Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kolom

“Komisaris Jalur Relawan” adalah Langkah Besar dalam Memasyarakatkan Kembali Tradisi Balas Budi

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
3 November 2020
A A
Balas budi
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kalau dalam beberapa waktu terakhir ini begitu santer istilah “komisaris jalur relawan” yang kemudian dikait-kaitkan dengan pemerintahan Jokowi, tentu saja hal tersebut adalah wajar belaka.

Bayangkan, dalam satu bulan terakhir, setidaknya sudah ada empat orang relawan atau pendukung atau timses Jokowi yang ditunjuk menjadi komisaris BUMN. Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir berturut-turut menunjuk Eko Sulistyo, Dyah Kartika Rini, Ulin Yusron, dan yang paling gres, Kristia Budiyarto atau yang lebih dikenal dengan nama Kang Dede sebagai komisaris.

Iklan

Netizen di media sosial tentu saja langsung memberikan komentar bernada negatif. Bagi mereka, apa yang dilakukan oleh pemerintahan Jokowi dalam memberikan jabatan komisaris kepada orang-orang yang memang beririsan dengan relawan Jokowi adalah bentuk nepotisme yang sangat nyata.

Penunjukkan para relawan Jokowi sebagai komisaris BUMN, tak bisa tidak, semakin menambah bentuk kekecewaan masyarakat terhadap Jokowi yang dianggap tidak memperjuangkan komitmen anti KKN yang dulu pernah ia dengung-dengungkan sejak kampanye Pilpres 2014.

Lantas, apakah pemerintahan Jokowi salah atas apa yang sudah mereka lakukan? Bisa jadi iya, sebab itu memang tidak sesuai dengan komitmen awal. Namun kalau mau melihat lebih jernih, penunjukkan para relawan menjadi komisaris tersebut tentu bisa dimaknai sebagai sebuah upaya nyata Jokowi dalam memperkenalkan kembali konsep “balas budi”, konsep yang sekarang mulai banyak dilupakan oleh orang-orang seiring dengan hilangnya mata pelajaran PMP dan PPKN di sekolah.

Kita, utamanya generasi muda, mulai tak akrab dengan istilah-istilah seperti balas budi, tenggang rasa, kerukunan beragama, dan yang sebangsanya.

Nah, Jokowi tampaknya ingin menghidupkan kembali romantisme pelajaran moral pancasila itu. Tujuannya apa? Tentu saja agar di tengah kondisi masyarakat yang semakin keras, brutal, dan penuh pengkhianatan seperti sekarang ini, orang-orang masih tetap menjunjung tinggi balas budi.

Memberikan jabatan komisaris BUMN kepada relawan atau tim sukses tentu saja bukan hanya dilakukan oleh Jokowi. Hal tersebut sudah ada sejak presiden-presiden sebelumnya. Namun, yang melakukan hal tersebut berturut-turut dalam waktu yang berdekatan sehingga kentara sekali, rasanya baru Jokowi yang melakukannya.

Tentu saja hal tersebut sudah dipikirkan matang-matang oleh Jokowi. Jokowi paham betul bahwa ia pasti bakal dinyinyiri sebab pemerintahannya bisa dengan ringannya memberikan jabatan komisaris kepada relawan atau tim sukses yang pernah membantu dirinya. Dan Jokowi tetap melakukannya.

Hal itulah yang membuat saya yakin, bahwa apa yang dilakukan oleh pemerintahan Jokowi adalah sebuah langkah besar yang harus diambil demi satu tujuan: memasyarakatkan balas budi.

Di periode kepemimpinannya yang terakhir ini, Jokowi tentu saja ingin meninggalkan legacy yang harus dikenang. Selain upaya pemindahan ibukota, legacy lainnya yang tampaknya memang ingin diwariskan oleh Jokowi adalah soal memasyarakatkan “balas budi” ini. Kalau perlu, bukan hanya dimasyarakatkan, tapi juga dibudayakan.

Jokowi bukan hanya ingin meninggalkan warisan fisik, namun juga mental dan spriritual.

Jokowi sudah memulai usaha memasyarakatkan balas budi secara frontal ini sejak ia menunjuk Prabowo sebagai menteri pertahanan. Prabowo, yang notabene adalah saingan beratnya dalam dua edisi pilpres, oleh Jokowi tetap diberikan jabatan di dalam pemerintahan. Tak bisa dimungkiri, sekeras apa pun persaingan antara keduanya, tetap saja Prabowo adalah sosok yang punya andil besar untuk menaikkan Jokowi. Dialah yang membawa Jokowi ke arena Pilgub DKI yang kelak kemudian menjadi trek awal Jokowi untuk menuju kursi presiden.

Maka, ketika Prabowo ditunjuk menjadi menteri pertahanan, Jokowi seperti ingin memberikan pesan penting: balas budi adalah hal yang sangat besar dan harus diperjuangkan. Begitu pula yang terjadi saat para relawan atau pendukung Jokowi diberikan posisi sebagai komisaris, berturut-turut, dalam waktu yang berdekatan.

Iklan

Jokowi, berpikir sangat jauh. Ia tak hanya memikirkan urusan masa depan rakyatnya di dunia, melainkan juga di akhirat nanti.

Jokowi paham betul, bahwa hutang emas boleh dibayar, hutang budi dibawa mati. Hutang negara bisa diwariskan, namun hutang budi harus diselesaikan.

Terakhir diperbarui pada 3 November 2020 oleh

Tags: jokowikomisarisSotar Satir
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Kereta Cepat Whoosh DOSA Jokowi Paling Besar Tak Termaafkan MOJOK.CO
Esai

Whoosh Adalah Proyek Kereta Cepat yang Sudah Busuk Sebelum Mulai, Jadi Dosa Besar Jokowi yang Tidak Bisa Saya Maafkan

17 Oktober 2025
Sialnya Warga Banjarsari Solo: Dekat Rumah Jokowi, tapi Jadi Langganan Banjir Gara-gara Proyek Jokowi.MOJOK.CO
Kabar

Sialnya Warga Banjarsari Solo: Dekat Rumah Jokowi, tapi Jadi Langganan Banjir Gara-gara Proyek Jokowi

7 Maret 2025
3 Rupa Nasionalisme yang Mewarnai Indonesia Hari Ini MOJOK.CO
Esai

3 Rupa Nasionalisme yang Mewarnai Indonesia Hari Ini

26 Februari 2025
Afnan Malay: Membedah Hubungan Prabowo-Jokowi Setelah Pemilu dan Janji Program MBG
Video

Afnan Malay: Membedah Hubungan Prabowo-Jokowi Setelah Pemilu dan Janji Program MBG

18 Februari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Peluncuran logo dan maskot MTQ Nasional XXXI di Semarang, Jawa Tengah MOJOK.CO

MTQ Nasional XXXI Jateng: Warna Baru Festival Al-Qur’an Terbesar dan Adem Ayem di Semarang

25 Juni 2026
Mahasiswa Unair kuliah di Polandia, Eropa dengan beasiswa pertukaran pelajar dari Erasmus. MOJOK.CO

Jalan-jalan ke 6 Negara di Eropa dengan Beasiswa Erasmus, Mahasiswa Unair Ini Dapat Pembelajaran Berharga dari Sekadar Belajar Musik

24 Juni 2026
Gojek Hadirkan Kurasi Jalan Jajan di Aplikasi dan Latih 500 Mitra Driver Lewat Program Sadar Wisata Bersama Pemkot Jogja MOJOK.CO

Gojek Hadirkan Kurasi Jalan Jajan di Aplikasi dan Latih 500 Mitra Driver Lewat Program Sadar Wisata Bersama Pemkot Jogja

24 Juni 2026
Refleksi untuk orang tua di Jawa Tengah (Jateng): punya peran penting awasi anak agar tidak sibuk main gadget MOJOK.CO

Refleksi untuk Orang Tua di Jateng agar Gadget Tak Kuasai Rumah hingga Anak Lebih Sibuk Tenggelam dalam Layar

29 Juni 2026
Final Essay Contest Beswan Djarum: Dorong Mahasiswa Berpikir Kritis dan Tawarkan Solusi Isu Sosial MOJOK.CO

Final Essay Contest Beswan Djarum: Dorong Mahasiswa Berpikir Kritis dan Tawarkan Solusi Isu Sosial

25 Juni 2026
Coach Jacksen F. Tiago: Pendekatan Psikologis di Sepak Bola Remaja Putri Harus Didahulukan Ketimbang Fisik dan Taktik.MOJOK.CO

Coach Jacksen F. Tiago: Pendekatan Psikologis Pemain Muda Putri Harus Didahulukan Ketimbang Fisik dan Taktik

28 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.