MOJOK.COArsenal harus mempertahankan Leno dan Emi Martinez. Namun, terkadang, perkara cinta saja tidak cukup untuk mencegah sebuah perpisahan kalau takdir sudah tersurat.

Konon, peran kiper adalah peran yang sunyi. Dia sering “sendirian”, baik di tengah pertandingan, maupun ketika berbicara soal persaingan tim utama. Tidak banyak klub punya dua kiper dengan kualitas sama. Menjelang musim baru, Arsenal perlu bersyukur punya Bernd Leno dan Emi Martinez.

Leno, bagi saya, adalah “malaikat tanpa sayap” di bawah mistar Arsenal. Di tengah kekacauan lini pertahanan yang dibuat Unai Emery, kiper asal Jerman itu menjadi “juru selamat”. Tanpa refleks kelas dunia dari Leno, tidak berlebihan kalau meyakini Arsenal seharusnya ada di jurang degradasi, alih-alih papan tengah.

Ketika Leno akhirnya tumbang karena cedera, kekhawatiran otomatis muncul. bagaimana nasib lini pertahanan Arsenal? Apakah Emi Martinez dan Matt Macey bisa menunjukkan komitmen yang sama di bawah mistar? Sorotan pasti mengarah kepada Emi. Sebagai kiper kedua, secara otomatis, Mikel Arteta harus memberinya kepercayaan.

Sudah 10 tahun Emi Martinez menjadi “kiper bayangan” di Arsenal. Dia selalu dikalahkan demi Petr Cech, lalu Leno. Lima kali kiper asal Argentina itu dipinjamkan. Namun, pada akhirnya, dia selalu menolak pindah secara permanen karena memandang Arsenal sebagai rumah yang memberinya kesempatan turun di gelanggang profesional.

Kesetiaannya menjadi narasi mengharukan ketika sukses menggantikan Leno. Banyak fans Arsenal tidak menyangka Emi Martinez ternyata sebagus ini. Perkembangannya baru terlihat setelah lama setia dengan bangku cadangan. Bisa dibilang, tanpa kecakapan Emi, The Gunners tidak mungkin juara Piala FA dan Community Shield.

Kini, setelah Emi Martinez berhasil menunjukkan perkembangan pesat, tidak ada alasan lagi bagi Mikel Arteta untuk tidak memberinya kepercayaan menjadi kiper utama. Namun, setelah Leno sembuh, apakah Arsenal berani “mengorbankan” dirinya menjadi kiper kedua? Leno, sang “juru selamat” tentu tidak layak mendapat status itu.

Dilema ini pelik bagi semua pelatih. Keberadaan dua kiper bagus menuntut pelatih untuk pandai membagi jatah menit bermain. Barcelona dan Luis Enrique pernah sukses melakukannya dengan Claudio Bravo dan Ter Stegen. Contoh yang gagal adalah Real Madrid, di mana Keylor Navas harus rela dijual setelah Thibaut Courtois masuk. Bagaimana dengan Arteta?

Baca juga:  Dunia Guendouzi, Ketika Arsenal Membentuk Ulang Tulang Punggung Mereka

Siapa yang layak jadi kiper utama? Leno atau Emi Martinez?

Setelah menyimak perdebatan ini semalaman suntuk, izinkan saya membuat kesimpulan sementara. Kesimpulannya adalah, Emi Martinez layak mendapat kesempatan di awal musim. Alasannya:

Pertama, Emi Martinez lebih cocok dengan cara Arsenal bermain di bawah Arteta. Bermain dari bawah (build from the back) membutuhkan kiper yang tidak hanya jago mengumpan, tetapi juga tahan dengan pressing lawan. Selama menjadi deputi Leno, Emi bisa menunjukkan kualitas ini. Gol Arsenal ke gawang Liverpool di Community Shield bisa jadi gambaran.

Atribut pressing resistance dari Emi dianggap lebih baik ketimbang Leno. Tanpa atribut ini, kiper akan terburu-buru untuk melepas bola sejauh mungkin. Risiko kedua, kiper menjadi mudah bikin blunder. Apalagi, di beberapa kesempatan, Leno terlihat agak canggung ketika ditekan oleh penyerang lawan.

Seleksi umpan Emi juga lebih variatif. Tolong dikoreksi kalau saya salah. Leno lebih sering mengirim bola lambung ke bek sayap. Sementara itu, Emi Martinez lebih berani melepas umpan vertikal datar ke gelandang. Umpan tidak sekadar umpan, tetapi umpan yang memudahkan kawan menerima dan menghindar dari tekanan lawan.

Kedua, aerial presence Emi Martinez lebih kuat ketimbang Leno. Selain memang lebih tinggi, Emi lebih jago meninju bola ke area aman. Sebetulnya, untuk mengurusi bola-bola atas, Leno tidak buruk amat. Namun, di beberapa kesempatan, mantan kiper Bayer Leverkusen itu gagal membuang bola ke area aman.

Dua poin di atas merupakan alasan Emi Martinez layak menjadi kiper utama Arsenal untuk sementara waktu. Namun, bukan berarti Leno tidak punya kelebihan. Berikut alasannya:

Pertama, Leno adalah world class shot stopper. Untuk mencapai level ini, seorang kiper tidak hanya butuh refleks yang prima. Seorang kiper juga butuh nyali dan kemampuan membaca pertandingan.

Ketika Emery masih melatih, per pertandingan, Arsenal bisa menderita lebih dari 10 tendangan ke gawang. Jika dianalisis lebih lanjut, kualitas tembakan ke gawang yang diderita Arsenal sangat tinggi. Maksudnya, peluang jadi golnya sangat tinggi. Tanpa kecakapan kiper, sekali lagi, The Gunners ada di jurang degradasi.

Kedua, mental yang sudah teruji. Tidak ada kiper yang sempurna di dunia ini. Leno pun tidak lepas dari blunder. Ingat, satu blunder kiper bisa menentukan pertandingan. Leno sendiri tidak hanya satu kali melakukan blunder yang berujung kekalahan Arsenal.

Baca juga:  Mendukung Arsenal dengan Tangan Terkepal, Menggugat Stan Kroenke

Nah, di sini, kualitas kiper kelas dunia diuji. Kiper berkelas harus bisa move on, melupakan blunder, dan mempertahankan konsistensinya. Begitu sering dia bisa bangkit dari kesalahan dan sekali lagi menjadi “juru selamat”. Emi Martinez belum pernah bermain di 30 pertandingan secara konsisten untuk memberi bukti. Untuk poin ini, Leno jauh lebih unggul.

Arsenal harus mempertahankan keduanya

Memang bukan urusan mudah untuk mempertahankan keduanya. Apalagi, saat ini, Arsenal butuh dana segar untuk membeli gelandang. Emi Martinez dibanderol 20 hingga 25 juta paun. Sementara itu, harga Leno, mungkin, ada di 40 juta paun. Namun, menjual salah satunya demi membeli gelandang, bagi saya, adalah kebijakan yang kurang tepat.

Selama menjadi fans Arsenal, saya belum pernah melihat ada dua kiper berkualitas sekaligus. Musim 1997/1998, ketika Arsene Wenger merengkuh double winner untuk kali pertama, kiper Arsenal adalah David Seaman dan Alex Manninger. Sementara itu, di musim legendaris, ada Jens Lehmann dan Graham Stack.

Apa yang kamu ingat dari Manninger? Kalau menyebut namanya, yang saya ingat hanya soal blunder. Bagaimana dengan Graham Stack? Saya yakin banyak dari pembaca yang tidak kenal padahal Stack adalah bagian skuat legendaris musim 2003/2004. Bahkan saya harus menengok Wikipedia untuk mencari tahu.

Singkat kata, selama ini, Arsenal belum pernah punya dua kiper yang sama-sama bisa dipercaya. Akan ada masanya ketika Leno atau Emi Martinez tidak bermain baik. Mungkin, datang juga waktunya ketika salah satu dari keduanya cedera. Saat itu, punya dua kiper berkualitas akan sangat terasa manfaatnya.

Memang, kehendak seperti ini terdengar egois. Bisa saja Emi memang ingin hengkang demi menjadi kiper utama dan fans tidak boleh menghalangi. Bisa saja Leno sadar dirinya perlu memberi tempat untuk Emy dan Matt Macey. Terkadang, perkara cinta saja tidak cukup untuk mencegah sebuah perpisahan kalau takdir sudah tersurat.

BACA JUGA Doa Terbaik untuk Mikel Arteta dan Semua Manusia di Sekitar Arsenal atau tulisan Yamadipati Seno lainnya.