MOJOK.COSebuah piala dengan judul: “Piala Konsisten Untuk Tidak Konsisten: Sebuah Baby Step dari PSI Menjadi Sekumpulan Politikus Indonesia Kayak Biasanya”.

Halo, PSI, selamat ya. Sebagai bagian dari media yang makin bahagia kalau terjadi keributan di dunia politik Indonesia, saya mengucapkan selamat dengan sangat tulus. Sekali lagi, PSI, selamat ya. Akhirnya, lho….

Tolong ya, PSI, ingat selalu pepatah yang lahir dari tengah Gurun Gobi. Bunyinya: “Mempertahankan itu lebih sulit ketimbang mencapai”. Jadi, tolong, pertahankan level konsisten untuk tidak konsisten kalian. Jangan sampai, usaha keras lewat branding anak muda, progresif, sekaligus mencla-mencle itu lalu hilang dalam sekejap.

Sejak partai ini lahir pada 16 November 2014 yang lalu, saya sudah optimis kalau PSI bakal sama saja. Tunggu dulu. Istilah “sama saja” itu bukan lantas negatif. Sudah menjadi seperti budaya di Indonesia (atau bahkan dunia) kalau politikus itu ya harus mencla-mencle. Jangan berani-berani kamu nggak “main aman” dengan konsisten untuk terus konsisten.

Lagian, politikus dan partai yang bisa konsisten untuk terus konsisten itu cuma mitos. Cuma cerita horor yang diceritakan para orang tua kepada anak-anak nakal yang nggak mau bobok siang. Atau cerita pemacu nafsu makan anak-anak yang bandel betul kalau suruh maka sayur.

Usaha keras PSI untuk nguri-uri atau mempertahankan kekayaan budaya harus diapresiasi. Sulit lho menghadapi hujatan netizen yang memberikan label penjilat penguasa kepada wajah PSI. Bro, Sis PSI, yang sabar ya. Tahu apa sih netizen itu? Mereka nggak tahu betapa sulitnya memasang wajah palsu di depan konstituen dan penguasa sekaligus. Wajah harus lebih lentur ketimbang seniman pantomim. Make up harus tebal dan harganya sangat mahal.

Oleh sebab itu, ketika partai anak muda ini mendukung Gibran Rakabuming Raka maju menjadi calon Wali Kota Surakarta 2020 ya harus diberi selamat. Jangan malah dihujat dan kredibilitas jiwanya dipertanyakan ketika mendukung politik dinasti.

Baca juga:  Di Klojen, Kami Menyebut Sekolah 8 Jam itu "Kakean Cangkem"

Dulu sangat menentang, sekarang mendukung politik dinasti. Memang “anak baik”. Cep cep cep….

Saya kutip dari Tirto, Raja Juli Antoni pernah bilang begini:

“Inti dari demokrasi itu, kan, memberikan ruang seluas-luasnya kepada masyarakat dari latar belakang apa pun, apakah dia dari kalangan elite atau rakyat biasa supaya bisa berpartisipasi baik sebagai pemilih maupun orang yang dipilih. Dengan lahirnya politik dinasti itu justru mengingkari makna demokrasi itu sendiri.”

“Saya kira salah satu gerakan yang harus didorong sekuat mungkin oleh LSM dan parpol mulai melihat manusia sebagai manusia. Jadi manusia bukan dilihat dari hubungan biologis atau genetisnya. Jangan biarkan politik dinasti membunuh demokrasi.”

Sekarang, Bro Toni bilang gini:

“Jadi PSI pasti akan mendukung (Gibran atau Kaesang]), di Solo kami punya kursi. Apabila nanti pada saatnya melalui mekanisme, kalau salah seorang itu maju, PSI pasti akan dukung.”

Ya itu dia. Level konsisten untuk tidak konsisten. PSI membuktikan levelnya ke-imba-annya sebagai sebuah partai politik yang nempel mesra dengan penguasa. Nah, sampai di sini saya mau ngingetin aja sama Bro dan Sis. Ingat, mempertahankan itu lebih sulit ketimbang mencapai.

Gini Bro, Sis. Nanti, ketika maju sebagai calon Wali Kota Surakarta, bisa kejadian Gibran dan PDI Perjuangan rangkulan dengan PKS. Ini cuma rasan-rasan saya saja, Bro, Sis. Belum kejadian, kok. Tapi Bro dan Sis tahu kan kalau PKS itu pemegang suara terbanyak kedua di Solo setelah PDI Perjuangan? Ya pastinya tahu. Sebagai anak milenial yang sangat terdidik jiwa dan hatinya pasti sangat tahu.

Dulu, ketika begitu militan di panggung pilpres, PSI sempat menegaskan kalau haram hukumnya bekerja sama bareng PKS. Dulu, Bro Toni yang negesin kalau haram hukumnya kerja bareng PKS. Sebegitu bencinya, ya?

“Sebagai partai nasionalis ideologis, PSI tidak akan berkoalisi dengan PKS di seluruh pilkada gubernur, bupati, dan wali kota di seluruh Indonesia. Haram bagi PSI berkoalisi dengan PKS. PSI dan PKS ibarat air dan minyak, yang tidak bisa disatukan. PSI percaya dengan demokrasi, tidak boleh bekerja sama dengan PKS, yang hanya menjadikan demokrasi sebagai alat untuk mendirikan pemerintahan Islam versi mereka.” Kata-kata Bro Toni ini dikutip Detik. Jadi saya nggak mengarang bebas, ya.

Baca juga:  Mengoreksi Gerakan Golput dengan Kaca Mata Kaidah Fikih

Ini lho Bro Toni. Nanti, kalau memang terpaksa harus bekerja sama dengan PKS, jangan setengah-setengah untuk tidak konsisten. Bilang aja dulu lagi mabuk kecubung atau lagi demam tinggi jadinya sampai mengigau. Yakin 100 persen saya netizen pasti tertawa. Menertawakan level konsisten untuk tidak konsisten PSI.

Tapi kan mereka menertawakan kamu, Bro. Bukan lagi menertawakan kebijakan PSI. Alihkan perhatian mereka dengan kelucuan-kelucuan. Bisa dengan bikin THREAD di Twitter atau bikin guyonan kayak Bro Uki. Ini teknik menghindar level imba. Netizen itu gampang lupa, kok.

Nah, terakhir, untuk merayakan milestone PSI, saya menyarankan kita buka patungan online. Kita sama-sama bikin piala untuk level konsisten untuk tidak konsisten. Seperti yang dulu PSI pernah bikin piala untuk Prabowo, Sandiaga Uno, dan Andi Arief.

Masih ingat dengan Piala kebohongan ter-lebay awal tahun 2019, piala kebohongan ter-HQQ awal tahun 2019, dan piala kebohongan ter-halu awal tahun 2019?

“Penghargaan ini diberikan karena baru awal 2019 sudah terjadi tsunami kebohongan yang dilakukan oleh mereka bertiga,” kata Sekjen PSI Raja Juli Antoni dalam jumpa pers di Kantor DPP PSI di Jakarta pada Jumat, 4 januari 2019 lalu.

Saya juga urun judul untuk penghargaan itu: “Piala Konsisten Untuk Tidak Konsisten: Sebuah Baby Step dari PSI Menjadi Sekumpulan Politikus Indonesia Kayak Biasanya”. Piala ini bisa dipigura atau ditanam di sebuah patung untuk ditaruh di trotoar depan kantor PSI. Selamat ya Bro, Sis. I love you all.

BACA JUGA PSI Kirimkan Piala Kebohongan Untuk Prabowo, Sandiaga, dan Andi Arief atau tulisan Yamadipati Seno lainnya.