Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Arti Sindiran dari Video Wayang Jokowi

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
22 Juli 2019
A A
Sindiran wayang Jokowi MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Pak Jokowi mengunggah sebuah video yang sangat nJawani di akun Twitter pribadinya. Apa makna video itu? Mojok Institute berhasil mengupasnya.

Orang Jawa punya tutup kepala bernama blangkon. Selain sebagai tutup kepala, blangkon juga punya makna filosofis. Blangkon Ngayogyakarta punya mondholan atau “benjolan” kecil seperti onde-onde di belakang kepala. Mondholan menggambarkan orang Jawa yang pandai menyimpan rahasia dan aib.

Pandai menyembunyikan perasaan itu juga berpengaruh kepada cara penerimaan orang Jawa akan sebuah masalah. Ketika sedih sampai tersinggung pun, mereka bisa tetap tersenyum, meskipun di dalam hatinya misuh-misuh, “Sempak!”

Ketika menasihati atau menegur, orang Jawa pun adem-ayem, menyampaikannya secara santun. Sering terjadi mereka menggunakan perumpamaan, disertai kalimat-kalimat bijak. Misalnya seperti yang dilakukan oleh Jokowi ketika mengunggah sebuah video di kanal Twitter pribadinya.

Zaman sudah semakin maju, tapi kita tetap mengingat pesan-pesan bijak dan agung para leluhur.

Selamat pagi. Selamat berakhir pekan. pic.twitter.com/0Yw5sPX5e5

— Joko Widodo (@jokowi) July 20, 2019

Video pendek itu menampilkan sosok Gatotkaca yang sedang menemui rakyat kecil sambil membawa beberapa untai padi. Tim kreatif Pak Jokowi menambahkan kalimat bijak berbunyi, “Lamun sira sekti, aja mateni” disertai aksara Jawa-nya. Diiringi gending Jawa, mantan Walikota Solo itu menarasikan kalimat bijak tersebut dengan suaranya yang medhok nJawani itu.

Lantas, apa sih arti dari video wayang yang diunggah Pak Jokowi itu?

1. Jangan sombat-sambat, tapi kuat seperti Gatotkaca!

Tokoh Gatotkaca di dunia pewayangan digambarkan dengan sebuah kalimat: “Otot kawat, tulang besi.” Tentunya kalimat itu nggak cuma soal fisik saja. Gatotkaca juga sosok yang mentalnya tangguh, nggak nangisan, dan nggak gampang sambat soal hal-hal remeh. Apalagi jadi cah senja di tepi Kawah Candradimuka yang selfie sambil membelakangi matahari tenggelam.

Gatotkaca kalau sedih nggak gampang ngetwit: “Memories can be painful. To forget may be blessing!” padahal cuma perkara chat centang dua warna biru tapi nggak dibales. Apalagi sampai bikin tagar pakai tamplate seperti ini: # (nama hari) sambat. Haesh, ra mashoook.

Meramaikan tagar kayak gitu itu buat apa? Biar kamu mendapatkan pengakuan jadi orang paling sedih sedunia? Kebanyakan sambat, bikin nggak giat. Makanya, Pak Jokowi nggak mau tuh, anak-anak milenial bergaji UMR gaya hidup CEO malah kebanyakan sambat. Bekerja seperti Gatotkaca dan nggak lupa dengan sesama.

2. Pak Jokowi mau bilang kalau jadi cah senja itu ra mashook!

Coba perhatikan video pendek yang diunggah oleh Pak Jokowi. Sebagai gambar latar, dipilih matahari yang sedang menyingsing dari balik gunung. Itulah matahari terbit. Pak Jokowi ingin mengingatkan kita akan ingatan masa kecil ketika suka menggambar pemandangan dengan matahari mengintip manja dari sela-sela dua gunung, lalu ada jalan berkelok-kelok dari gunung, ada sawah pak tani dengan gambar padi seperti tanda centang, awan-awan di langit yang ditemani burung nggak jelas jenisnya itu.

Itulah gambaran pagi, sangat kompatibel dengan gambar pak tani di video pendek Pak Jokowi. Sejak pagi, bahkan sebelum matahari terbangun dari tidurnya, pak tani sudah bekerja dan Pak Gatotkaca sudah melakukan kunjungan ke sawah-sawah untuk membagikan benih padi. Ini bentuk teguran kalau kita harus semangat kerja, sambil nggak lupa sedekah.

Bangun pagi, bekerja keras, dan ingat anjuran agama. Bukan malah bangun siang, bikin kopi, dan menantikan senja untuk menulis secarik puisi yang nggak estetis blas. Ujung-ujungnya sambat. Halah, mending kamu ngarit rumput saja ketimbang sombat-sambat. Malah lebih berguna untuk alam raya dan sapi pak tani.

3. Sindiran Pak Jokowi untuk orang Jawa masa kini.

Ngapain, sih, Pak Jokowi pakai wayang di videonya? Pak Jokowi itu sedang menyindir orang Jawa masa kini. Yang kini terjadi adalah, banyak orang Jawa yang malah nggak bisa membaca dan menulis aksara Jawa. Bahkan banyak yang lebih fasih grammar Bahasa Inggris dan Mandarin ketimbang Bahasa Jawa ngoko alus.

Iklan

Terjadi juga banyak orang Jawa masa kini yang sulit menyebutkan siapa saja yang tergabung dalam rombongan Punakawan. Siapa itu Gareng? Siapa Petruk? Bagong? Semar? Orang Jawa masa kini lebih pandai membedakan mana Soong Joong Ki dengan Park-Hae Jin. Padahal, aktor dan aktris Korea Selatan itu mirip-mirip wajahnya.

Berapa jumlah orang Jawa masa kini yang betah nonton drama wayang dari pukul 21.00 hingga 04.00 pagi? Yang pasti jumlahnya kalah dari orang Jawa masa kini yang lebih betah menekuni drama Korea berjilid-jilid kayak demo di Monas. Maraton drakor dari pukul 19.00 sampai subuh cuma masalah sepele. Masalah lebih besar kalau ketinggalan satu episode dan nggak bisa masuk ke dalam obrolan circle-mu yang hooligans drakor itu.

Pak Jokowi ingin mengingatkan kita semua. Menjaga budaya itu tugas seumur hidup. Suka nonton drakor ya nggak masalah, tapi setidaknya kita mengenal budaya sendiri. Begitu ya, jangan lupa sama budaya sendiri. Aigoo…

Terakhir diperbarui pada 22 Juli 2019 oleh

Tags: Drakorjokowiorang jawasambatWayang
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Menjadi Dosen itu Ibarat Aktor Drakor: Dari Tri Dharma jadi Triduka, Saking Diminta Bisa Segalanya MOJOK.CO
Esai

Menjadi Dosen itu Ibarat Aktor Drakor: Dari Tri Dharma jadi Triduka, Saking Diminta Bisa Segalanya

27 Maret 2026
wayang, plaza ambarrukmo.MOJOK.CO
Seni

Di Balik Pagelaran Wayang 20 Jam Nonstop: Menaklukkan Angin, Hujan, dan 40 Kepala Manusia di Atap Mal

8 Maret 2026
Tanpa Cina dan Pecel Lele, Mental Orang Jawa Pasti Ambruk (Wikimedia Commons)
Pojokan

Persahabatan Aneh dengan Anak Cina Membawa Saya ke Pecel Lele di Bawah Jembatan Janti yang Menjadi “Pelarian” bagi Orang Jawa

16 Februari 2026
Dracin bukan sekadar kisah cinta lebay. MOJOK.CO
Ragam

Kisah Cinta “Menye-menye” ala Dracin bikin Hidup Perempuan Dewasa Lebih Berbunga dari Luka Masa Lalu yang Menyakitkan

6 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mahasiswa muak dengan KKN di desa. Mending magang saja MOJOK.CO

Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu dan Tak Dibutuhkan Warga

9 April 2026
kuliah, kerja, sukses.MOJOK.CO

Terpaksa Kuliah di Jurusan yang Tak Diinginkan karena Tuntutan Beasiswa, 4 Tahun Penuh Derita tapi Mendapatkan Hikmah Setelah Lulus

7 April 2026
Warung nasi padang jual rendang khas Minang di Jogja

Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis

10 April 2026
Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif MOJOK.CO

Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif

9 April 2026
Anak PNS kuliah di PTN top seperti UGM masih menderita karena UKT nggak masuk akal

Derita Jadi Anak PNS: Baru Bahagia Diterima PTN Top, Malah “Disiksa” Beban UKT Tertinggi Selama Kuliah padahal Total Penghasilan Orang Tua Tak Seberapa

4 April 2026
Pekerja Jogja kaget pindah kerja di Purwokerto demi alasan slow living. Tapi kaget dengan karakter orang Banyumas MOJOK.CO

Pekerja Jogja Pindah Kerja ke Purwokerto Nyari Slow Living, Tapi Dibuat Kaget sama Karakter Orang Banyumas karena di Luar Ekspektasi

6 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.