MOJOK.COTerobosan yang menarik dari Risa Santoso. Mahasiswa boleh lulus tanpa perlu bikin skripsi. Sebagai gantinya, kamu bisa belajar jadi buzzer yang profesional lewat sebuah proposal.

Kamu sudah habis berapa rim kertas buat melewati proses seperti ini:

Skripsi Revisi 1.docx

Skripsi Revisi 2.docx

Skripsi final.docx

Skripsi final fix.docx

Skripsi final fix banget insyaallah.docx

Skripsi final fix banget insyaallah nggak revisi lagi.docx

Skripsi asshemboh sekarepmu ampuni hamba ya Allah.docx

Selain menghabiskan meteran mental mahasiswa veteran, hujan revisian skripsi nggak sesuai dengan amanat “Save the Earth”. Buang-buang kertas! Sudah boros kertas, kamu ketemu dosen yang naudzubillah nggak paham kalau batasan antara DO dan kabur itu sangat tipis.

Teman saya, seorang jurnalis, memilih untuk kabur dari kampusnya di sebuah kota di Jawa Timur dan memilih langsung kerja di Jogja. Alasannya, dia ketemu dosen yang kalau revisian sudah seperti antara memang super teliti dan seneng nge-prank mahasiswanya. Nge-prank dengan bikin banyak coretan di lembar-lembar skripsian yang seperti tanpa masa depan itu.

Melihat keprihatinan itu, Risa Santoso membuat terobosan. Rektor termuda di Indonesia itu bakal mengizinkan mahasiswanya lulus tanpa perlu bikin skripsi. Rektor Institut Teknologi dan Bisnis ASIA Malang itu seperti paham betul kalau skripsi itu terkadang nggak beda kayak mitos. Sulit diketahui wujud akhirnya.

Risa Santoso benar. Lagian, ribuan lembar kerta bekas revisian itu mau buat apa? Kalau kreatif, sih, masih mungin dikilokan. Menjadi sebuah usaha balas dendam dengan me-monetize kertas bekas revisian brengsek. Biar rasa sakit hatinya sedikit berkurang karena dapat duit. Apa sih yang lebih penting daripada duit sekarang ini?

Baca juga:  Di Kelompok ASN, Penyebar Hoax dan Ujaran Kebencian Paling Banyak Adalah Dosen

Ada yang lebih ekstrem lagi dengan membakar kertas hasil revisian skripsi. Sudah boros kertas, masih mencemari udara. Sangat tidak go green. Masih mending kalau kertas-kertas penuh coretan kebencian itu dijadikan bungkus gorengan atau buar cebok sebagai pengganti tisu toilet.

Saya sering membayangkan dosen-dosen killer itu bukan lagi revisian, tapi lagi gambar pemandangan. Lihatlah raut muka bahagia mereka ketika bolpen bertinta merah itu menari-nari di atas skripsi yang kamu kerjakan dengan sepenuh jiwa raga. Mereka sedang bernostalgia dengan menggambar dua gunung dengan matahari yang menyembul di antara dua gunung itu.

Maka, mari berterima kasih kepada Risa Santoso karena mengizinkan mahasiswa lulus tanpa skripsi. Terima kasih, Bu Risa Santoso. Sans banget nih rektor, boomer mana ngerti.

Nah, sebagai pengganti skripsi, Risa Santoso mengajak mahasiswa untuk bisa menjawab tuntutan zaman. Di era industri 4.0, mahasiswa sudah harus dekat dengan industri. Menggunakan bahasa Risa Santoso, harus ada “link and match” antara mahasiswa veteran yang mau lulus dengan (calon) dunia kerja.

“Jumlah mahasiswa akan datang dengan sendirinya kalau kualitasnya bagus. Tapi yang terpenting menurut saya adalah dengan kerja sama, dengan program-program yang dibuat dan itu mungkin lebih nyata,” kata Risa Santoso seperti dikutip Kompas.

Nah, sebagai pengganti skripsi, Risa Santoso mengajak mahasiswa untuk lebih pandai bikin “proposal project”. “Mungkin salah satu yang ingin saya terapkan (dari Harvard University) adalah, untuk tugas akhirnya, gimana caranya supaya kita ini lebih membantu mahasiswa untuk siap di dunia kerja. Jadi mereka ini bisa memilih, apakah mau skripsi atau mau bekerja di luar dan membuat project akhir,” tambahnya.

Baca juga:  Modal Baca Buku Saja Tak Cukup bagi Dosen Pengajar Mahasiswa Milenial

Saya rasa ini ide yang sungguh brilian. Risa Santoso paham betul bahwa salah satu profesi yang tengah menjadi “lahan basah” adalah menjadi buzzer dan SJW. Selain menjadi PNS, dalam waktu 5 tahun ke depan, saya yakin harapan calon mertua nggak hanya punya mantu PNS, tetapi juga buzzer. Apalagi kalau buzzer-nya berstatus PNS.

Sudah kebal hukum, kamu juga bakal punya banyak followers bebal. Tentu saja ekonomimu akan terjamin. Syaratnya gampang banget dan Risa Santoso memahaminya, yaitu proposal. Bagi banyak buzzer dan SJW, bikin proposal itu susah lho. Menentukan target audience, bikin wording, jam berapa harus unggah hoaks, menyepakati kalimat sanggahan, dan lain sebagainya.

Hal-hal itu harus ada di dalam proposal biar calon klien yakin kamu buzzer yang kerjanya rapi. Biar klien yakin, kalau viral dan jadi perhatian polisi, mereka nggak akan terseret. Latihan bikin proposal ini life skill yang perlu dikuasai milenial dan Gen Z.

Ketimbang bikin skripsi yang nggak go green, kita bisa mulai belajar bikin proposal dalam bentuk pdf. Lebih artsy tentunya, colorful, dan user friendly. Inspiratif, Bu Risa Santoso.

BACA JUGA Skripsi SJW, Solusi Karya Ilmiah yang Ramah Lingkungan atau tulisan YAMADIPATI SENO lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles