Di bangku SMA, ketika gadis-gadis remaja menyelipkan foto pacar masing-masing atau para personil Westlife ke dalam dompet, saya memilih Marthen Kanginan. Jika Anda pernah mengecap bangku sekolah menengah, belum pernah mendengar nama Marthen Kanginan sama mustahilnya dengan mengaku selebtwit tapi belum pernah twitwor dengan Arman Dhani.

Marthen Kanginan adalah penulis buku pelajaran Fisika terbitan Erlangga untuk SMP dan SMA yang buah pikirannya telah meracuni hampir separuh dari penduduk Indonesia di masa muda. Marthen Kanginan adalah sosok yang membuat abege-abege ingusan menempelkan rumus-rumus di dinding toilet dan tembok kamar, berharap ketika bangun pagi rumus-rumus tersebut sudah menempel di otak seperti lintah. Marthen Kanginan adalah alasan mengapa sebagian besar anak dihukum orangtuanya di musim liburan kenaikan kelas akibat rapor merah membara.

Marthen Kanginan, wahai rakyatku, adalah Dewa Fisika—diturunkan Zeus ke bumi sebagai hukuman bagi anak manusia yang sulit sekali membedakan Gaya Katrol dan Gaya Benda.

Hal yang mencolok dari buku-buku Marthen Kanginan adalah ketebalannya. Seorang kawan bersumpah buku-buku itu bukan bertambah tipis dari edisi ke edisi tapi justru sebaliknya. Saya mengambil jurusan IPA pada tahun terakhir di SMA (sebuah kekhilafan masa muda yang dilatarbelakangi peer pressure) dan separuh dari anak-anak di kelas saya menjadikan buku Marthen Kanginan sebagai bantal tidur ketika tak ada guru. Beberapa dari mereka memberikan testimoni bahwa buku Marthen Kanginan memberikan sensasi tidur yang istimewa. Ada yang mencoba mengganti alas tidur mereka dengan buku lain tapi tidak pernah mengalami lelap yang sama.

Mengapa persisnya saya menyelipkan foto Marthen Kanginan di dalam dompet sungguh suatu misteri. Dia tidak ganteng, ramah, maupun murah senyum. Rambutnya tidak trendi. Jasnya pun membosankan. Fotonya di halaman belakang buku paket Fisika selalu menampilkan pose yang sama: menatap kaku tanpa rona bahagia. Marthen Kanginan memandang lurus tanpa ekspresi ke arah pembacanya, seolah berkata: eat this shit or you’ll die.

Saya sendiri tidak pernah jago Fisika. Nilai saya pas-pasan sekadar bisa masuk jurusan ilmu alam (buktinya setelah lulus saya malah berkhianat dan kuliah di FISIP). Setiap kali dapat soal seperti “benda A dikerek dengan tiga macam katrol, yakni katrol X, Y, dan Z, dengan besaran energi sekian bla-bla-bla, tentukan berapa Newton gaya yang tercipta”, yang ada di pikiran saya hanyalah: SIAPA ORANGNYA YANG ISENG BANGET NGEREK BENDA PAKAI TIGA MACAM KATROL?

Lantaran keputusasaan saya dalam pelajaran yang bersangkutan, sebenarnya saya sudah lama memutuskan untuk lepas bayang-bayang Marthen Kanginan. Namun, malam ini nama beliau kembali menjumpai saya dalam perbincangan dengan seorang rekan soal buku pelajaran. Dia editor di sebuah penerbitan spesialis buku pelajaran.

Ternyata eh ternyata, Marthen Kanginan itu dulunya pegawai perusahaan setrum. Dia sangat berminat pada Fisika, dan telaten menulis buku paket yang entah bagaimana seperti menjadi kitab suci untuk semua sekolah di Indonesia.

Setiap buku paket yang ditulisnya bisa laku sampai 200.000 eksemplar. Konon Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) belum pernah mengeluarkan standar best-seller, dan masing-masing penerbit biasanya punya standar best-seller versi masing-masing. Tapi hitung saja, jika per buku Marthen dapat royalti 10% dari harga penjualan per eksemplar, pasti sepanjang hidupnya dia merasakan sensasi “ditabokin duit”.

Saya sungguh ingin mengunggah foto beliau untuk mendampingi tulisan ini, tetapi Google tidak menyediakannya (yang keluar, entah kenapa, malah gambar Baim Wong) dan saya sudah lama mengubur buku-buku Fisika agar bisa melanjutkan hidup. Saya cuma mau pamer ke seluruh dunia bahwa waktu remaja saya tidak salah pilih dalam hal memasang foto lelaki di dompet.

Inilah pria yang konon bisa membangun lima rumah hanya dari menulis barisan rumus dan latihan soal yang melibatkan benda bergerak, pegas, dan katrol. Inilah pria yang bisa mendefinisikan kesuksesan dalam satuan Newton dan Tesla. Inilah pria yang memberimu pesan moral: jika kau ingin kaya, tulislah buku pelajaran Fisika, jangan buku puisi tak tentu rupa.

Komentar
Kirim Artikel
No more articles