Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Bersedekah untuk Nyamuk

Rusdi Mathari oleh Rusdi Mathari
1 Juli 2015
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sejak keriuhan di kandang kambing milik Pak Lurah, orang-orang semakin percaya bahwa Cak Dlahom bukan orang gila biasa. Sebagian mulai mencapnya sebagai orang gila yang sesat. Sebagian yang lain kasak-kusuk mau mengusir Cak Dlahom dari kampung. Di mana-mana, mereka memperbincangkan tingkah Cak Dlahom. Kadang usai salat di masjid, kadang di warung kopi, kadang di rapat RT. Cak Dlahom telah menjadi isu di kampung.

Tapi itu semua belum seberapa sampai pada suatu malam, usai maghrib, orang-orang diributkan kembali oleh tingkah Cak Dlahom. Kali ini kejadiannya bukan di kandang kambing, melainkan persis di depan masjid, di balik tembok tempat imam salat.

Entah siapa yang kali pertama kali menemukannya, usai salat maghrib orang-orang mengerubungi Cak Dlahom telentang di antara dua makam tua. Sumpah-serapah dan caci-maki terdengar. Mereka lupa baru saja beribadah. Kaum perempuan menjerit.

Mat Piti yang sedang berzikir terganggu, dan terpaksa juga menengok ke belakang pengimaman. Dan benar, di sana ada Cak Dlahom telentang memandangi langit.

Masalahnya, Cak Dlahom bukan hanya telentang, tapi juga telanjang. Telanjang bulat, dan itulah yang memantik kemarahan jamaah. Cak Dlahom dianggap menodai kesucian masjid. Beruntung mereka tidak berbuat kekerasan terhadap Cak Dlahom.

Melihat Cak Dlahom yang seperti itu, Mat Piti segera mengambil sarung yang disediakan di masjid. Dia lalu melemparkannya dan meminta Cak Dlahom agar segera mengenakannya. Cak Dlahom sempat kaget dan mulanya tidak bersedia, tapi Mat Piti terus merayunya hingga Cak Dlahom mengenakan sarung itu. Dia menutup bagian perut ke bawah.

Mat Piti lalu segera merangkulnya. Cak Dlahom diajak pulang ke rumahnya. Di teras masjid, satu-dua orang memukul kepala Cak Dlahom, tapi Cak Dlahom hanya cekikikan. Dan di rumah Mat Piti, usai Cak Dlahom diberi minum oleh Romlah, mulailah Mat Piti bertanya maksud Cak Dlahom telanjang bulat di belakang pengimaman masjid.

“Maksud sampeyan apa sih, Cak?”

“Yang mana, Mat?”

“Ya yang tadi, Cak, sampeyan kok telanjang di belakang pengimaman?”

“Oh, tak kira apa. Aku mau sedekah, Mat.”

“Sedekah apa?”

“Ya sedekah, Mat.”

“Masak sedekah dengan telanjang bulat gitu, Cak?”

Iklan

“Masak ndak boleh?”

“Maksud saya, sampeyan telanjang itu mau sedekah untuk siapa?”

“Aku mau bersedekah buat nyamuk, Mat.”

“Hah? Nyamuk? Yang bener saja, Cak .…”

“Loh kenapa ndak bener?”

“Di mana-mana, bersedekah itu ke manusia. Pakai barang atau ilmu. Ini masak sedekah telanjang ke nyamuk.”

“Terus yang mau bersedekah ke nyamuk siapa, Mat?”

“Ya nyamuk memang sudah diciptakan untuk begitu, Cak. Tak perlu disedekahi.”

“Itu kan katamu. Setiap hari, setiap malam, berapa banyak nyamuk yang kamu bunuh, hanya karena mereka dianggap binatang tak tahu diri yang mengisap sedikit darahmu dan mengganggu kenyamanan telingamu?”

“Setahu saya, Cak, Allah menciptakan nyamuk hanya berusia dua hari. Kita bunuh atau tidak, nyamuk akan segera mati dalam dua hari.”

“Kamu dan manusia lain juga akan segera mati, Mat.”

“Betul, Cak, tapi dia merugikan kita. Mengisap darah kita.”

“Sudah tidak bisa menciptakan, suka membunuhnya, menganggapnya pengganggu, dan kamu masih merasa paling mulia, Mat? Baru digigit nyamuk saja sudah merasa terganggu.”

“Kita kan diwajibkan juga menjaga kesehatan dan kebersihan, Cak? Kalau digigit nyamuk, kulit kita bisa bentol-bentol.”

“Allah menciptakan nyamuk, antara lain untuk mengisap darah manusia. Agar manusia tahu, ada hak makhluk lain pada dirinya. Dan mengisap darah adalah ibadah nyamuk kepada Allah.”

“Ya. Tapi tetap saja itu mengganggu, Cak.”

“Oh, iya, karena kamu merasa tidak pernah menggangu makhluk lain. Lagi pula kalau setiap nyamuk kamu bunuh, lalu dengan cara apa mereka akan berbakti kepada Allah? Tidakkah mereka mengisap darah itu, karena diperintah oleh Allah?”

“Sampeyan tahu dari mana, Cak?”

“Ada tah, Mat, Allah menciptakan sesuatu itu sia-sia dan tidak untuk beribadah kepadaNya?”

“Ndak ada, Cak…”

“Karena itu aku telanjang bulat. Aku ingin membantu nyamuk-nyamuk memenuhi pengabdiannya kepada Allah. Aku menyedekahkan darahku, agar dengan begitu mereka bisa berbakti kepada Allah.”

“Ya, tapi lain kali tak usah telanjang di halaman masjid, Cak, apalagi saat-saat orang berjamaah. Jadi ribut.”

“Itu soal teknis, Mat. Perkara gampang.”

“Gampang gimana?”

“Aku bisa telanjang di mana saja termasuk di sini.”

Belum sempat Mat Piti menjawab, Cak Dlahom sudah memelorotkan sarungnya. Telanjang bulat lagi. Mat Piti berseru kaget.

Romlah yang sedang mengaji di ruang tamu, buru-buru ke luar ke teras. Dia segera menjerit melihat Cak Dlahom tanpa selembar kain, berdiri persis di depan bapaknya yang duduk di lincak, dan segera kembali masuk rumah.

Cak Dlahom cekikikan. Mat Piti geleng-geleng kepala. Nyamuk-nyamuk beterbangan.

 

(diinspirasi dari kisah yang diceritakan Syeikh Maulana Hizboel Wathany)

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2021 oleh

Tags: #MerconCak DlahomMat PitinyamukSedekah
Rusdi Mathari

Rusdi Mathari

Artikel Terkait

Dosa-dosa kecil yang kerap dilakukan hingga memicu masalah keuangan: uang atau gaji berapa pun terasa kurang MOJOK.CO
Sehari-hari

“Dosa Kecil” Pemicu Masalah Keuangan tapi Kerap Dilakukan, Bikin Uang atau Gaji Berapa pun Terasa Kurang

10 Maret 2026
bca.MOJOK.CO
Ekonomi

Kolaborasi BCA, Lazismu dan BAZNAS: Bikin Zakat, Infak, Sedekah Makin Mudah, Begini Caranya!

30 Maret 2025
Warung Sedekah Kudus Jadi Jalan Spiritual Bagi Bosnia Sasmito. MOJOK.CO
Sosok

Warung Sedekah Kudus Jadi Jalan Spiritual Bagi Bosnia Sasmito

23 April 2023
Khotbah

Tak Rela Terima Sedekah karena Tak Mau Lihat Orang Lain Lebih Mulia

17 Desember 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengalaman Merusak Astrea Grand Jadi Motor Racing Kampung MOJOK.CO

Pengalaman Saya “Merusak” Astrea Grand Milik Bapak Menjadi Motor Racing Kampung: Jebakan Menyenangkan dari Motor Honda yang Menjerat Saya Sampai Tua

2 Juni 2026
Skandal Kopenhagen dan Travel Grant: Mengapa Sistem Akademik Indonesia Justru Melahirkan Conference Hunter Palsu? MOJOK.CO

Skandal Kopenhagen dan Travel Grant: Mengapa Sistem Akademik Indonesia Justru Melahirkan Conference Hunter Palsu?

29 Mei 2026
Jingle MBG Mas Bahlil Ganteng: ejekan ke figur politik tapi jadi alat reproduksi popularitas, buktinya Partai Golkar senang MOJOK.CO

MBG Mas Bahlil Ganteng Sudah Over-eksposur: Bahasa Kritik tapi Jadi Alat Reproduksi Popularitas, Bikin Golkar Senang

28 Mei 2026
Kerja di Jakarta, Cara Terbaik Buat Melihat Sisi Buruk Manusia adalah Kerja di F&B.mojok.co

FnB di Jakarta Bikin Sengsara Pekerjanya: Bisnis Elite tapi Gaji Karyawannya Seuprit, yang Dimiliki Artis bahkan Lebih Tak Manusiawi

2 Juni 2026
Tren kalcer dan monopoli olahraga bikin gowes (bersepeda) jadi terlalu ambisius MOJOK.CO

Tren Kalcer dan Monopoli Olahraga bikin Gowes Jadi Terlalu Ambisius, Mau Sekadar Bersepeda tapi Malu Dicap Cupu

3 Juni 2026
Riset, Peneliti, Guru Besar Abal-Abal.MOJOK.CO

Sekte “Pemuja Kargo” di Ekosistem Kampus Indonesia yang Mencetak Peneliti Palsu dan Ilmuwan Abal-Abal

3 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.