Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Balbalan

Jika PSSI Menghukum Persib Begitu Berat, Arema dan Aremania Juga Harus Merasakannya

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
7 Oktober 2018
A A
artis pengurus sepakbola
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Melihat fakta lapangan, PSSI harus memberikan sanksi berat kepada Arema dan Aremania. Seperti beratnya sanksi kepada Persib Bandung tempo hari. Apa alasannya?

Alhamdulilah, puji Tuhan, tidak ada korban jiwa di laga Arema vs Persebaya ketika menyaksikan pertandingan ini lewat layar kaca. Namun, sayang sekali, kejadian-kejadian yang tidak ditayangkan televisi itu membuat rasa bungah berubah nestapa dalam sekejap. Kejadian-kejadian yang membuat angan perdamaian Bonek dan Aremania justru berjalan mundur.

Lewat Twitter, kamu bisa mencari kolase foto ketika Aremania merangsek ke dalam lapangan. Mereka menyiram dan memberi pupuk untuk rumput? Ya tentu tidak, my love. Beberapa suporter Arema tersebut melakukan intimidasi, bahkan mengajak gelut salah satu pemain Persebaya Surabaya.

Kira-kira, bagaimana perasaan Ratu Tisha, Sekjen PSSI, menyaksikan adegan ini ya? Komen di bawah kalau kamu tahu.

Sebetulnya, kekhawatiran akan terjadi gesekan di laga Arema vs Persebaya sudah terasa sejak beberapa hari yang lalu. Sejak laga amal antara Arema FC vs Madura FC. Laga amal yang seharusnya berjalan sejuk, justru diwarnai nyanyian-nyanyian kekerasan “Bonek J**cuk, di***uh saja!”

Ketika pihak panpel sangat percaya diri mengundang Bonek datang ke Stadion Kanjuruhan, pihak Aremania menolak dengan keras. Niat rekonsiliasi yang dimulai dari duduk bareng di stadion ditolak mentah-mentah. Aura dendam, dan niat untuk melukai suporter lawan itu masih terasa sangat kuat.

Yuli Sumpil, dirigen Aremania, menolak kedatangan Bonek dengan alasan menghormati nota damai antar-suporter. Oleh sebab itu, tidak ada Bonek yang menjadi sasaran, suporter Arema melakukan intimidasi kepada pemain-pemain Persebaya. Situsweb emosijiwaku.com menyebutnya sebagai “Invasi Lapangan ala Aremania”. Kamu bisa melihat kumpulan foto invasi Aremania di sini. Halo, Ratu Tisha, sehat? Diem-diem bae…

Beberapa kejadian yang perlu direkam dan dijadikan bahan Komisi Disiplin, antara lain:

1. Ada sebuah video yang beredar di Twitter, yang menayangkan seorang Aremania masuk ke lapangan dan membanting uang. Saat itu jeda babak pertama, dua pemain Persebaya, Roberto Pugliara dan Alfonsius Kelvan sedang melakukan pemanasan. Tiba-tiba, beberapa suporter Arema FC masuk ke lapangan dan melakukan intimidasi.

Ketika Kelvan berusaha mengingatkan, ia justru ditantang gelut oleh seorang Aremania. Dipikirnya ini bukan pertandingan balbalan, melainkan pra-match UFC di mana dua petarung ketemu dan biasanya saling tantang.

@MafiaWasit @HoofdbureauID @shizy_Lia @SuriyadiAhmad @ainurohman @niskleeeng @Made_Dav @ChandraSapoetRa @TukangKomporin @oryza_wirawan @suhadah234 @Yogie_sagrath @sulaimaneffendi @bonekcasuals @moehammadeffye1 @e100ss @haristantra Koyok ngene iki? pic.twitter.com/7xTgPlZpBU

— S Sutrisno || AREMALENG (@Sutris_isback90) October 6, 2018

2. Ketika laga berakhir, Aremania masuk ke lapangan. Ia merobek sebuah bendera dengan lambang Persebaya di dekat pemain-pemain Persebaya. Kalau bukan intimidasi, lalu namanya apa? Demo? Enggak sekalian bakar ban?

3. Nyanyian kekerasan yang masih sering dikumandangkan di tribun Arema. Sebagai, konon, suporter yang menyandang predikat terbaik, nyanyian kekerasan sangat tidak mencerminkan status itu. Tahukah kamu, nyanyian kekerasan itu akan direkam oleh suporter muda di alam bawah sadar mereka dan akan meledak ketika bertemu suporter lawan? Dari sinilah, kekerasan itu dipelihara dan diwariskan.

Ada yang berargumen bahwa tidak ada korban jiwa dari aksi negatif Aremania jadi biasa saja menanggapinya. Saya rasa ini bukan manusia yang berkomentar. Mengapa?

Iklan

Aksi intimidasi, memprovokasi, menyerang secara verbal dan gesture adalah awal kekerasan suporter yang terjadi. Ranahnya ada banyak. Media sosial menjadi babagan liar ketika provokasi dan intimidasi tidak punya batas. Banyak tawuran warga, anak sekolah, hingga suporter yang terjadi karena aksi gagah-gagahan di media sosial.

Ranah yang lebih memprihatinkan tentu saja ketika pertandingan sepak bola tengah berjalan. Invasi suporter sudah pada tahap yang mengkhawatirkan. Memang, tidak ada Bonek “resmi” yang datang ke Stadion Kanjuruhan, sehingga pemain Persebaya yang menjadi korban. Aksi ini tentu saja ditonton oleh ribuan pasang mata Bonek di Indonesia. Dengan begini, aksi intimidasi berbuah menjadi dendam di dada Bonek.

Kalau dendam itu sudah semakin membara, apalagi melihat pemain-pemainnya disakiti, siapa yang bisa menjamin aksi intimidasi dan provokasi tidak menelan korban jiwa di masa depan? Aksi preventif justru sangat penting, bukan lalu menunggu kejadian ada yang menjadi tumbal nyawa lalu kamu bilang, “Wah, ini sudah gawat.”

Kondisi suporter sepak bola Indonesia sudah gawat, bahkan ketika Arema tidak bertemu dengan Persebaya. Ketika ada dua elite kubu suporter yang berseteru hendak membukan jalan perdamaian, akar rumput berteriak dan tidak terima. Dendam dan gengsi daerah menjadi alasan.

Model top down, seperti yang disampaikan Fajar Junaedi, dosen dan peneliti Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, tidak ada gunanya ketika para elite suporter masih mengizinkan nyanyian kekerasan dilagukan di tribun. Tidak ada niat yang baik di sini dan Aremania, suporter terbaik di Indonesia, yang justru memberikan contoh.

Ketika “belum ada korban”, inilah momen yang pas untuk PSSI. Jangan sampai menunggu ada korban sebelum memberikan sanksi yang berat. Intimidasi dan provokasi, yang berbuah benturan berbahaya di masa depan, harus diredam sedini mungkin. Sebagai “hakim”, PSSI perlu memberikan sanksi yang berat kepada Arema dan Aremania.

Kenapa berat? Karena aksi intimidasi ini seperti “tabungan korban jiwa”, seperti yang sudah saya singgung beberapa kali di atas. Kebetulan, ada Ratu Tisha, Gusti Randa (anggota Tim Pencari Fakta Komdis PSSI), dan Iwan Budianto (Kepala Staf Ketua Umum PSSI sekaligus CEO Arema) di atas tribun.

Kehadiran ketiga orang ini justru momen yang menarik, terutama Iwan Budianto. Ketika hukuman dari PSSI untuk Arema hanya biasa saja, kita patut curiga soal “lingkaran setan” yang pernah ditulis tirto.id.

Hukuman apa yang layak diterima Arema dan Aremania? Intimidasi dan provokasi yang menyimpan risiko merusak di masa depan sudah sama seperti “pembunuhan yang direncanakan”. Sepatutnya, sanksi berat yang dirasakan Persib Bandung, juga dirasakan oleh Singo Edan dan suporternya.

Supaya tidak lagi “edan” di masa depan dan sadar bahwa bersaudara itu sungguh enak. PSSI, kamu punya nyali?

Terakhir diperbarui pada 7 Oktober 2018 oleh

Tags: AremaaremaniabonekLiga 1 IndonesiaPSSI
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Kereta api ekonomi (KA) Ambarawa Ekspres menjadi saksi "kegilaan" Bonek di rute Grobogan - Stasiun Pasarturi demi Persebaya Surabaya di Stadion GBT MOJOK.CO
Urban

KA Ambarawa Ekspres Andalan Bonek Tempuh “Jalan Kegilaan” di Rute Grobogan – Pasarturi, Demi Ziarah ke Rumah Kedua

6 Maret 2026
futsal uny.MOJOK.CO
Sosok

Aulia, Clutch Player UNY dari Bukit Pinus yang Tak Butuh Sorotan Untuk Bersinar

13 November 2025
Ketum PSSI Erick Thohir dan Gubernur Jateng Ahmad Luthfi bahas soal Liga 3 dan Liga 4 di Jawa Tengah MOJOK.CO
Kilas

Liga 3 dan 4 bakal Bergulir di Jawa Tengah, Bina Bakat-bakat Muda dari Desa…

8 Agustus 2025
Malang Semakin Menyebalkan, Rindu Era Terbaik Bersama Arema MOJOK.CO
Esai

Kini, Malang Berubah Menjadi Kota yang Asing dan Bikin Sebal, Bikin Saya Rindu Era Terbaik ketika Noh Alam Shah Masih Berseragam Arema

4 Agustus 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Nasib selalu kalah kalau adu pencapaian untuk kejar standar sukses keluarga besar. Orientasinya karier mentereng dan gaji besar, usaha dan kerja mati-matian tidak dihargai MOJOK.CO

Nasib Selalu Kalah kalau Adu Pencapaian: Malu Gini-gini Aja, Sialnya Punya Keluarga Bajingan yang Tak Bakal Apresiasi Usaha

14 Maret 2026
Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali MOJOK.CO

Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali 

17 Maret 2026
Ambisi jadi PNS di usia 25 demi hidup sejahtera. Malah menderita karena perkara gadai SK MOJOK.CO

Jadi PNS Tak Bahagia Malah Menderita, Dipaksa Keluarga Gadai SK Demi Puaskan Tetangga dan Hal-hal Tak Guna

16 Maret 2026
mudik gratis Lebaran dari Pertamina. MOJOK.CO

Program Mudik Gratis Mengobati Rindu Para Perantau yang Merasa “Kalah” dengan Dompet, Kerja Bagai Kuda tapi Nggak Kaya-kaya

19 Maret 2026
Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar.MOJOK.CO

Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar

16 Maret 2026
Alasan Kita Perlu Bersama Andrie Yunus di Tengah Pejabat Korup. MOJOK.CO

ICW: Usut Tuntas Kekerasan “Brutal” terhadap Andrie Yunus, Indikator Bahaya untuk Pemberantasan Korupsi

14 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.