MOJOK.CODua mahasiswa mengajukan uji materi setelah kena tilang gara-gara nggak menyalakan lampu motor. Lha kok malah nama Pak Jokowi diseret-seret, lho.

Semua rakyat sama di mata hukum. Tidak terkecuali Pak Jokowi. Tapi, kalau Pak Jokowi nggak nyalain lampu ketika naik motor, kok, nggak kena tilang? Ya iyalah, lha wong cuma touring 30 kilometer aja, kok.

Jadi, ada dua mahasiswa Universitas Kristen Indonesia (UKI) yang mengajukan permohonan uji materi ke Mahkamah Konstitusi. Adalah Eliadi Hulu dan Ruben Saputra yang melakukannya. Keduanya mengajukan permohonan uji materi Pasal 107 Ayat 2 dan Pasal 293 Ayat 2 tentang Undang-undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Eliadi dan Ruben menganggap aturan wajib menyalakan lampu motor di siang hari tidak berjalan adil. Ceritanya, pada Juli 2019, Eliadi kena tilang karena tidak menyalakan lampu motornya pada pukul 09.00 WIB.

Menurut Eliadi, pukul 09.00 itu masih pagi, belum siang. “Artinya petugas kepolisian tidak berwenang untuk melakukan penilangan terhadap Pemohon 1 karena menurut kebiasaan masyarakat Indonesia waktu tersebut masih dikategorikan sebagai “pagi” namun petugas Polisi Lalu Lintas tersebut tetap melakukan penilangan,” begitu bunyi gugatan Eliadi.

Selain mempermasalahkan soal “pagi” dan “siang”, pemohon juga menggunakan pembanding ketika mengajukan gugatan. Keduanya membandingkan aktivitas Presiden Jokowi pada 4 November 2018 pada pukul 06.20. Saat itu, Pak Jokowi tengah mengendarai motor di Tangerang dalam kondisi lampunya tidak dinyalakan.

“Namun tidak tidak dilakukan tindak penindakan langsung (tilang) oleh Pihak Kepolisian. Hal ini telah melanggar asas kesamaan di mata hukum (Equality Before the Law) yang terdapat dalam Pasal UU 27 UUD 1945,” begitu bunyi surat permohonan uji materi Eliadi dan Ruben.

Baca juga:  Formasi Para Menteri Jokowi jika Disusun Jadi Tim Sepak Bola

Hmm…kayaknya Eliadi dan Ruben belum pernah nonton vlog kunjungan kerja Pak Jokowi, nih. Di beberapa kesempatan, Pak Jokowi memang memillih naik motor alih-alih naik mobil dinas. Dan ya, memang benar, Pak Jokowi tidak menyalakan lampu motornya. Misalnya ketika beliau meninjau program padat karya di Sukabumi pada 8 April 2018 naik Royal Enfield Bullet 350 cc bergaya Chopperland kesayangannya.

Kenapa Pak Jokowi nggak menyalakan lampu motor? Ya ngapain dinyalakan, lha wong beliau cuma konvoi, 30 kilometer saja, dan dikawal Paspampres. Salah satu tujuan menyalakan lampu motor di siang hari kan demi keamanan. Biar nggak tabrakan. Lha kalau dikawal Paspampres, jalan raya yang satu arah bisa jadi dua, dan kiri dan kanan ada Paspampres, gimana ceritanya Pak Jokowi bakal tabrakan sama, misalnya, emak-emak naik metik sein kiri belok kanan?

Pak Jokowi juga nggak mungkin pergi ke pasar naik Royal Enfield. Kalau naik motor metik, sarungan, pakai kaos singlet, dan gak pakai helm itu baru mungkin. Kayak bapak-bapak komplek terpaksa keluar rumah buat beli rokok di warung karena anaknya ngeyel banget kalau disuruh-suruh.

Lagian, buat sampai titik start konvoi, nggak mungkin Pak Jokowi bawa motornya sendiri. Kemungkinan, motorya dinaikkan ke mobil pickup. Nggak mungkin juga, kan, Pak Jokowi pulang dari Pelabuhan Ratu sampai Istana naik Royal Enfield. Malah boyoken, repot.

Baca juga:  Tanpa Disadari, Kita Memasuki Alam Sinetron Melalui Politik

Lagian yang mempertanyakan kenapa Pak Jokowi kok nggak kena tilang itu aneh. Kayak nggak sadar aja kapan hukum Indonesia tajam ke atas dan bawah. Yang ada tumpul ke semua. Yang penting gajian lancar, Lur. Lha wong habis OTT KPK ke penggerebekan bisa 4 hari lebih, kok soal tilang aja kamu heran. Mbok sadar. NKRI harga mati, Bro!

Tapi memang, yang dimongin Pak Ngabalin itu nggak pas. Pak Ngabalin nggak usah pakai Pasal 134 dan 135 untuk menjelaskan soal privilege pejabat di UU LLAJ. Pak Ngabalin malah kelihatan salah lha wong isinya bukan privilege nggak menyalakan lampu motor di siang hari, tapi soal keistimewaan untuk menerobos lampu lalu lintas.

Rakyat udah pintar, Pak. Bisa ngecek pakai Google soal isi pasal-pasal kayak gitu. Lebih baik kayak penjelasan saya di atas, Pak. Tinggal bilang namanya hukum nggak mungkin tajam ke atas dan bawah. Nah kalau yang seperti itu rakyat malah belum paham, Pak. Apalagi, kan, ini rezim Orang Baik, pasti dimaklumi.

Gitu ya, Pembaca. Pak Jokowi nggak nyalain lampu sepeda motor nggak perlu dipermasalahkan. Nanti kalau kamu ngotot malah kena tekel buzzer-buzzer Istana, lho. Hii…ngeri.

BACA JUGA Halo Buzzer Jokowi, Sori Ya, Aksi ‘Gejayan Memanggil’ Tak Sesuai Harapan Kalian atau tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.