholatnya manjur sekali,” kata saya. “Hujannya langsung reda.”

Kami lantas melanjutkan perjalanan. Motor saya starter, dan kami pun kembali melaju menggilas aspal jalanan Prambanan.

Namun kemudian, tak sampai lima menit setelah kami melaju, hujan yang tadi sempat mereda mendadak menderas kembali.

“Wah, Gusti Alloh ini kelihatannya memang suka giyon ya, Dik. Kita Sudah seneng karena hujannya reda, ealah sekarang kok deres lagi,” kata saya.

“Ha mangkanya, kalau hujannya reda, Mas diem saja, jangan komentar,” balasnya sengak.

Saya sadar bahwa mustahil untuk melanjutkan perjalanan dalam kondisi hujan deras, sebab mantol yang kami punya hanya satu. Kalau saya yang pakai, nanti saya dikira egois, tapi kalau saya suruh pacar saya yang pakai, nanti saya dituduh sok romantis, sok heroik, dan sok berkorban.

Iklan

Akhirnya, saya memutuskan untuk membeli mantol di salah satu kios jualan mantol yang kami lewati.

Satu mantol pun terbeli. Harganya tak mahal, tapi agak tak layak pula disebut murah. 45 ribu.

Sekarang kami punya dua mantol. Pas. Satu buat saya, satu buat pacar saya.

Tanpa banyak ba bi bu, kami segera memakai mantol kami masing-masing. Warnanya serasi, sama-sama biru. Berasa mantol couple.

Kali ini, saya mantap melanjutkan perjalanan, mau hujannya deres atau tidak. Sudah pakai mantol semuanya soalnya.

Tapi jan bajangkrek tenan. Belum ada tiga menit setelah memakai mantol, hujan mendadak reda.

“Nah, beneran tho. Gusti Alloh ini memang seneng guyon,” kata saya kembali.

“Kalau ini memang iya, Mas,” balas pacar saya.

Karena sudah kadung pakai mantol, kami memaksa untuk tetap lanjut perjalanan tanpa mencopot mantol yang sudah kami pakai. Rasanya kagol kalau kami harus mencopotnya.

Sepanjang perjalanan, saya membatin doa terus-menerus, “Ya Alloh, hujanlah yang deras, hujanlah yang deras!”

Terakhir diperbarui pada 25 Desember 2018 oleh

Tags: gusti allahhujan
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Operasi Modifikasi Cuaca dari BMKG Difitnah Jadi Pemicu Banjir. MOJOK.CO
Ragam

Operasi Modifikasi Cuaca Mustahil Bikin Banjir, Teknologi Manusia Saja Belum Mampu Mengatasi Semesta Bekerja

28 Januari 2026
BRIN: Hujan di Jakarta mengandung mikroplastik beracun. MOJOK.CO
Kabar

Warga Jakarta Harus Berbenah, Menjaga Langit Ibu Kota agar Bebas dari Air Hujan yang Mengandung “Partikel” Beracun

20 Oktober 2025
Kisah Pawang Hujan Membuat Cuaca di Luar Prediksi BMKG MOJOK.CO
Ragam

Kisah Pawang Hujan Membuat Cuaca di Luar Prediksi BMKG

1 Februari 2024
Alasan Jogja Tetap Panas Meski Sudah Masuk Musim Hujan MOJOK.CO
Kabar

Alasan Jogja Tetap Panas Meski Sudah Masuk Musim Hujan

20 Desember 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Cerita alumnus Unika, side hustle untuk temukan kebermaknaan. MOJOK.CO

Kisah Alumnus Unika Pilih Side Hustle dengan Mengubah Sampah Plastik Jadi Kerajinan agar Waras dari Kerjaan Freelance

15 Juli 2026
Pakai jastip Mie Gacoan di Jombang: bayar lebih mahal untuk menu membagongkan MOJOK.CO

Pakai Jastip Mie Gacoan Ala Orang Jombang Pinggiran: Niat Hindari Kenorakan, Yang Datang Menu Membagongkan

20 Juli 2026
Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026
Pemuda lulusan SMK tidak menyerah mencari kerja dengan modal ijazah SMK demi orang tua MOJOK.CO

Modal Ijazah SMK dan Pengalaman Tak Nyerah Cari Kerja demi Orang Tua, Meski Sering Terima “Penolakan” karena Fisik

21 Juli 2026
Pom mini warung madura kini jadi solusi di tengah antrean panjang SPBU yang tidak masuk akal MOJOK.CO

Strategi Hindari Antrean SPBU Tak Efektif Lagi, Isi Bensin di Pom Mini Warung Madura Jadi Solusi Asal Tak Pakai Logika Takaran

18 Juli 2026
Menyerang Jurnalis dengan Umpatan Bukti Pengacara Kehabisan Akal, Tunjukkan Miskinnya Argumen Hukum.MOJOK.CO

Menyerang Jurnalis dengan Umpatan Bukti Pengacara Kehabisan Akal, Tunjukkan Miskinnya Argumen Hukum

20 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.