Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Ki Hadjar Dewantara: Nakal Harus, Goblok Jangan

Muhidin M. Dahlan oleh Muhidin M. Dahlan
31 Agustus 2015
A A
ki hadjar dewantara
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Dear Bung Hadjar,

Situ keren, Bung! Bikin sekolah Taman Siswa, tapi siswa-siswa kumunis boleh ikut belajar dan dapat ijazah resmi pula. Anak situ sendiri juga bebas memilih jadi wartawan amplop kanan atau kiri; dan Bung menerima dengan lapang dada saat akhirnya pilihan anak jatuh menjadi jurnalis kominis.

Situ bahkan dengan selo-nya nerjemahin lagu “Internasionale” yang na’udzubillah itu ke dalam bahasa Indonesia. Lebih kaffah lagi, situ jadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pertama setelah Indonesia Merdeka. Dan kafah di atas kafah, eh, tanggal kelahiran Bung diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Enak betul di zaman Bung, kami yang ngenes: kami peringati Bung tanpa mata pelajaran marxisme, tanpa palu arit, tanpa internasionale.

Tapi kan hari ini bukan Hari Pendidikan Nasional? Bung betul, ini memang bukan hardiknas, tapi masih di pekan Ultah Mojok, dan jarak antara hari pendidikan dan Hari Mojok hanya 118 hari jarak cinta.

Di hari pendidikan, mulai dari menteri, guru, hingga awamnama menghapal betul tiga ajaran sakti Bung: Tut Wuri Handayani – Ing Ngarso Sun Tulodo – Ing Madyo Mangun Karso.

Di Pekan Mojok ini, izinkan saya dan jutaan orang yang sepaham dengan mojokisma untuk tak latah mengulangi lagi tiga kalimat bijak yang itu-itu saja, tapi petuah Bung yang lain, yang jarang dikutip, dan tentu saja lebih relevan dengan Hari Mojok. Kutipan yang ini, Bung: Ngandel, Kendel, Kandel, Bandel.

Jabat tangan erat, Bung!

Bung kira-kira mau bilang, manusia mojokisma itu mestilah manusia yang ngandel, manusia yang penuh percaya diri, bukan peragu. Tapi percaya diri dan rasa yakin saja tak cukup dalam melayari hidup yang beronak berduri-duri, tapi juga harus diikuti sifat kendel, sikap berani dan patriotik. Menulis status garang menyerang presiden, eh pas dilaporkan ke Polres setempat terus ngeles dengan lutut yang bergetar hebat. Ujug-ujug bilang khilaf. Berani dengan rasa percaya diri mestilah sejalan. Kalau nggak, hanya berakhir antiklimaks, goblok.

Supaya keberanian gak ngawur, manusia mojokisma punya sabuk pengaman. Ya, mesti punya kandel, punya ilmu pengetahuan. Percaya diri punya, keberanian oke, dan makin naik bobotnya bila semuanya dibungkus dengan pengetahuan agar tidak tumbang dengan sekali gertak.

Sudah cukup? Belum. Bung ngasih satu lagi prasyarat tertinggi: Bandel!

Apa? Bung ingin anak-anak mojokisma itu “melawan kata atau nasihat orang; tidak mau menurut atau mendengar kata orang; kepala batu”, sebagaimana kata itu diartikan dalam Kitab Mulia KBBI dan di kepala manusia Indonesia?

Allahu Akbar! Bahkan akal paling lemah tentu berkata bukan bandel itu maksud Bung. Apa kata orang coba, Mendikbud Pertama ngajarin yang gak genah kepada umat manusia se-Indonesia untuk durhaka.

Ada yang mengartikan bandel adalah tahan dan tawakal, namun juga bisa diartikan dengan kreatif. Dan arti keren kreatif adalah: mengubah yang biasa menjadi tidak biasa, memikirkan apa yang luput dipikirkan orang banyak.

Singkat kata, Bung adalah teladan mojokisma. Semua kandungan sifat ngandel, kendel, kandel, dan bandel telah Bung teladankan secara paripurna dalam semesta sejarah.

Iklan

Bung berani bertarung melawan pemerintah Hindia Belanda lewat tulisan cadas Seandainya Saya Seorang Belanda pada tahun 1913—ketika kecebong albino atas nama Kanda Taufiq Gaffar belum juga ditetapkan Gusti Pangeran akan diletakkan di pojok mana. Alih-alih minta maaf, Bung lebih memilih penjara dan pembuangan. Sebab Bung orangnya kandel, punya stok pengetahuan bahwa apa yang dilakukan Bung sudah dalam trek kebenaran yang dilandasi ilmu pengetahuan. Sebuah tindakan sadar dengan risiko besar yang mesti diterima dengan kepala tegak.

Situ bandel, Bung. Nakalnya pol dan banyak akal. Bung berpikir cepat ketika ditawari lokasi pembuangan. Mau dibuang di luar Jawa seperti Pangeran Diponegoro, atau ke negeri Ratu Wilhelmina. Bung memilih Holland. Alasan Bung cerdik dan ciamik: kalau masih di Hindia Belnada nasib Bung akan seperti leluhur yang pemberani itu, Diponegoro. Tapi kalau ke Holland, Bung berkesempatan menyerap lebih banyak pengetahuan Barat untuk balik memukul.

Dan sepulang dari Holland tahun 20-an, dengan sangu banyak akal itulah, Bung mengorganisasi perlawanan dan menghajar kolonialisme di jalan pendidikan. Taman Siswa adalah sekolah bikinan Bung yang bertiwikrama dari etno-nasionalisme ke pengajaran kebangsaan.

Bung mencontohkan transformasi dari feodalisme ke gerakan kebangsaan baru dan modern itu dengan mengganti nama Bung sendiri, tanpa paksaan MUI atau pribadi-pribadi ngehek seperti yang sedang dialami oleh Kawan Tuhan dan Kamerad Saiton. Disaksikan sahabat Bung sesama bangsawan Istana yang tak kalah nyentriknya, Ki Ageng Suryomentaram, Bung membuang nama feodal Bung, Soewardi Soerjodiningrat, dan menggantinya menjadi Ki Hadjar Dewantara pada 23 Februari 1928.

Bung menekankan bahwa, dengan nama baru itu, tangan kanan Bung habis-habisan mengAJAR bangsa sendiri dengan jalan budi dan pengetahuan, sementara tangan kiri mengepal dan mengHAJAR kolonialisme dengan jalan pergerakan. Makanya Bung bikin konsep pendidikan bertumpu pada 3 sentra besar: keluarga, perguruan (pendidikan formal), dan perjuangan/pergerakan.

Dan seperti yang dicontohkan Bung, bandel itu, nakal itu, bisa dipelajari dan ditempuh dengan laku yang keras. Adhe Ma’ruf, bakul buku jebolan sejarah IKIP Yogyakarta, sudah nyoret-nyoret buku kurikulumnya, Belajar Nakal: Catatan Berantakan dari Kota Setengah Gila.

Banyak nakal, banyak akal. Selamat ulang tahun untuk Mojok dan bilkhusus lima juta umat mojokisma. Bahagia harga mati!

Hajar, Bung!

Terakhir diperbarui pada 18 Februari 2021 oleh

Tags: Ki Hadjar DewantaranakalSedikit Nakal Banyak Akal
Muhidin M. Dahlan

Muhidin M. Dahlan

Penulis dan kerani partikelir IBOEKOE dan Radio Buku.

Artikel Terkait

Renungan sistem pendidikan sekolah hari ini atas Palagan Ki Hadjar Dewantara MOJOK.CO
Kilas

Renungan atas Palagan Ki Hadjar Dewantara: Sekolah Hanya Sekadar Meluluskan tapi Belum Mendidik

15 Mei 2025
Sejarah Museum Dewantara Kirti Griya, Dibeli Ki Hadjar Dewantara 3.000 Gulden, Rusak Akibat Kericuhan. MOJOK.CO
Kilas

Sejarah Museum Dewantara Kirti Griya, Dibeli Ki Hadjar Dewantara 3.000 Gulden, Rusak Akibat Kericuhan

6 Juni 2023
Imbas Bentrok Antarkelompok, Meja dan Kursi Bersejarah Ki Hadjar Dewantara Rusak. MOJOK.CO
Kilas

Imbas Bentrok Antarkelompok, Meja dan Kursi Bersejarah Ki Hadjar Dewantara Rusak

5 Juni 2023
Ki Hadjar Dewantara: Propagandis Kaum Buruh Penyebar Pamlet Internasionale
Video

Ki Hadjar Dewantara: Propagandis Kaum Buruh Penyebar Pamlet Internasionale

12 Mei 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Motor Vespa Matic Primavera 150 warna hijau toska

Beli Vespa Mahal-mahal sampai Rp50 Juta, tapi Tak Paham Fungsinya, Dibeli karena Warnanya Lucu

19 Februari 2026
Orang desa ogah bayar pajak motor (perpanjang STNK) di Samsat MOJOK.CO

Orang Desa Ogah Bayar Pajak Motor (Perpanjang STNK), Lebih Rela Motor Disita daripada Uang Hasil Kerja Tak “Disetor” ke Keluarga

19 Februari 2026
PGPAUD, Guru PAUD.MOJOK.CO

Nekat Kuliah di Jurusan PGPAUD UNY demi Wujudkan Mimpi Ibu, Setelah Lulus Harus ‘Kubur Mimpi’ karena Prospek Kerja Suram

19 Februari 2026
Mall Kokas di Jakarta Selatan (Jaksel) macet

Mall Kokas, Tempat Paling Membingungkan di Jakarta Selatan: Bikin Pekerja “Mati” di Jalan, tapi Diminati karena Bisa Cicipi Gaya Hidup Elite

20 Februari 2026
Ngekos setelah menikah, ngekos di jogja, kesehatan mental.MOJOK.CO

Memilih Ngekos Setelah Menikah daripada Tinggal Bareng Ortu-Mertua, Finansial Memang Empot-empotan tapi Kesehatan Mental Aman

16 Februari 2026
Jakarta membunuh nurani kemanusiaan MOJOK.CO

Jakarta Kota “Pembunuh” Nurani: Orang Jatuh malah Ditekan, Lebih Ringan Beri Makan Anak Kucing ketimbang Anak Manusia yang Kelaparan

16 Februari 2026

Video Terbaru

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

16 Februari 2026
Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

14 Februari 2026
Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.