Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Pengalaman Horor Nonton Bareng Film G30S/PKI

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
29 September 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Saya pernah mengalami keharusan nonton film G30S/PKI ini tiap akhir September ketika masih SD. Dan hingga kini, pengalaman horor itu masih membekas.

Saya ingat, kami duduk di aula SD Kanisius Baciro, Yogyakarta, lebih tepatnya di atas panggung di bagian depan aula. Kami duduk dengan rapi, lesehan, tanpa alas. Lantai panggung yang terbuat dari kayu itu yang menjadi alas duduk kami.

Kalau tak salah ingat, kami nonton bareng film G30S/PKI menggunakan proyektor yang ditembakkan ke kain putih berukuran cukup besar. Sebetulnya, saya lebih takjub dengan cara kerja proyektor dan sinarnya yang menimpa kain itu daripada nonton film yang tak pernah diberi pengantar oleh para guru.

Maksudnya pengantar itu dikasih tahu terlebih dahulu film G30S/PKI itu tentang apa, atau mengapa kami harus nonton ramai-ramai tiap akhir September. Kan itu sangat kompleks ceritanya, tentang sebuah peristiwa yang mengubah wajah Indonesia. Beda dong dengan kalau kita nonton Doraemon atau Kesatria Baja Hitam tiap hari Minggu pagi yang disiarin RCTI. Tanpa perlu dijelaskan, dengan nonton saja, kita sudah tahu itu film tentang apa.

Pokoknya yang terekam dalam ingatan saya adalah kata “harus”. “Nanti, kalian harus nonton film.” Kalimat dari guru itu seperti rekaman kaset pita yang diputar terus-menerus di hari nonton bareng film G30S/PKI. Selain kalimat itu, yang terekam dalam ingatan saya hanyalah fragmen-fragmen mengerikan dan itu membekas sampai sekarang.

Mulai dari kata “Cakrabirawa”, adegan seseorang diberondong senapan serbu, adegan membasuh muka dengan darah, adegan penyiksaan jenderal di sebuah rumah, adegan para simpatisan PKI dan Gerwani yang datang ke sebuah tempat dengan mengendarai truk besar – deru truk itu bukin dada berdesir – adegan mayat yang dibuang ke dalam sumur kecil, sampai pengangkatan mayat itu sendiri.

Namun, adegan yang paling membekas dari film G30S/PKI adalah ketika kamera zoom in ke arah tangan yang sedang mengambil silet yang diselipkan di dinding bambu. Adegan kecil itu justru yang paling jelas terekam karena setelah itu, silet digunakan untuk menyiksa tawanan. Raungan dan rintihan ketika silet membeset bagian tubuh manusia itu terdengar mencekam untuk anak SD. Bukan film yang menyenangkan untuk ditonton para bocah.

Apakah film film G30S/PKI sukses menanamkan pandangan soal kekejaman PKI? Saya kira sukses karena terekam hingga saya berusia 30 tahun. Ini kalau kita bicara soal ingatan. Tetapi, apakah film itu sukses membuat saya dan mungkin banyak orang lalu membenci PKI? Tidak juga.

Terutama ketika saya dan mungkin teman seangkatan saya terpapar internet dan laju zaman itu sendiri. Kami mendapatkan beragam informasi, hasil penelitian, bersifat akademis, dari para antropolog, ahli sejarah, dan lain-lain. Paradigma kekejaman PKI itu lalu bergeser, berkembang menjadi pertanyaan. “Apakah Orde Baru memang sekejam itu? Menumbalkan ribuan orang demi pondasi sebuah rezim?” Sampai sekarang, kesimpulan pribadi saya masih tetap mengambang.

Mengapa mengambang? Karena berbagai hasil penelitian akademis itu belum sukses “menelanjangi dalang sebenarnya” di balik peristiwa 1965 itu. Maksud dari menelanjangi adalah menegaskan bahwa Si A bersalah, mendapatkan hukuman, dan yang tertuduh dan para korban tanpa peradilan sehat itu dipulihkan namanya.

Situasi ideal tersebut semakin sulit terwujud ketika kini, setiap September, gaung pemutaran film film G30S/PKI terus bergema. Kini, saya sih langsung paham bahwa hasrat mendorong masyarakat menonton film G30S/PKI itu tak lebih dari sebuah strategi politik. Apalagi menjelang tahun politik dan masa kampanye resmi sudah dimulai. “Tujuannya apa sih dengan mendorong rakyat kembali menonton film horor film G30S/PKI itu?”

Menggaungkan bahwa PKI akan bangkit dengan jutaan pendukungnya? Sejak sama SMA, lalu kuliah, jargon itu sudah sering saya dengar, sampai sekarang. Kalau sejak 15 tahun jargon itu benar adanya, Indonesia sudah berubah jadi negara komunis lagi, saya kira. Padahal, paham komunis itu sudah menemui senjakalanya sejak dulu kala. Paham itu sudah tak laku.

Stigma, bisa sangat berbahaya, terutama di Indonesia ini. Cap PKI, adalah senjata yang seksi untuk terus digunakan demi kepentingan politik. Masalahnya, ketika cap itu kembali diviralkan lewat film film G30S/PKI, bagi kami beberapa generasi 1990an, ingatan yang terpanggil hanya soal kengerian saja. Kengerin, horor kosong, yang kini kami tahu penuh manipulasi.

Jadi, untuk apa sih terus-menerus menggaungkan bahayanya PKI lewat film film G30S/PKI? Lebih baik membahas soal global warming atau masalah ledakan populasi yang mengancam bumi. Kok saya merasa itu lebih berfaedah.

Iklan

Bagi generasi penyembah Orde Baru yang masih memburu kekuasaan, jangan seret kami, yang sudah melek informasi, ke dalam perang ideologi usang itu. Silakan berkontes di panggung politik. Toh kami ini tahu maksud di balik kerasnya gaung nonton bareng film G30S/PKI tiap September.

Kengerian hanya melahirkan kebencian. Bahkan ketika horor itu ditimpakan kepada orang-orang bersalah. Manusia punya batas welas asih. Kalau itu ditabrak, meski merasa benar, Anda justru mempermalukan diri sendiri.

Terakhir diperbarui pada 29 September 2018 oleh

Tags: film g30s pkifilm hororfilm horor indonesianobar film g30s/pkinonton bareng film pkiOrde Barupemberontakan pkipenumpasan pkiPilpres 2019PKIseptember
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Ini Bukan Perkara Sunni vs Syiah, PKI Belapati dengan Iran karena Senasib sebagai Negeri Anti-imperialisme Amerika MOJOK.CO
Esai

Ini Bukan Perkara Sunni vs Syiah, PKI Belapati dengan Iran karena Senasib sebagai Negeri Anti-imperialisme Amerika

11 Maret 2026
Boven Digoel: Eksperimen Kolonial yang Menghancurkan Para Buangan
Video

Boven Digoel: Eksperimen Kolonial yang Menghancurkan Para Buangan

15 November 2025
Suara Marsinah dari Dalam Kubur: 'Lucu! Aku Disandingkan dengan Pemimpin Rezim yang Membunuhku'.MOJOK.CO
Ragam

Suara Marsinah dari Dalam Kubur: ‘Lucu! Aku Disandingkan dengan Pemimpin Rezim yang Membunuhku’

10 November 2025
Alasan Soeharto tak layak dapat gelar pahlawan, referensi dari buku Mereka Hilang Tak Kembali. MOJOK.CO
Aktual

Buku “Mereka Hilang Tak Kembali”, Menyegarkan Ingatan bahwa Soeharto Tak Pantas Dapat Gelar Pahlawan, tapi Harus Diadili

1 November 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mio M3: Motor Yamaha Paling Menderita dan Dianggap Murahan MOJOK.CO

10 Tahun yang Indah Bersama Mio M3: Motor Yamaha yang Dianggap Murahan, Diremehkan Orang, dan Katanya Bikin Orang Menyesal

7 April 2026
Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran” MOJOK.CO

Tiga Kali Gagal Seleksi CPNS, Pas Sudah Diterima Jadi ASN Malah Tersiksa karena Makan “Gaji Buta”

7 April 2026
Ikuti paksaan orang tua kuliah jurusan paling dicari (Teknik Sipil) di sebuah PTN Semarang biar jadi PNS. Lulus malah jadi sopir hingga bikin ibu kecewa MOJOK.CO

Kuliah di Jurusan Paling Dicari di PTN, Setelah Lulus bikin Ortu Kecewa karena Kerja Tak Sesuai Harapan

7 April 2026
Kuliah soshum di PTN merasa gagal karena tak jadi wong untuk orang tua

Lulusan Soshum Merasa Gagal Jadi “Orang”, Kuliah di PTN Terbaik tapi Belum Bisa Penuhi Ekspektasi Orang Tua

6 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Mahasiswa muak dengan KKN di desa. Mending magang saja MOJOK.CO

Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu untuk Impact Tak Sejelas kalau Magang

8 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.