MOJOK.COPep Guardiola, pelatih Manchster City, mengakui secara terbuka kalau Liverpool kini menjadi semakin sulit dikalahkan. Lalu, apa yang selanjutnya harus dilakukan The Reds?

Kemenangan Liverpool atas Manchester City adalah performa terbaik mereka di tahun 2019 ini. Tentu saja ini penilaian pribadi saya. Terlepas dari penampilan solid mereka di final Liga Champions ketika mengalahkan Tottenham Hotspur, kemenangan atas Manchester City menegaskan beberapa hal penting.

Pertama, mereka punya cara untuk meladeni rival paling berat selama dua musim terakhir. Jurgen Klopp sudah berhasil membentuk sebuah tim yang tidak tenggelam ke dalam tempo lawan. Kini, The Reds punya sebuah kekuatan untuk menyeret lawan masuk ke dalam skenario mereka. Tidak lagi terbawa oleh perubahan arus pertandingan.

Kedua, skuat terbaik Liverpool bisa beradaptasi dengan berbagai jenis pertandingan. Salah satu suporter Liverpool di kantor MOJOK, Aditia Purnomo, menyebut kemenangan atas Aston Villa itu sangat menarik. Sebuah kemenangan yang bisa menggambarkan kalau The Reds sudah punya solusi ketika menghadapi lawan yang “parkir bus”, atau bertahan dengan garis pertahanan rendah dan menumpuk pemain di kotak penalti.

Juni 2019, saya pernah menulis kalau Jurgen Klopp berhasil membuat Liverpool menjadi “insan yang unggul”. Sebuah proses pendewasaan setelah melewati banyak cobaan. Salah satu unsur penting dalam proses itu adalah usaha Klopp menginjeksikan rasa percaya diri.

Manusia menguasai sebuah bidang, tapi tidak untuk bidang lain. Ia boleh andal untuk satu hal, tapi harus bisa membiarkan orang lain menuntunnya untuk hal lain. Tanpa kepercayaan diri yang besar, manusia akan minder ketika ia diberi arahan oleh orang yang lebih ahli. Padahal, dirinya tidak menguasai bidang yang dimaksud.

“Itulah wujud kepemimpinan. Kamu dikelilingi orang-orang pintar dengan pengetahuan yang lebih baik ketimbang dirimu. Kami tidak boleh bertingkah tahu semua hal dan kamu harus selalu siap untuk mengakui bahwa kamu tidak tahu akan sesuatu.”

Baca juga:  Mendukung Arsenal dengan Tangan Terkepal, Menggugat Stan Kroenke

Kesebelasan hidup dalam konteks kepemimpinan itu. Sebagai sebuah jaringan, para pemain menyokong pemain lain dengan kemampuannya. Masing-masing punya andil, punya peran, untuk menyusun sebuah tim menjadi satu kesatuan.

Sebuah tim yang solid membuat setiap pemain percaya kalau keberadaannya dirinya sangat penting. Kondisi mental yang juga membuat pemain percaya diri dengan kemampuan dirinya sendiri. Inilah yang membuat Liverpool semakin sulit dikalahkan. Sebuah kondisi yang juga diamini oleh Pep Guardiola.

“Mereka sangat kuat di situasi bola mati. Ketika kamu lebih bertahan di kotak penalti, mereka bisa membuka pertahananmu menggunakan umpan-umpan silang dari Alexander-Arnold dan Robertson,” kata Pep Guardiola setelah kekalahan itu.

Umpan silang pernah diremehkan ketika Guardiola datang dengan ide baru, juego de posicion, yang membuatnya menguasai Eropa bersama Barcelona. Umpan silang melambung sedikit tersingkir, digantikan umpan-umpan datar cepat. Namun di kaki Trent dan Andrew, umpan silang menjadi kekuatan terbesar Liverpool selain trio Mane, Salah, Firmino.

“Mereka menyerang tidak hanya dengan Mane, Salah, Firmino, tetapi juga Henderson yang naik dengan tempo yang tepat. Wijnaldum juga naik dan memenangi second ball. Hampir mustahil bertahan dari cara mereka menyerang. Ketika kamu bisa bertahan dari cara mereka menyerang, Liverpool punya empat bek yang luar biasa,” ungkap Pep.

“Ketika kamu menyerang, seperti yang kami coba lalukan, setiap kesalahan yang kamu lakukan akan dihukum oleh transisi. Menyerang transisi adalah kekuatan terbesar Jurgen Klopp, seperti yang sudah ia tunjukkan sepanjang kariernya. Lihat saja gol kedua mereka,” lanjut Pep.

Baca juga:  Kemarahan Xhaka dan Cara Emery Menumpuk Bangkai di Gudang Arsenal

“Kamu tidak selalu bisa menang di kehidupan ini. Hal yang sangat penting adalah bagaiman kamu menghadapi kesulitan yang muncul, ketika ditekan oleh tim terbaik saat ini, tim terbaik di dunia. Ini soal bagaimana kamu merespons kesulitan itu,” tutup Pep.

Kalimat-kalimat Pep di atas sudah menjadi kesimpulan kekuatan Liverpool di atas lapangan. Sebuah penjabaran akan kata “solid” yang saya sebut di atas. Apa yang perlu dilakukan Liverpool selanjutnya?

Titik paling utama adalah menjadi juara. Tidak ada artinya kamu membangun sebuah tim yang solid, tetapi tidak menghasilkan apapun. Sepak bola bukan panggung sirkus, di mana kamu hanya tinggal menghibur penonton semata. Sepak bola, bisa menjadi sosok yang kejam. Sosok yang hanya akan mencatat nama pemenang di dalam sengkarut sejarah sepak bola.

Lawan Liverpool hanya tinggal diri mereka sendiri. Sosok lawan yang justru paling sulit untuk ditaklukkan. Selama ini, hanya diri mereka sendiri yang menggagalkan angan juara. Kesalahan-kesalahan elementer, naif memandang sebuah pertandingan, dan kesombongan yang bisanya menjegal Liverpool.

Secara konkret, The Reds butuh tambahan pemain. Bek tengah, gelandang serang, dan bek kiri. Itulah tiga posisi yang setidaknya membutuhkan perhatian. Kompetisi itu sangat panjang dan pemain adalah manusia. Semangat saja tidak cukup. Mereka punya titik lelah yang perlu diperhatikan. Menjaga titik solid juga bisa dilakukan dengan membeli pelapis yang sepadan.

Tahapan selanjutnya dalam perjalanan Liverpool musim ini adalah tahapan yang sudah tidak mereka gapai selama berjuta-juta dekade. Sebuah tahapan yang nantinya akan menjadi penanda. Sebuah penanda zaman akan lahirnya “insan yang dominan”. Insan unggul bernama Liverpool.

BACA JUGA Liverpool Menjadi Manusia Unggul Bersama Jurgen Klopp atau tulisan YAMADIPATI SENO lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles