Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

3 Jenis Pesan Pembuka pada Chat WhatsApp yang Membuat Pengirimnya Layak Dicuekin

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
19 Agustus 2021
A A
3 Jenis Pesan Pembuka pada Chat WhatsApp yang Membuat Pengirimnya Layak Dicuekin
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Ada banyak alasan untuk tidak menghiraukan pesan seseorang, dan tiga jenis pesan pembuka pada chat WhatsApp ini adalah alasan yang paling masuk akal. 

WhatsApp tak bisa tidak kini sudah menjadi alat komunikasi yang sangat penting bagi banyak orang. Ia sudah menjelma menjadi aplikasi pesan instan paling banyak digunakan di Indonesia. Dari pesan personal sampai grup kelurahan, semuanya sudah pakai WhatsApp.

Maka, tak berlebihan jika WhatsApp menjadi wahana bagi jutaan jenis pesan yang berseliweran yang sudah dikirimkan oleh orang-orang. Pesan untuk teman, keluarga, kekasih, atasan, Pak Jarot, Bang Prayit, Jokowi, Faldo Maldini, sampai Luhut Panjaitan.

Kita pasti sudah sangat terbiasa dengan aneka cara komunikasi dari orang-orang yang pernah berhubungan dengan kita melalui WhatsApp. Tentu saja ada banyak sekali gaya chat yang dipraktikkan oleh orang-orang melalui WhatsApp. Dan sedikit banyak kita mungkin sudah hafal.

Nah, dari sekian banyak itu, setidaknya ada tiga gaya komunikasi chat WhatsApp yang seharusnya dihindari oleh siapa pun juga, sebab selain menyebalkan dan menghadirkan perasaan kesal tersendiri, pesan jenis ini juga membuat si pengirim pesan layak untuk dicuekin.

Chat hanya dengan huruf “P” berkali-kali

Ya, “P” dalam hal ini sebenarnya menggantikan fungsi “ping” yang dulu memang menjadi salah satu fitur chat unggulan di Blackberry Messenger alias BBM. Tujuannya untuk memberitahu bahwa si pengirim sedang amat butuh berkomunikasi dengan penerima pesan, ping dikirim agar si penerima pesan menerima pemberitahuan dengan bunyi khas “ping” dan segera menengok hapenya.

ping

Namun, fitur ini tentu menyebalkan jika diterapkan di WhatsApp apalagi digantikan dengan sekadar pesan huruf “P”. Selain terkesan memaksa agar si penerima pesan harus sesegera mungkin memeriksa hapenya, pesan huruf “P” juga tidak relevan lagi.

Di universe WhatsApp, pesan huruf “P” tidak ada bedanya dengan pesan text lainnya. Bunyinya notifikasinya tetap sama. Maka, esensinya sebagai sebuah “ping” menjadi sia-sia.

Lagipula, jika memang perlu dan butuh komunikasi sesegera mungkin, kenapa nggak di-voice call sekalian aja, sih?

Mengawali chat hanya dengan panggilan nama.

Saya yakin kita pasti pernah menerima pesan dari seseorang yang isinya hanya suku kata terakhir nama panggilan kita. “Gus” atau “Thut” atau “Bud”.

Ya, hanya itu saja, Tidak ada kalimat lain yang menyertai nama panggilan itu. Just it. Itu thok.

nama

Tentu saja itu pesan yang amat menjengkelkan, sebab untuk bisa terpilin menjadi rangkaian pesan komunikasi yang lebih lanjut, si penerima pesan harus membalasnya terlebih dahulu dengan “Ada apa?”, barulah setelah itu si pengirim pesan menuliskan maksud dan tujuannya kenapa ia mengirim pesan.

Iklan

Ini tentu saja mubazir. Sebab pesan itu harusnya bisa ditulis langsung dengan maksudnya.

“Gus, jadi begini… bla bla bla…”

Padat, jelas, dan mudah dimengerti tanpa harus merepotkan si penerima pesan.

Langsung menanyakan posisi

Pesan WhatsApp ini sebenarnya tidak bermasalah jika dikirim oleh orang yang sudah sangat dekat dengan kita atau sangat sering berinteraksi dengan kita. Namun ada kalanya, pesan ini dikirimkan oleh orang-orang yang bahkan ketemu kita sebulan sekali saja belum tentu.

posisi

Dengan jenis hubungan yang keeratannya sangat minim itu, tentu saja pesan “Di mana?” atau “Posisi” tanpa didahului dengan salam pembuka atau basa-basi yang cukup akan membuat pesan itu menimbulkan kesan kediktatoran dan sok kuasa.

Lagian, nggak pernah ketemu kok tiba-tiba nanya-nanya posisi, emangnya situ siapa? Komandan saya? Kurang-kurangin, lah.

BACA JUGA Grup WhatsApp dan Bergesernya Visi Jan Koum dan tulisan AGUS MULYADI lainnya.

Terakhir diperbarui pada 13 Oktober 2021 oleh

Tags: chat whatsapppesanwhatsapp
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Bahayanya Jika Menggunakan WhatsApp Pihak Ketiga. MOJOK.CO
Tekno

Bahayanya Jika Menggunakan WhatsApp Pihak Ketiga

13 Mei 2023
Tips Edit Gambar untuk Jadikan PP WhatsApp yang Aesthetic. MOJOK.Co
Tekno

Tips Edit Gambar untuk Jadikan PP WhatsApp yang Aesthetic

10 April 2023
social spy whatsapp mojok.co
Kilas

Hati-hati Social Spy WhatsApp, Aplikasi Penipuan Berkedok Sadap!

9 Februari 2023
cara kirim pesan file besar di WA lewat Google Drive - MOJOK.CO
Kilas

Cara Kirim File Berukuran Besar di WhatsApp Pakai Google Drive

23 Januari 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

mabar game online.MOJOK.CO

Nongkrong Makin Membosankan dan Toksik Semenjak Teman Cuma Sibuk Main Game, Saya Dibilang Spaneng dan “Nggak Asyik” karena Tak Ikut Mabar

23 April 2026
Sebagian pengguna WiFi IndiHome beralih ke Biznet. MOJOK.CO

Ujian Terberat Pengguna IndiHome yang Dikhianati Tawaran Palsu hingga Menggadaikan Kesetiaan ke WiFi yang Lebih “Gacor”

23 April 2026
Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare? MOJOK.CO

Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare?

29 April 2026
Minyak wangi cap lang lebih bagus dari FreshCare. MOJOK.CO

Anak Usia 30-an Tak Ingin FOMO Pakai FreshCare, Setia Pakai Minyak Angin Cap Lang meski Diejek “Bau Lansia”

27 April 2026
Mahasiswa gen Z kuliah malas baca jadi brain rot

Mahasiswa Gen Z Bukan Tak Bisa Membaca, tapi “Brain Rot” karena Sering Disuapi dan Kecanduan AI

23 April 2026
Mie ayam bintang di Jakarta. MOJOK.CO

Belajar Membangun Bisnis dari Pedagang Mie Ayam Bintang, Sekilas Tampak Sederhana tapi Punya 5 Cabang di Jakarta

29 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.